Hijrah dan Persaudaraan


HIJRAHNYA Rasululullah dari Makkah ke Madinah tidak hanya sekedar perpindahan biasa dan bukan pula karena ketakutan Nabi pada penentang-penentangnya, akan tetapi merupakan strategi politik yang cukup mumpuni. 

Melalui strategi ini bisa ditengok dalam literatur sejarah betapa dahsyatnya perkembangan Islam setelah peristiwa Hijrah tersebut.

Salah satu yang paling menonjol yang sejatinya diimani oleh umatnya adalah kelihaian beliau dalam membangun semangat persaudaraan, dimana kaum yang bermigrasi dari Makkah ke Madinah (muhajirin) disambut oleh penduduk lokal Madinah (anshar) dengan sangat antusias dan sukacita, sekalipun belum pernah bertemu wajah sebelumnya, namun persaudaraan antar keduanya terbangun  begitu eratnya. 

Masyarakat Madinah berlomba-lomba untuk memberikan bantuan kepada saudaranya dari Makkah dengan sesuatu apapun yang mereka miliki.

Rekatan persaudaraan yang terjalin kuat  itu tentunya tidak terlepas dari sosok Rasulullah yang begitu apik dalam memerankan dirinya sebagai pemersatu, malahan bukan hanya itu Rasul mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj yang berperang selama puluhan tahun sebelumnya tapi mampu didamaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Semangat persaudaraan yang dibangun oleh Rasululullah pada peristiwa hijrah itu menjadikan Islam sebagai agama yang begitu deras dianut oleh penduduk Madinah kala itu. 

Di samping itu dengan persuadaraan ini pula Islam punya kekuatan politik yang berwibawa dan Rasulullah dinobatkan sebagai pemimpinnya.

Kekuatan politik yang disematkan kepada Rasul tersebut menjadikan begitu mudah Islam berkembang sampai ke pelosok desa. Hal ini tentu saja cukup berbeda dengan saat di Makkah, dimana Nabi Muhammad hanya memiliki otoritas keagamaan dan tidak menggemgam otoritas politik.

Alih-alih untuk berkembang pesat seperti di Madinah, malahan begitu banyak intimidasi, penyiksaan, penindasan, dan lain sebagainya yang dialamatkan kepada pengikutnya.

Mengaca dari semangat Rasul dalam peristiwa hijrah di atas mengesankan kepada kita hari ini umatnya, bahwa jika mau Islam ini berkembang dengan baik maka hal urgen yang mestinya menjadi semangat bersama adalah mengeratkan persuadaraan di antara kita.

Umat Islam tidak boleh terpecah dan terbelah apalagi hanya gara-gara hal kecil. Bila persuadaraan ini telah terbuhul rapi, niscaya tidak sukar memenangkan kontestasi politik dewasa ini sekalipun dengan suhu dan eskalasi yang cukup sengit.

Artinya, persaudaraan menjadi kunci kemajuan Islam seperti yang telah ditorehkan oleh Rasulullah saat di Madinah, karenanya bila ada umat Islam yang enggan apalagi anti terhadap persaudaraan sebenarnya merekalah yang anti Islam, bukan orang-orang yang acap dikata-katai sebagai penghancur Islam dan lain sebagainya.

Mari rekatkan persaudaraan, perkecil yang besar, hilangkan yang kecil buhullah persaudaraan sesama muslim dengan tali-Nya insyaAllah kita akan mendapatkan kejayaan di tengah-tengah masyarakat modern ini.

T. Lembong Misbah, adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry
Hijrah dan Persaudaraan Hijrah dan Persaudaraan Reviewed by Dhiya Urahman on September 14, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.