Makam Sultan Iskandar Muda di Samping Pendopo Bukanlah Sungguhan

Share:

[FOTO : wasatha.com/Halimah]
Makam Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang saat ini berdiri megah di samping pendopo Gubernur Aceh bukanlah makam yang sesungguhnya. Makam yang asli telah dibumihanguskan oleh Belanda. Demi melestarikan cagar budaya, dibagunlah monumen pengganti makam di daerah pemakaman sebelumnya. Monument ini dibangun pada tahun 1976 oleh PB3.

Bangunan monumen Sultan Iskandar Muda dan keluarga kerajaan saat ini memang tak semegah aslinya. Yang katanya pada masa silam, makam-makam tersebut berdiri megah. Bagian-bagian makam dihiasi emas, berlian, bahkan lazuardi. Oleh sebab itu area pemakaman ini disebut komplek “kandang meuh”.

Makam adalah bukti bahwa seseorang pernah hidup. Makam adalah wujud singgasana terahir manusia. Tetapi, makam Sultan Iskandar Muda bukanlah sekedar kuburan jasad. Makam Sultan Iskandar Muda adalah sejarah Imperium, sejarah peradaban Islam ke-5 terbesar di dunia pada abad ke 17.

Barangkali, inilah salah satu alasan Belanda menghancurkan makam Iskandar Muda ketika perang. Karena mereka tahu, bahwa makam Sultan Iskandar Muda adalah sejarah kemegahan Aceh. Untuk menghapuskan sejarah kajayaan Aceh, maka Belanda menghilangkan jejak sang tokoh fenomenal tersebut. Karena ulah Belanda, makam Iskandar Muda pernah hilang jejaknya kemudian ditemukan berkat bantuan salah seorang bekas pemaisuri sultan Aceh yang bernama Pocut Meurah.

Ketika makam bersejarah dijadikan situs wisata, generasi Aceh dan pengunjung luar Aceh setidaknya dapat menyaksikan sisa-sisa kejayaan yang telah hilang dimakan waktu. Walaupun hanya bangunan monumen, namun keberadaan makam bersejarah selalu dapat menumbuhkan rasa cinta dan patriotisme terhadap Tanah Air.

Digantikan dan tergantikan adalah sebuah keniscayaan. Karena setiap zaman, ada orangnya. Inilah masanya kejayaan Aceh tergantikan oleh situasi zaman saat ini. Kehebatan sosok Iskandar Muda telah digantikan oleh orang-orang seperti kita. 

Apa yang kita lakukan untuk Aceh saat ini akan menjadi sejarah pula dimasa depan. Lalu apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi selanjutnya? Kemajuan ataukan kemunduran? Sejarah itu sedang kita ukir secara alami di Bumi Rencong saat ini. Dan kitalah yang menentukan akan seperti apa sejarah Aceh di masa depan.

Penulis adalah Nur Halimah, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry.