Pernah tidak merasa capek padahal seharian rasanya tidak melakukan hal berat? Tugas mungkin tidak banyak, pekerjaan rumah biasa saja, bahkan tubuh tidak terlalu lelah. Tapi entah kenapa kepala terasa penuh. Rasanya seperti baru bangun tidur tetapi energi sudah setengah habis. Aneh memang. Yang lelah bukan badan, tetapi pikiran.
Kita hidup di zaman yang dipenuhi kebisingan. Dan yang dimaksud kebisingan di sini bukan hanya suara klakson di jalan, suara mesin kendaraan, atau keramaian pasar. Kebisingan hari ini datang dalam bentuk yang lebih dekat dan lebih diam-diam. Bunyi notifikasi yang muncul setiap beberapa menit, pesan yang harus segera dibalas, video yang terus berganti, berita yang datang tanpa henti, hingga tuntutan untuk selalu mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan.
Dulu, orang mencari informasi ketika mereka membutuhkannya. Sekarang keadaannya terbalik. Informasi justru mencari kita. Baru membuka ponsel beberapa detik, sudah ada rekomendasi video, berita baru, pesan masuk, promosi belanja, sampai konten yang sebenarnya tidak dicari tetapi tetap muncul di layar. Tanpa disadari, otak dipaksa bekerja terus-menerus bahkan saat sedang ingin beristirahat.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang sering berkata, “capek banget”, padahal aktivitas fisiknya tidak terlalu padat. Pikiran kita hampir tidak pernah benar-benar mendapat jeda. Kita bangun dengan melihat ponsel, menjalani hari bersama ponsel, lalu tidur setelah melihat ponsel lagi. Diam mulai terasa aneh. Sunyi terasa asing.
Lucunya, di tengah dunia yang semakin canggih, ketenangan justru berubah menjadi sesuatu yang mahal. Banyak orang rela mengeluarkan uang untuk pergi ke tempat tenang, staycation, healing, atau sekadar mencari tempat yang jauh dari keramaian. Padahal beberapa tahun lalu, duduk santai di teras rumah atau mengobrol tanpa gangguan mungkin sudah cukup membuat seseorang merasa tenang.
Bukan berarti teknologi adalah musuh yang harus disalahkan. Teknologi memang membantu banyak hal. Masalahnya bukan pada keberadaannya, tetapi pada cara kita hidup bersamanya. Kita semakin terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat, serba ramai, dan serba harus direspons saat itu juga. Akibatnya, pikiran seperti tidak diberi kesempatan untuk bernapas.
Mungkin sekarang kita perlu bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali benar-benar menikmati suasana tanpa merasa harus membuka ponsel? Kapan terakhir kali duduk tanpa terganggu bunyi notifikasi? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ketenangan ternyata bukan lagi sekadar kebutuhan kecil. Ia mulai berubah menjadi kemewahan. Dan mungkin, di antara banyak hal yang sedang kita kejar hari ini, rasa tenang adalah salah satu yang diam-diam paling kita rindukan. [Miftahul Jannah]
