Ratusan Muslim dan Kristen Protes Tembok Pemisah Israel

Share:



WASATHA.COM, BETHLELEHEM - 10 Dzulqa’dah 1436/ 25 Agustus 2015 (MINA) – Ratusan warga Muslim dan Kristen Palestina turun ke jalan pada Ahad (23/8) melakukan demo memprotes poyek baru tembok pemisah Israel yang melintasi kota mayoritas Kristen Beit Jala dekat Betlehem.

Lebih dari 500 warga Beit Jala, melakukan aksi, dan dilaporkan para pengunjuk rasa merobohkan gerbang dan bagian dari pagar kawat berduri yang dipasang  pasukan Israel baru-baru ini untuk mencegah warga kota melalui tanah mereka.

Pasukan Israel menembakkan gas air mata pada demonstran, menyebabkan puluhan menderita berlebihan menghirup gas air mata.

“warga protes ketika buldoser Israel mulai meratakan tanah di sepanjang rute yang direncanakan untuk tembok pemisah,” ujar Walikota Beit Jala, Nicola Khamis.

Khamis mengatakan bahwa aksi protes yang ditujukan untuk memberitahu seluruh dunia bahwa warga memiliki hak untuk keberatan dan mempertahankan tanah sendiri.

Kasus ini mendapat perhatian khusus ketika tembok itu dijadwalkan memisahkan biara Cremisan dari biara tetangga dan kebun-kebun anggur. Hal itu juga untuk memisahkan Palestina di desa Kristen Beit Jala dekat dari kebun zaitun mereka.

Sebelumnya, Pengadilan Tinggi Israel sebenarnya sudah memutuskan pada bulan April bahwa pekerjaan harus berhenti dan mengatakan kepada pemerintah untuk mempertimbangkan alternatif rute lainnya.

Namun, pada bulan Juli persidangan balik memutuskan bahwa larangan sebelumnya hanya area beberapa ratus meter di samping biara. Senin lalu, buldoser Israel mulai mencabut pohon-pohon zaitun timur dari biara dan biara.

Misi Uni Eropa di Yerusalem dan Ramallah menyatakan keprihatinan tentang awal pekerjaan konstruksi di Cremisan, mencatat bahwa akan mempengaruhi mata pencaharian 58 keluarga setempat.

Israel mulai membangun tembok pemisah dengan dinding beton, pagar dan kawat berduri di dalam Tepi Barat yang diduduki sejak 2002, dengan mengklaim penghalang itu penting untuk keamanan.

Mahkamah Internasional dan Majelis Umum PBB memutuskan pada tahun 2004 bahwa pembangunan penghalang itu ilegal dan menuntut bahwa itu harus dibongkar.[minanews.net]


No comments