Wot Kanji, Tradisi Tulak Bala di Sabang

Share:

Laporan: Rouzatul Jannah

Tidak hanya sebagai tradisi tulak bala, wot kanji juga menjadi ajang silaturahmi dan bersedekah. Betapa tidak, kanji yang dimasak oleh ibu-ibu desa sambil bercengkrama, lalu saat kanji matang langsung dimakan ditempat itu juga, tak lupa dibagikan kepada orang-orang yang lewat dari lokasi itu.

WASATHA.COM - Masak bubur putih atau lebih dikenal dengan nama Wot Kanji bagi masyarakat Aceh dilakukan di beberapa desa kuhusunya di Sabang oleh perkumpulan ibu-ibu, kegiatan ini diyakini sebagai peringatan masa-masa akhir bulan Rajab.

Tradisi Wot Kanji diyakini sebagai adat untuk tulak bala dalam bahasa Acehnya, yang berarti menolak segala jenis bencana.

Adat ini dilaksanakan setiap tahunnya menjelang penyambutan bulan suci Ramadhan.

Uniknya, dalam kanji dibuat dengan bahan serba putih seerti ketan putih, santan, gula pasir.



Nek Mi salah seorang ketua wot kanji diBalohan. Ia mengatakantidak hanya sebagai tradisi tulak bala, wot kanji juga menjadi ajang silaturahmi dan bersedekah.

Betapa tidak kanji yang dimasak oleh ibu-ibu desa sambil bercengkrama, lalu saat kanji matang langsung dimakan di tempat itu juga, tak lupa dibagikan kepada orang-orang yang lewat dari lokasi itu.

"Wot kanji kita buat untuk mengakrabkan ibu-ibu di desa, dibuat dengan ketan, gula pasir dan satan saja. Ini dibuat seperti orang-orang terdahulu, salah satunya untuk tulak bala dan nanti kita bagi-bagi," katanya sembari mengaduk adonan.



Sebelum menikmati, dilakukan do'a bersama, dipimpin oleh teuku inong (ustazah) di desa tersebut agar dijauhkan dari segala marabahaya, seperti menolak wabah covid 19 yang sedang meresahkan masyarakat.

No comments