Petani Tasik dan Subang Sedekah Ratusan Ton Beras untuk Warga Miskin

Share:
Para petani di Tasikmalaya dan Subang mengumpulkan bantuan untuk warga miskin yang tidak bisa makan di saat pandemi Covid-19


Dok. Sinergi Foundation - Anadolu Agency)


WASATHA.COM, JAKARTA - Mata Gugun Gunawan terbelalak membaca berita pemulung yang mencuri beras untuk anak dan istrinya di tengah pandemi Covid-19.

Gugun yang merupakan petani Tasikmalaya semakin gundah ketika tahu sang pemulung hanya makan berlauk cabai dengan beras hasil curian itu.

Pria berumur 37 tahun ini kemudian tergerak membuat gerakan lumbung pangan bagi warga miskin atau duafa.  Inisiatifnya juga diniatkan untuk mencegah agar tidak terjadi kelaparan di wilayahnya, khusus di masa wabah Covid-19.

Gugun bersama rekan-rekannya rela memotong keuntungan hingga sepertiga harga demi membantu sesama. Ada sekitar 60 orang petani dan buruh tani bergabung dalam gerakan ini.

“Ini sedekah kami, walaupun hidup kami juga jauh dari layak,” ujar Gugun kepada Anadolu Agency di Tasikmalaya, pada Selasa.

Gugun mengatakan para petani di Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya sudah sejak 4-5 tahun aktif bersedekah menyiapkan lumbung desa bagi warga tak mampu.

Setiap panen, mereka bisa menghasilkan 60 ton yang akan dibagikan kepada warga miskin.

Kini, di masa pandemi Covid-19, Gugun yang merupakan Ketua Lumbung Desa Cigalontang itu telah menyiapkan 250 ton beras bagi warga.

“Dulu kami mustahik (penerima zakat), sekarang kami muzakki (pemberi zakat),” canda Gugun.

Selain itu, kata Gugun, para petani juga mengumpulkan bantuan berupa uang. Jumlahnya beragam dari Rp100, Rp1000 hingga Rp5000.

Gugun tidak mematok karena banyak petani yang juga masih hidup susah. Uang-uang itu nantinya akan disalurkan bagi warga miskin pedesaan.

“Kami menamakan gerakan ini jemput sedekah,” kata dia.

Gugun menyadari bantuan pemerintah tidak semua menjangkau warga miskin. Kondisi ini rentan menimbulkan kecemburuan sosial di tengah warga.

“Masih banyak yang belum menerima, walaupun mereka berhak. Ini tugas kita untuk membantu mereka,” ujar dia.

Gugun kini aktif menyalurkan bantuan kepada para lansia, anak yatim, guru, dan pekerja informal.

Para petani yang tergabung dalam Lumbung Desa Cigalontang ini memberi 3 kilogram (kg) per orang.

Aksi bagi-bagi beras gratis ini ternyata tidak hanya dilakukan Gugun.

Caresin Khoeruddin, 44, petani asal Subang, kini juga berjibaku menyiapkan beras untuk disalurkan kepada warga terdampak covid-19.

Bersama 50 petani lainnya, Caresin menyiapkan 60 ton beras untuk warga terdampak Covid-19.

Caresin menyampaikan para petani ingin memiliki sumbangsih terhadap warga miskin yang kesulitan pangan akibat wabah virus korona.

Apalagi, kata dia, wabah virus korona telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

“Kita saling membantu, apapun kita akan lakukan,” ujar dia kepada Anadolu Agency.

Caresin mengatakan, hasil dari panen beras ini pun langsung dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga bantuan sosial, seperti Sinergi Foundation, Dompet Dhuafa Jakarta, dan Kampung Sedekah.

“Ini zakat kami. Zakat pertanian,” ucap Caresin.

Bantuan ini pun disalurkan langsung ke wilayah Subang, Cianjur, Bogor, dan Jakarta. Bantuan ini juga menembus warga miskin perkotaan yang sangat merasakan dampak korona.

“Dari kemarin, kita sudah mulai salurkan kepada warga,” ujar Caresin.

Target 1.000 ton
Salah satu lembaga yang menjadi mitra para petani adalah lembaga zakat Sinergi Foundation.

Koordinator program Lumbung Desa Sinergi Foundation Eggi Ginanjar menyampaikan lembaganya menargetkan memasok 1000 ton beras gratis kepada para dhuafa selama pandemi Covid-19.

Beras-beras itu berasal dari para petani di Tasikmalaya, Subang, dan Garut, yang mereka bina selama ini dari hasil zakat para donatur.

“Para petani sudah terbiasa menyisihkan sepertiga hasil keuntungan untuk fakir miskin,” ujar dia saat dihubungi Anadolu Agency.

Dari 1.000 ton itu, kata Eggi, beras para petani akan disalurkan kepada sekitar 2.185 kepala keluarga.

“Ini hanya untuk bulan Ramadan saja dan akan terus berlanjut selama wabah virus korona,” ujar Eggi.

Eggi menyadari masa pandemi diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga para duafa menjerit.

Selain kehilangan pekerjaan, mereka juga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak memiliki penghasilan.

“Satu kilogram beras saja, amat berharga untuk mereka bertahan hidup,” kata Eggi.

Bahkan Eggi menemui banyak warga miskin kota di Bandung yang kekurangan pangan.

“Dari petani untuk negeri, kita sediakan beras gratis untuk duafa terdampak Covid-19,” tukas dia.

Di tengah kondisi darurat pandemi seperti sekarang, kata Eggi, satu butir beras menjadi barang mahal bagi masyarakat miskin. Padahal, mendapatkan pangan yang baik dan berkualitas adalah hak dasar semua orang.

"Kaya, miskin, tua, maupun muda," kata dia.

Sumber: Anadolu Agency

No comments