Iklan

Iklan

Ijazah Adik di USK Dijemput Kakak

8/28/25, 22:06 WIB Last Updated 2025-08-28T15:06:43Z

Rektor USK, Prof. Marwan bersama Dekan FK USK, Dr. Safrizal Rahman bersama Nurul Purwanti, kakak dari almarhum Fachrul Razi saat wisuda ke-166 USK di Gedung AAC Dayan Dawood, Kamis (28/08/2025). (Foto: Humas USK).

Banda Aceh - Nurul Purwanti tak kuasa menahan air matanya saat Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Marwan menyerahkan ijazah adiknya pada prosesi Wisuda USK di Gedung AAC Dayan Dawood, pada Kamis (28/08/2025).


Kehadiran Nurul hari itu menampilkan potret kesetiaan seorang kakak yang berjuang untuk adik-adiknya. Hari itu, Nurul menggantikan adiknya yang bernama Fachrul Razi, Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran USK ini meninggal dunia lima hari menjelang Yudisium.


Nurul hadir dengan mengenakan kebaya saat menerima ijazah adiknya itu. Kepergian Fachrul memang telah meninggalkan duka yang mendalam dalam dirinya. Sebab Nurul paham betul, ijazah kedokteran ini adalah impian besar adiknya selama ini.


Nurul adalah saksi hidup betapa gigihnya adik bungsunya ini untuk menjadi dokter.


“Ia adalah anak yang baik. Kami semua tahu, betapa besar tekadnya untuk menjadi dokter,” kenang Nurul.


Fachrul  Razi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir pada 20 Mei 2021. Setelah menamatkan studinya di SMAN 1 Arongan Lambalek, Meulaboh, Fachrul melanjutkan studinya di FKG USK.

 

Selama di USK, Fachrul berhasil meraih beasiswa bidikmisi sejak awal kuliah. Kesempatan beasiswa pendidikan itu dirinya manfaatkan sebaik mungkin untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.


Nurul bercerita, sejak ibunya meninggal dunia pada tahun 2017, Fachrul masih duduk di bangku SMA. Sementara ayah mereka yang sakit stroke, tinggal jauh bersama abang pertamanya di Jakarta.  Karena itulah,  Nurul menjadi Kakak sekaligus Ibu bagi adik-adiknya itu.


“Lima hari sebelum Fachrul meninggal, ia sempat pulang ke kampung,” ungkap Nurul. Kampung itu adalah Desa Lhong, Aceh Besar, tempat keluarga besar mereka tinggal.


Ketika itu, Nurul menyambutnya dengan memasak rendang Padang kesukaan Fachrul. Mereka tertawa bersama, bercanda dengan anak-anak sang kakak, bahkan sempat saling peluk saat berpisah.


“Wajahnya bersih sekali. Bajunya wangi, padahal dia jarang pakai parfum,” ucap Nurul.


Hari itu, tak ada tanda-tanda sakit. Namun Fachrul memang tampak lebih patuh, lebih diam dari biasanya. Bahkan ponsel yang biasanya tak lepas dari genggaman, ia letakkan dan memilih bercengkerama.


Fachrul sempat berpesan“Kak, jaga anak-anak kakak baik-baik ya. Mereka harus kuliah seperti adek.” Nurul menjawab dengan senyum, “Adek saja kakak kuliahkan, apalagi anak sendiri.”


Setelah itu, pada pagi hari tepatnya pukul 11 siang, Fachrul mengirim pesan via WA. “Kak, adek menggigil. Adek sudah diinfus di RS USK.”


Nurul lalu menghubungi teman-teman yang mendampingi. Beberapa jam kemudian, Fachrul kembali memberi kabar, “Adek sudah enakan, Kak.”

 

Sahabatnya, Aska, mengonfirmasi Fachrul sudah lepas infus dan dokter mengatakan ia cukup sehat untuk beristirahat. Ia bahkan sempat makan makanan yang dibawakan temannya.


Namun menjelang magrib, perawat menemukan Fachrul sudah tidak sadarkan diri. Lima menit kemudian, Aska kembali menghubungi kakaknya dengan kabar memilukan.


“Kak, Fachrul sudah tidak ada. Kakak harus banyak sabar dan berdoa, ya.”


Saat itulah jantung Nurul berdegup kencang. Dunia seakan runtuh.  Nurul pun seketika tak kuasa menahan air matanya. Semua kenangan tentang Fachrul pun menguap dalam kepalanya.

 

Nurul ingat bagaimana ketika kecil dulu, dialah yang memandikan Fachrul. Nurul mendukung penuh cita-citanya untuk menjadi dokter. Ia membantu semampunya. Sebab setelah ibunya meninggal, Nurul berjanji untuk menjaga adik-adiknya termasuk Fachrul sampai berhasil.  Bahkan pesan terakhir ibunya menjelang ajal selalu terngiang: “Jaga Fachrul. Bantu dia kuliah. Dia pintar dan punya cita-cita jadi dokter,” Nurul kembali berlinang air mata saat mengenang kalimat itu.


Setelah itu, Nurul dan suaminya bahu membahu mengusahakan pendidikan Fachrul, menyemangatinya di tengah kekhawatiran biaya, dan meyakinkannya bahwa mereka akan selalu ada untuknya.


Kini, impian Fachrul untuk diwisuda telah terwujud, meski tanpa kehadirannya secara fisik. Saat namanya dipanggil di atas panggung Gedung AAC Dayan Dawood, suasana menjadi sunyi. Nurul naik dengan langkah gontai, matanya sembab, menggenggam erat ijazah sang adik.


Ijazah itu bukan sekadar dokumen akademik, melainkan bukti dari cinta, pengorbanan, dan janji seorang kakak kepada adik tercinta sekaligus kepada ibunya yang telah tiada. []

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ijazah Adik di USK Dijemput Kakak

Terkini

Topik Populer

Iklan