Covid 19: Pesan Dari Negeri Jiran Untuk Pemuda Aceh

Share:

Pemuda/i Aceh tidak perlu menganggap sepele perihal COVID-19, ikuti kebijakan pemerintah yang mengajak untuk melakukan social distance dan self quarantine maka kita sudah memutuskan satu rantai penyebaran COVID-19. Mari membantu tum medis dalam bentuk mengisolasi diri sendiri di rumah, tidak perlu melakukan aktivitas luar jika tidak begitu mendesak. jangan pernah bersikap takabbur, bersyukurlah karena kita masih diberikan kesehatan.

WASATHA.COM - COVID-19 telah menyebar diseluruh penjuru negara, Dimulai dari Kota Wuhan, China dan sudah meluas penyebarannya dengan begitu cepat diseluruh dunia, hal ini tentu membuat seluruh masyarakat khawatir, tidak sedikit korban yang meninggal dunia akibat virus yang sedang viral tersebut.

Saat ini setiap negara berlomba-lomba melakukan yang terbaik bagi warganya demi memangkas penyebaran COVID-19 dan menyelamatkan banyak nyawa.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap negara yaitu melarang warga nya mengunjungi tempat umum. Dari salah satu media yang saya baca beberapa hari lalu, Jerman justru telah menutup tempat-tempat umum seperti cafe, gym dan lain-lain.

Bahkan, terhitung sejak tanggal 18 maret 2020, beberapa negara mengambil kebijakan lockdown.

Tidak hanya itu, pembelajaran juga dilakukan secara online, pemerintah memberlakukan social distance, finger print diberhentikan untuk meminimalisir bersentuhan dengan benda-benda yang bersifat umum, pemerintah juga menganjurkan agar masyarakat tetap berada di rumah kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak (self quarantine).

Disini, kerajaan Malaysia juga melakukan hal yang sama, menghimbau agar rakyatnya tidak melakukan aktivitas seperti biasa (self quarantine) untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 yang sudah ada.

Di Universiti Utara Malaysia (UUM) sendiri, sampai tenggat waktu yang ditentukan (18-31 maret 2020) mahasiswa yang sedang mengikuti Student Exchange dan juga mahasiswa lokal tidak dibenarkan keluar dari lingkungan kampus dan digalakkan untuk tetap stay di asrama dan pihak UUM juga telah menutup akses di gerbang utama bagi orang luar kampus termasuk dosen.

Situasi di lingkungan kampus dianggap lebih aman, segala fasilitas seperti pusat kesehatan, penyediaan makanan, segala kebutuhan pelajar UUM, serta lingkungan yang masih bersih dari COVID-19 membuat mahasiswa disarankan untuk tetap stay di dalam kawasan kampus.

Namun kabarnya dari Aceh tidak memaksimalkan metode social distance, di mana para masyarakat masih banyak melakukan aktifitas layaknya tidak ada kasus COVID-19.

Hal tersebut tidak bisa di anggap remeh begitu saja karena pada dasarnya masyarakat harus tau apa maksud dan tujuan dari social distance itu sendiri.

Masih banyak pemuda/i Aceh yang melakukan aktivitas diluar rumah, padahal metode belajar sudah diberlakukan online oleh pemerintah, warkop pun tidak terlihat sepi hingga larut malam, beberapa masyarakat Aceh tidak ikut mengindahkan himbauan pemerintah, masih ada yang belum menyadari bahwa ini adalah salah satu usaha pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari virus yang sedang melanda seluruh dunia ini.

Saya Dara Sakinah, salah satu mahasiswi fakultas psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang sedang mengikuti Pertukaran Pelajar di Negeri Jiran, Malaysia, tepatnya di Universiti Utara Malaysia (UUM) berinisiatif untuk menghimbau pemuda/i Aceh agar tidak menganggap sepele perihal COVID-19, dengan kita ikuti kebijakan pemerintah yang mengajak untuk melakukan social distance dan self quarantine maka kita sudah memutuskan satu rantai penyebaran COVID-19. Maka mari sama-sama kita bantu para medis dalam bentuk mengisolasi diri sendiri di rumah, tidak perlu melakukan aktivitas luar jika tidak begitu mendesak, jangan pernah bersikap takabbur, bersyukurlah karena kita masih diberikan kesehatan.

Kita lakukan untuk kita. Jangan pernah menganggap musibah ini sepele, siapa sangka ka’bah yang tidak pernah sepi pun harus ditutup untuk saat ini, untuk melakukan shalat pun dibeberapa daerah tidak digalakkan melakukannya di mesjid.

Saya yang sedang berada jauh dari keluarga merasa sedih pastinya, karena berita-berita yang beredar tentu membuat kedua orangtua begitu khawatir, tetapi karena hampir semua negara dan Malaysia menjadi salah satu negara yang memberlakukan lockdown yang membuat saya terpaksa stay di Malaysia dan berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol diri dan emosi serta selalu memberikan energi positif bagi keluarga.

Maka bagi siapapun yang saat ini sedang dekat dengan keluarga, maksimalkanlah waktu untuk “family time” dan gunakanlah kesempatan ini untuk kita lebih dekat dan memohon ampunan kepadaNya atas segala kelalaian dan kesilapan yang sengaja atau tidak sengaja kita lakukan, mintalah pertolongan agar kita selalu dilindungi dari wabah penyakit ini.

Salah satu pelajar lokal di UUM, Jeffrey Tan Shih Jie juga menyampaikan “Covid-19 ini sekarang tidak dipandang serius lagi dari segelintir pemuda/pemudi. Pada asalnya di Malaysia juga ada ramai orang yang memandang hal ini sebagai hal remeh termasuklah orang dewasa dan remaja. Selepas mereka sendiri dijangkiti Covid-19 dan sekarang nyawa dalam kebahayaan baru mereka memandang hal ini serius. Tetapi, ia telah terlambat sebab penyakit ini telah berjaya berular di seluruh Malaysia. Harap pembaca sekalian tolong mengingatkan saudara/saudari, Ahli keluarga dan kawan-kawan anda untuk menjaga kesihatan anda dan jangan keluaq dari rumah kecuali terpaksa. Ingat, cegah sebelum parah. Jangan melakukan sesuatu yang buruk, karena anda akan menyesal," pesannya. [Dara Sakinah, Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh (sedang mengikuti Pertukaran Pelajar di Universiti Utara Malaysia]

No comments