Aceh Besar, 3 Mei 2026 — Masjid Tua Indrapuri yang terletak di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, terus menjadi salah satu destinasi wisata religi sekaligus situs sejarah penting yang ramai dikunjungi masyarakat. Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang peradaban di Aceh.
Masjid bersejarah tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1607–1636 M. Uniknya, bangunan masjid didirikan di atas struktur peninggalan masa pra-Islam yang sebelumnya diyakini sebagai kompleks bercorak Hindu. Hal ini menjadikan Masjid Tua Indrapuri sebagai bukti akulturasi budaya yang masih dapat disaksikan hingga kini.
Dari sisi arsitektur, Masjid Tua Indrapuri memiliki ciri khas tersendiri. Bentuk atapnya yang bertingkat menyerupai bangunan tradisional Hindu menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Perpaduan unsur budaya lama dengan nilai-nilai Islam menjadikan masjid ini memiliki nilai sejarah dan estetika yang tinggi.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga pernah mencatat peran penting dalam sejarah Kesultanan Aceh. Pada tahun 1878 M, Masjid Tua Indrapuri disebut pernah digunakan dalam prosesi penguatan Sultan Muhammad Daud Syah sebagai Sultan Aceh terakhir.
Hingga awal Mei 2026, masjid ini masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan dan tetap menjadi tujuan wisata religi. Pengunjung yang datang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat lokal, pelajar, hingga tokoh masyarakat yang ingin melihat langsung jejak sejarah Aceh.
Salah seorang pengunjung, Lisa Rahmi (31), mengaku tertarik mengunjungi Masjid Tua Indrapuri karena nilai sejarah yang dimilikinya.
“Tempat ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga menjadi pengingat tentang perjalanan sejarah Aceh dan penyebaran Islam di masa lalu,” ujarnya.
Keberadaan Masjid Tua Indrapuri diharapkan terus terjaga sebagai warisan budaya dan religi yang memiliki nilai penting bagi generasi masa kini maupun masa depan. Dengan perawatan yang baik, situs bersejarah ini akan tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Aceh dari masa ke masa. [Juliana]
