Banda Aceh - Festival budaya Jepang BUNKASAI 2025 yang berlangsung pada 23–24 Agustus di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, tak hanya menyuguhkan seni dan budaya Jepang, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas budaya. Salah satu yang menarik perhatian adalah partisipasi Ari Maulana, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry, yang tengah magang di Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Dalam festival tersebut, Ari ikut menjaga stand
pameran BAST ANRI yang mengusung tema “Jejak Waktu: Aceh dalam Lanskap
Ingatan”. Stand ini menampilkan berbagai arsip penting terkait peristiwa
tsunami Aceh 2004, mulai dari foto, rekaman, hingga dokumen bersejarah yang
merekam perjalanan Aceh dari bencana menuju kebangkitan.
“Saya sangat bangga bisa ikut berpartisipasi dalam
kegiatan BUNKASAI ini. Selain menambah pengalaman magang, saya juga bisa
melihat langsung kebudayaan Jepang dan mendapat kesempatan berfoto bersama
Konsul Jenderal Jepang di Medan, Bapak Furugori Toru,” ujar Ari Maulana kepada
wartawan, Minggu (24/8).
Kehadiran Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori
Toru, yang menyempatkan diri mengunjungi stand BAST – ANRI, menjadi momen
berkesan tersendiri bagi Ari. Ia menilai, melalui arsip, generasi muda dapat
menyampaikan pesan penting tentang ingatan kolektif dan pembelajaran dari
bencana besar yang pernah melanda Aceh.
Festival BUNKASAI 2025 sendiri menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pertunjukan seni, seminar studi Jepang, hingga pameran komunitas lokal seperti Museum Gunung Seulawah dan Aceh Community Art. Kehadiran arsip tsunami dalam festival ini menunjukkan bahwa pertemuan budaya tak hanya soal seni, tetapi juga refleksi sejarah dan memori masyarakat. []