Planning Cantik Agar Ramadhan Tetap Asik

Share:
Ramadhan tetap asik, walaupun diluar rumah kita terusik. Ramadhan tetap akan asik, walaupun takjil di masak oleh ibu atau istri yang berkreasi. Ramadhan tetap asik, selama kita senantiasa membuat planning cantik. Saatnya Ramadhan yang tak biasa bernuasa luar biasa. Dengan sedikit sentuhan perencanaan yang maksimal demi mencapai ibadah yang optimal


Oleh: Uli Akbar


Sebagai seorang muslim kita menyandang status sebagai sebaik-baik ummat. Muslim sejati tak mau mengekor selalu pada orang lain. Muslim sejati merupakan sosok pribadi tangguh yang teguh memegang prinsip-prinsip kebenaran. Impian-impian nya selalu berpijak pada asas Ilahi. Itulah janji yang senantiasa kita lantunkan setiap shalat kita, "inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamiin". Segalanya hanya untuk Allah semata.

Inilah yang membedakan muslim sejati dengan yang bukan. Muslim sejati selalu mencari dan menempuh jalan yang haq demi menggapai impiannya, baik sebagai karyawan, pelajar, mahasiswa, dan sebagainya. Tidak buta oleh ambisi dan tujuan sehingga melakukan segala cara baik dan buruk. Sehingga pada titik tertentu, yang curang akan merasakan fase "stress berat" kala impiannya belum bisa dicapai menjadi sebuah realitas.

Hasan Al-Banna pernah berucap,

Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari 

Pernyataan obsesif ini seakan mengajak seluruh kalangan muslimin untuk senantiasa bermimpi indah sebelum berikhtiar. Mimpi indah yang diinginkan tentu saja bukan sebatas angan-angan kosong atau seperti mimpi di siang bolong. Ia ibarat dinamo yang mampu memberikan kekuatan dahsyat dalam diri setiap insan. Dengannya, setiap manusia diajak melangkah maju dan terus berpacu melintasi waktu.

Inilah model mimpi yang dapat memerankan peran optimalnya sebagai obat. Obat dari segala macam hal yang mampu menjatuhkan martabat manusia. Mulai dari kemalasan, ketidakberdayaan, keputusasaan, kebiasaan menggantungkan nasib kepada orang lain, dan berbagai penyakit jiwa lainnya yang menghantarkan manusia kepada keterpurukan.

Di tengah teriakan #dirumahaja membumbung tinggi di angkasa raya, jargon bersama melawan corona menggema disetiap sudut kota, manakala manusia menutup wajah bukan karena seorang ninja. Tapi keadaanlah yang memaksa para penghuni jagat raya untuk tetap bertahan di kediamannya. Jalanan tak lagi ramai oleh pengendara, riuk-pikuk kota tak lagi menyapa sementara. Lagi-lagi sang mahkluk nano micro berhasil melumpuhkan sesaat sesaknya kota.

Ramadhan sudah empat belas hari menyapa, tapi pasien masih terus saja bertambah kouta. Mencekam? Belum saatnya dikata iya. Muslim sejati tak akan terusik oleh sang pengembara berukuran nanomicro yang akrab disapa corona. Ramadhan akan tetap asik walaupun di rumah saja. Menghabiskan waktu bercengkrama bersama keluarga dengan planning cantik setiap harinya. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi ter-planning rapi penuh arti setiap hari. Muslim sejati akan berada lebih pada tingkat yang biasa.

Sebagaimana Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga bagian, yaitu : Puasa Umum, dimana puasa itu hanya sekedar menahan lapar, dahaga dan berjima'. Namun tak ada peningkatan dalam hal ibadah, tak ada penambahan dalam hal ketaatan. Yang ada hanyalah nuansa biasa-biasa saja. Golongan yang kedua, Puasanya orang-orang istimewa. Hari-harinya penuh arti dengan aktivitas ibadah, setiap detik amalan bertambah, mata terjaga dari yang melihat yang tak pantas, lisan tak tersirat bahasa ghibah dan dusta, anggota tubuh senantiasa berpacu dengan waktu berlomba-lomba mengumpulkan pundi-pundi amal sepanjang hari tampa jenuh.

Dan pada tingkatan tertinggi, puasa orang-orang paling istimewa. Inilah maqamnya para ambiya dan para Rasul serta sahabat dan pengikutnya. Tak hanya mampu menahan tuntutan fisik saja, tak hanya sebatas menjaga anggota tubuh sehingga tak berdosa. Tetapi juga ditambah dengan keteguhan menjaga hati dari virus-virus yang bisa terjangkiti kapan saja. Bisa saja ujub dan ria menyerang, dendam menghadang, hingga iri dan dengki pun acapkali datang tak di undang.

Ramadhan tetap asik, walaupun diluar rumah kita terusik. Ramadhan tetap akan asik, walaupun takjil di masak oleh ibu atau istri yang berkreasi. Ramadhan tetap asik, selama kita senantiasa membuat planning cantik. Saatnya Ramadhan yang tak biasa bernuasa luar biasa. Dengan sedikit sentuhan perencanaan yang maksimal demi mencapai ibadah yang optimal.

Redaksi Dunia Islam Wasatha.com

No comments