Oleh : Sucika Hesi Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry
Belakangan ini permainan tebak-tebakan angka sedang viral di media sosial. Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan permainan tersebut. Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman juga ikut memainkannya, termasuk tebak-tebakan umur yang sedang ramai diperbincangkan.
Cara bermainnya sederhana. Seseorang memikirkan satu angka
atau umur di dalam hati, lalu yang lain menebaknya melalui pertanyaan seperti,
“Apakah angkanya di atas 47?” dan pertanyaan serupa. Untuk tebak-tebakan umur,
pertanyaannya sedikit berbeda, misalnya, “Di umur segitu, apakah kamu masih
sekolah?” atau pertanyaan lain yang berkaitan dengan fase kehidupan seseorang.
Permainan berlanjut ketika salah satu teman saya memikirkan
umur 14 tahun. Teman-teman yang lain dengan cepat berhasil menebaknya. Mereka
bertanya, “Di umur segitu, apa kamu masih sekolah?”, “Apa kamu sudah punya
KTP?”, “Apa kamu sudah mulai kuliah?”, dan berbagai pertanyaan lain hingga
akhirnya jawaban umur 14 tahun ditemukan.
Lalu tibalah giliran saya. Saya memikirkan umur 30 tahun,
sementara teman-teman mulai menebak dengan pertanyaan seperti, “Di umur segitu
apakah kamu sudah menikah?”, “Apakah kamu sedang bekerja?”, atau “Apakah kamu
sedang membuka lowongan pekerjaan?”Saya sempat bingung. Memangnya di umur
segitu orang-orang biasanya sedang apa?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya. Sebenarnya,
rutinitas atau kebiasaan yang pasti dimiliki orang dewasa, khususnya yang sudah
melewati masa sekolah, itu seperti apa? Mengapa kegiatan orang dewasa justru
terasa lebih sulit ditebak? Kalau ada template kehidupan, bentuknya seperti
apa?
Ternyata benar, menjadi dewasa bukan sekadar menentukan
ingin bekerja di mana, ingin memiliki rumah seperti apa, ingin menikah atau
tidak, ataupun sekadar ingin mempunyai banyak uang. Menjadi dewasa berarti
memikul tanggung jawab dengan berdiri di atas kaki sendiri, ketika pilihan
hidup sepenuhnya berada di tangan kita.
Coba kita lihat kehidupan manusia sejak lahir hingga usia 23
tahun. Memang setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, tetapi pada
rentang usia tersebut tidak terlalu sulit menebak aktivitas yang sedang
dijalani seseorang. Di masa itu, masyarakat memiliki indikator atau standar
yang relatif seragam tentang tahapan kehidupan.
Kita mengenal anggapan seperti, “Usia satu sampai tiga tahun
masih balita”, “Usia tujuh tahun biasanya mulai masuk Sekolah Dasar”, “Usia 17
tahun waktunya membuat KTP”, “Usia 21 atau 22 tahun biasanya lulus kuliah S1
tepat waktu”, atau “Usia 23 tahun sedang mencari pekerjaan atau melanjutkan
studi ke jenjang berikutnya”.
Lalu mengapa setelah usia 24 tahun semuanya menjadi jauh
lebih sulit ditebak?
Karena pada titik inilah jalan hidup manusia mulai bercabang sangat jauh. Di usia 25 tahun, ada yang masih mencari pekerjaan, ada yang baru menikah, ada yang masih mencari arah hidup, ada yang sudah memiliki beberapa perusahaan, dan ada pula yang mungkin telah lebih dahulu kembali kepada Tuhan. Begitu seterusnya hingga usia lanjut.
Tidak ada lagi satu jawaban mutlak untuk pertanyaan, “Di
umur segini biasanya sedang apa?” Setiap orang memiliki jalan hidupnya
masing-masing.
Ketika tidak ada lagi template yang disediakan masyarakat,
di situlah kedewasaan seseorang diuji. Kita dipaksa untuk menentukan arah
tujuan hidup sendiri. Jika sejak masa remaja atau dewasa awal kita belum
mengetahui ke mana ingin melangkah, maka di masa depan kita akan lebih mudah
cemas saat melihat pencapaian orang lain yang begitu beragam, sementara kita
sendiri belum memiliki pendirian yang jelas.
Menjadi dewasa berarti belajar mandiri untuk menentukan
kapan harus melangkah, kapan harus berhenti, dan kapan harus mundur untuk
mengambil arah yang lebih tepat.
Pada akhirnya, permainan sederhana itu menyadarkan saya
bahwa hidup setelah “kepala dua” bukan lagi soal menebak apa yang sedang
dilakukan orang lain. Hidup adalah tentang seberapa berani kita menentukan arah
perjalanan kita sendiri.
