Banda Aceh - Ekowisata berbasis konservasi merupakan bentuk pengembangan
pariwisata yang tidak semata berorientasi pada hiburan, tetapi juga pada
pelestarian alam dan edukasi lingkungan. Salah satu contoh penerapannya
terdapat pada ekowisata konservasi Gajah Sumatera di Kabupaten Langkat,
Sumatera Utara. Kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang menyatu dengan
alam sekaligus memperkenalkan pentingnya konservasi satwa dan keberlanjutan
lingkungan. (02/01/2026)
Berdasarkan pengalaman salah satu pengunjung pada bulan November
2025, ekowisata ini memberikan kesan awal yang menyenangkan dan beragam. Dalam
satu kawasan, wisatawan dapat menikmati aktivitas seperti tubing river,
tracking jungle, memberi makan dan memandikan gajah, serta mengunjungi Sungai
Buluh yang memiliki air sangat jernih. Keberadaan air terjun dan pemandian air
panas dalam satu wilayah yang sama menjadikan destinasi ini menawarkan
pengalaman wisata yang lengkap dan variatif tanpa perlu berpindah lokasi.
Dari sisi fasilitas, kawasan konservasi ini tergolong memadai dan
ramah bagi wisatawan Muslim. Tersedia penginapan seperti villa, mushola dengan
kondisi cukup baik meskipun tempat wudhu masih terbuka, serta kamar mandi umum
yang bersih, gratis, dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Banyak
wisatawan muslim yang memilih sholat di tepi sungai, menciptakan pengalaman
spiritual yang menyatu dengan alam. Akses makanan halal relatif mudah, bahkan
pengunjung dapat memesan hidangan khas dengan penyajian unik melalui pihak
konservasi. Masyarakat lokal yang mayoritas berasal dari suku Karo turut
berperan dalam menjaga keramahan serta keaslian budaya setempat.
Selain sebagai wisata alam, kawasan ini juga menghadirkan
pengalaman edukatif dan spiritual. Hal tersebut diperkuat dengan adanya paket
perjalanan tematik, seperti Trip “Langkah Jelita” yang dikhususkan bagi
perempuan. Dengan biaya yang terjangkau dan mencakup transportasi serta
konsumsi, paket ini mencerminkan pengelolaan wisata yang inklusif, aman, dan
memberikan ruang nyaman bagi perempuan untuk menikmati alam secara kolektif.
Dalam nilai-nilai Islam, ekowisata konservasi ini dapat dimaknai
sebagai sarana dakwah lingkungan yang kontekstual. Interaksi langsung dengan
alam dan satwa menumbuhkan kesadaran akan peran manusia sebagai khalifah di
bumi, yakni menjaga dan melestarikan ciptaan Allah. Dengan demikian, kegiatan
wisata tidak hanya berfungsi sebagai rekreasi, tetapi juga sebagai media
refleksi spiritual dan pembelajaran tentang tanggung jawab ekologis. Secara
keseluruhan, ekowisata konservasi Gajah Sumatera di Langkat bukan sekadar
destinasi wisata, melainkan ruang integrasi antara konservasi alam, budaya
lokal, dan nilai-nilai keislaman. Pengelolaan serta publikasi yang tepat
berpotensi menjadikan kawasan ini sebagai contoh pengembangan pariwisata
berkelanjutan yang bernilai edukatif dan religius. (Aida Rizkany Ash-Shofa)
