Corona dan Segudang Problematika

Share:
Illustrasi. (foto: unsplash)
Untuk bapak Presiden, dengarkan suara rakyatmu. Mereka penghantar doa kesuksesan visi dan misi mu. Jika rakyat sejahtera maka tidak ada lagi yang membandel dalam mewujudkan Indonesia aman terbebas dari virus mematikan.  


Oleh Sa’adatul Abadiah

WASATHA.COM - Pasien positif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia yang telah berhasil sembuh kembali bertambah setiap hari nya. Akan tetapi, penularan virus corona di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Penambahan kesembuhan itu, tidak sebanding dengan angka kasus positif baru yang setiap hari memperlihatkan angka lonjakan signifikan.

Sementara saat ini episentrum utama penyebaran virus Corona di Indonesia masih berada di DKI Jakarta yang memiliki jumlah kasus terbanyak diantara 34 provinsi. Meskipun demikian, angka kasus di sejumlah provinsi lain juga secara konsisten terus menanjak.

Selain menciptakan angka kematian, Corona secara tidak langsung sudah memberikan impact (dampak) terhadap relasi sosial dan ekonomi. Di beberapa negara, mereka telah memutuskan berbagai kebijakan domestik untuk mencegah penularannya yang sudah terkena imbas dari meluasnya pandemi ini.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menjadi pandemi internasional. Dikutip dari Jogloabang (20/4/2020), hal tersebut telah diumumkan oleh World Health Organization (WHO), organisasi kesehatan dunia pada tanggal 11 Maret 2020. Artinya, negara-negara di seluruh dunia harus merespon, mencegah serta menangani pandemi Corona.

Berbeda dengan negara lainnya yang telah memberlakukan lockdown. Saat ini, Indonesia masih menggunakan Social Distancing atau Physical Distancing dan PSBB di wilayah-wilayah episentrum utama sebagai langkah awal memutuskan mata rantai penularan penyebaran virus tersebut.

Beragam kebijakan tersebut tentunya memiliki value (nilai) yang subtansialnya untuk melindungi seluruh umat manusia.

Selain itu, pemerintah juga melakukan segala upaya dengan memfasilitasi sejumlah rumah sakit (RS) rujukan, mempersiapkan segala peralatan alat pelindung diri (APD) untuk para tim medis dan relawan  yang bertugas di garda terdepan menangani pasien yang terjangkit Corona.

Melihat permasalahan penyebaran Corona yang sudah semakin luas dan terus meningkat dengan jumlah kasus maupun jumlah kematian yang terus bertambah, pemerintah pun mengambil sejumlah sikap.

Pemerintah menjawab salah satunya dengan PP 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dan dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan persetujuan Menteri Kesehatan.

Penetapan PP 21 tahun 2020 tentang PSBB yaitu dalam rangka percepatan penanganan wabah Corona, ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31 Maret 2020 oleh Presiden Joko Widodo.

Keputusan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi wabah Corona ini tentu telah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sikap kehati-hatian.

The Real Hero

Sementara itu, dokter menjadi salah satu pekerjaan yang hebat, mereka layak disebut “the real hero”. Di saat yang lain sedang berdiam diri di rumah dan melakukan kegiatan secara daring, justru mereka para tim medis maju mempertaruhkan nyawa dan diri mereka sendiri untuk menghadapi bahaya yang mengancam kemanusiaan.

Penulis salut atas pengabdian mereka kepada kemanusiaan, jauh melebihi panggilan tugas. Walaupun harus meninggalkan keluarga, mereka tetap berikhlas hati membantu dengan segenap daya dan upaya dengan risiko yang sangat tinggi.

Tidak sedikit tim medis yang gugur karena Corona. Selain memberikan duka bagi keluarga, nestapa juga dirasakan karena jenazah ditolak oleh warga. Sangat ironis bukan?

Mengapa hal itu terjadi? Penulis menyikapi akibat dari beberapa alat yang melindungi diri dari virus seperti Masker, Hand Sanitizer, dan APD langka.

Bukan hanya kalangan masyarakat biasa yang terkena imbasnya, tetapi para tim medis yang bertugas sebagai penanggulangan penyakit ini pun ikut terkena. Banyak sekali rumah sakit yang kekurangan alat untuk melindungi diri.

Dalam kesempatan ini, tidak lupa penulis sampaikan untuk mereka yang mampu, terimakasih telah berpartisipasi membantu memberikan bantuan dan komitmen terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan yang agung.


Penyakit dan Problematika

Hari ini ibu sedang lara, merintih dan berdo'a. Wabah  Corona telah mengguncang seluruh dunia. Hadirnya ia di bumi pertiwi ini menjadi problematika terbesar yang dirasakan sejumlah umat manusia.

Tidak hanya menimbulkan penyakit yang mematikan, namun kesejahteraan masyarakat ikut terganggu. Kehidupan normal tidak berjalan mulus, segala bentuk aktivitas yang dulu bisa dilakukan tanpa Batasan, kini terbelenggu dalam sejumlah aturan demi memberantas penyebaran virus.

Segala keluh kesah terus dilemparkan oleh sejumlah penduduk bumi pertiwi. Mulai dari kotroversi dari segala kebijakan-kebijakan aturan yang menyebabkan hilangnya mata pencarian kalangan bawah, pengorbanan besar dari para tim medis, hingga perseteruan batin antara mahasiswa dan dosen.

Dalam kondisi yang genting ini, mau tidak mau membuat segala aktivitas harus dilakukan secara daring, termasuk intruksi peralihan belajar mengajar.

Segala bentuk belajar mengajar sudah diwajibkan daring. Pasalnya ini menjadi suatu hal baru. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sejumlah kampus/sekolah di Indonesia sudah merealisasikan kebijakan tersebut. Masing-masing Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta mengiyakan untuk memberhentikan seluruh mahasiswa kuliah secara tatap muka, tetapi dilanjutkan dengan kuliah daring. Hal tersebut adalah salah satu upaya membantu dalam meminimalisir penularan Corona.

Awalnya kebijakan itu disambut baik oleh seluruh mahasiswa di sejumlah kampus. Akan tetapi seiring waktu berjalan, akibat dari strategi untuk melaksanakan pembelajaran daring masih sangat terbatas, sejumlah dosen akhirnya menentukan lagkah-langkah uji coba dalam perkulihan daring.

Akhirnya mahasiswa pun merasakan pilihan langkah pembelajaran daring ini lebih terkesan melulu pada pemberian tugas dan deadline. Tidak sedikit yang mengeluhkan kegundahannya dengan mengupload beragam satire, meme, meluapkan kekesalannya dengan tugas yang harus dituntaskan.

Memang perkuliahan daring tidak semudah yang diklaim pada umumnya. Seharusnya di tengah industri revolusi 4.0 pembelajaran daring bukan suatu hal yang asing lagi.

Namun faktanya, di Indonesia pembelajaran daring dalam pengaplikasiannya sangat jauh berbeda dengan negara lain.

Dalam hal ini, baik dosen maupun mahasiswa semua dibebankan dengan tanggung jawab. Mahasiswa berkewajiban mengikuti prosedur perkuliahan, dan dosen berkewajiban sebagai pembimbing pengajar yang mendapatkan amanah untuk menjalankan kuliah daring.

Terlepas dari semua persepsi yang selama ini timbul dari masing-masing individu, hakikatnya tugas kuliah tetap ada, baik di perkuliahan daring atau pun tidak.

Disini kita hanya perlu mengatur pola emosi dan kesiapan untuk konsekuensi kuliah daring. Sampaikan dengan jelas dan sopan jika ada kendala. Alhasil antara mahasiswa dan dosen tidak memberatkan satu sama lain di tengah pandemi seperti ini.

Sementara di lain hal, permasalahan ekonomi juga ikut memberatkan kalangan strata bawah, penulis sangat berharap ketegasan pemerintah segera dilakukan. Negara memiliki wewenang untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia.

Hal ini sangat diperlukan dan harus segera diatasi sebelum banyak korban berjatuhan akibat merana kelaparan. Miris, karena bukan Corona saja yang menjadi penyebab kematian.

Persoalan itu terbukti dengan adanya kasus kematian seorang ibu rumah tangga di Kota Serang, Banten. Ia meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat pandemi Corona.

Korban bersama keluarga menahan lapar selama dua hari hanya dengan meminum air minum galon, demikian dilansir inews.id.

Solusi

Untuk bapak Presiden, dengarkan suara rakyatmu. Mereka penghantar doa kesuksesan visi dan misi mu. Jika rakyat sejahtera maka tidak ada lagi yang membandel dalam mewujudkan Indonesia aman terbebas dari virus mematikan.  

Oleh karena itu, mari sama-sama kita bergotong-royong, bahu-membahu membantu mereka pulihkan Indonesia seperti semula. Pemerintah tidak bisa bekerja secara sendirian dalam memulihkan situasi seperti ini, negara juga membutuhkan warganya untuk memerangi virus Corona. Semangat juang ibu pertiwi, badai pasti berlalu.

Berdiam diri di rumah dan patuhi segala aturan yang ada. Lakukan tindakan pencegahan dan protokol kesehatan.

Perbanyak do'a dengan harapan semoga Allah segera mengangkat musibah ini, menghilangkan keresahan hamba-hamba-Nya, memberikan inspirasi kepada para ilmuan dan peneliti agar lahir dari tangan mereka obat yang dapat menyembuhkan penyakit mematikan ini. Dialah Allah, tuhan yang Maha melindungi dan Kuasa atas semua itu.

Penulis mengakhiri ulasan ini dengan sebuah lagu dari group musik legendaris D’Lloyd yang populer pada era tahun 1970an, “Apa Salah Dan Dosaku”.

Haruskah hidupku terus begini
Dengan derita yang tiada akhir
Ke manakah jalan yang harus kutempuh
Agar kubahagia
Oh Tuhan, berikan petunjuk-Mu
Untuk kujadikan pegangan hidupku
Katakan salahku dan apa dosaku
Sampai kubegini
Aku tak sanggup lagi
Menerima derita ini
Aku tak sanggup lagi
Menerima semuanya
Oh Tuhan, berikan petunjuk-Mu
Untuk kujadikan pegangan hidupku
Katakan salahku dan apa dosaku[]

No comments