-->

Iklan

Iklan

Jangan Menyerah, Sengsara Membawa Berkah

7/03/20, 17:18 WIB Last Updated 2020-07-04T11:59:49Z

Kedua orang tua sudah tiada, Ayah meninggal dalam keadaan sakit saat saya kuliah semester tujuh dan mulai bekerja untuk mencari kuliah mulai semester satu sambil membantu ayah bekerja pada sebuah perusahaan Koperasi, dari hasil bekerja itu saya dapat membiayai kuliah dengan harapan ayah dapat menyaksikan saat wisuda, tapi takdir berkata lain wisudaku hanya didampingi sang ibunda.

Pekerjaan berpindah-pindah sudah menjadi tradisi, pekerjaan tidak menetap saya mempunyai dua anak saat itu,pikiran bingung karena harus mencari nafkah untuk membiayai buah hati juga istri.

Setiap malam kegelisahan selalui menyelimuti, memikirkan pekerjaan apalagi untuk hari esok. Hari yang cerah, kubuka jendela untuk melihat sejuknya udara pagi, duduk sambil minum secangkir kopi sambil mendengarkan radio dan membaca Koran, kudapati sebuah lowongan pekerjaan di salah satu hotel, berbekal semangat saya beranjak menuju tempat penerimaan pekerjaan dengan harapan diterima.

Tiba ditempat langsung menjumpai panitia penerimaan, sambil menunggu giliran wawancara, keringat dingin tak lagi terbendung. nomor selanjutnya terdengar suara memanggil bersedu sedu, sayapun bangkit melangkah menuju ruangan wawancara.

“tok..tok..tok” tanganku mengayunkan pada dinding pintu

“masuk,” panggil suara itu

Banyak pertanyaan yang diajukan yang akhirnya diterima sebagai security dengan sedikit kekecewaan karena tidak sesuai dengan pendidikan sarjana yang saya emban, “tak mengapalah kataku dalam hati” sayapun berpamitan dan pulang sambil menyumpai isteri yang penuh harapan ada pekerjaan.

“saya diterima,tetapi hanya sebagai security,” jelasku

“Tidak apa yang penting ada pekerjaan,” ucapnya.

Esok harinya pekerjaan sudah menunggu, dengan hati ikhlas saya jalani penuh semangat. Setahun tidak terasa pekerjaan sebagai security terjalin dengan baik, tidak ada perubahan dengan gaji 250.000 (duaratus lima puluh ribu rupiah),perlahan –lahan saya meninggalkan pekerjaan itu. Pengangguran kembali terjadi tetapi tidak terlalu lama, ada tetangga memberitahukan ada sebuah perusahaan menerima karyawan.

Alhasil walau tidak sesuai dengan gelar yang saya miliki (Sarjana Hukum), tiga tahun waktu berlalu tidak terasa,anak bertambah umurnya, disamping  bekerja , isteri menawarkan untuk kuliah lagi dan mengambil gelar pendidikan , tawaran isteripun diterima untuk melanjutkan pendidikan, terjalani sampai menamatkan pendidikan dengan tujuan agar lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yaitu seorang guru dengan jurusan Bahasa Indonesia.

Tidak terpikir untuk mendapat pekerjaan dimasa yang akan datang, karena usia hampir mendekati untuk mencoba penerimaan Pegawai Negeri Sipil.

Hari minggu tahun 2004, suasana ramai tidak seperti biasanya, dikota dan dipantai ramai sekali karena bertepatan dengan hari libur, tiba tiba terdengar Allahu Akbar beberapa kali, ada apa “dalam hati bertanya , tiba tiba pikiranku pusing perut terasa mual, apakah aku pening pinta dalam hati, rupanya bukan pening, lantai bergetar dan bergoyang-goyang kekanan dan kiri terkadang kedepan dan kebelakang , gempa!!! teriakku…manusia berhamburan keluar dari dalam rumah sambil menyebut nama Allahuakbar..Allahuakbar…bumi bergoncang berhenti sejenak, air laut tumapah kedaratan menghanyutkan apa yang ada dibumi banyak yang kehilangan sanak saudara dan orang tua.

Semenjak itu banyak yang kehilangan pekerjaan karna korban gempa, tepat tahun 2005 pemerintah membuka lowongan pekerjaan untuk pegawai negeri secara besar-besaran karena disetiap instansi banyak yang kosong, kebetulan jurusan yang saya miliki yaitu jurusan bahasa Indonesia termasuk peminatnya sangat sedikit, saya pun mengajukan permohonan untuk ikut tes pegawai negeri untuk menjadi seorang guru.

Selesai mengikuti testing pikiran mulai kacau ,kerena dalam pikiran penuh khawatir “lulus atau tidak lulus”,hari terus berganti tibalah saatnya pengumuman hasil tes CPNS, sambil duduk diwarung kopi membuka selebaran Koran, saya melompat kegirangan sambil berteriak “aku lulus,aku lulus” berita ini terdengar kepada orang tua dan isteriku, dengan gembiranya orang tua dan isteriku  mendengar berita tersebut.

Aku menjadi  seorang yang optimis dan bukan pesimis lagi, kegembiraan ini saya bersyukur kepada Allah,swt yang telah mendengar doaku selama ini, hari hari berlalu saya menjadi seorang guru pada salah satu sekolah SMA yang dahulunya saya alumni sekolah tersebut.

Hari demi hari kulalui membimbing, mengajarkan kepada para siswa, saya menikmati menjadi seorang guru mungkin ini ada aliran darah dari orang tua saya yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah dasar. Kebanggan ini saya tunjukan kepada siswa/siswi tak pernah jenuh dalam membimbing dan mengajrakan ilmu ilmu yang bermanfaat.

Dalam beberapa tahun kujalani tantangan sebagai seorang guru mulai terasa terutama dari akhlak-akhlak siswa/siswi, tetapi dengan penuh kesabaran rintangan itu terlewati , sungguh mulia jasa guru yang selalu menerangi anak didiknya penuh dengan ke ikhlasan dan kesabaran, guru pahlawan tanpa tanda jahasa, tanpa bintang-bintang dipundak, yang hanya dapat diberikan adalah senyuman dan senyuman,sungguh mulia jasamu. 

[Tazkir,S.Pd adalah Guru SMA Negeri 1 Bukit, Bener Meriah]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Jangan Menyerah, Sengsara Membawa Berkah

Terkini

Topik Populer

Iklan