Air Terjun Peucari, Panorama Tersembunyi di Puncak Jantho

Share:
Air Terjun Peucari [FOTO: Anita Sari]
Cuaca hari itu, cukup mendukung perjalanan kami. Dengan mengendarai sepeda motor kami menuju Kota Jantho, memakan waktu selama 2 Jam dari  Banda Aceh

KOTA JANTHO Aceh Besar menyimpan panorama alam yang indah, selain hutan lindung yang masih perawan, di puncak kawasan itu kita akan menemukan Air Terjun Peucari yang menawan.

Dari namanya saja begitu menggugah para pecinta alam,  saya bersama  teman lain yang beranggotakan 11 orang berhasil menembus lebatnya hutan Jantho menuju Air Terjun Peucari, Rabu tiga pekan yang lalu di bulan April.

Cuaca hari itu, cukup mendukung perjalanan kami. Dengan mengendarai sepeda motor kami menuju Kota Jantho, memakan waktu selama 2 Jam dari  Banda Aceh.  Kami tiba pukul 12 jelang siang.  Memasuki kawasan Kota Jantho suasana cukup sepi, tak banyak kendaraan lalu lalang di kawasan ini.  Kantor Bupati Jantho Aceh Besar terlihat begitu megah dengan arsitektur indah.

Tiba tepat di Desa Boeng, kami dianjurkan oleh masyarakat setempat mencari pemandu arah untuk melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Peucari, dikarenakan jalan menuju kesana menelusuri hutan, selang beberapa menit 2 pemandu datang dengan segala perlengkapan untuk keperluan di hutan seperti, parang dan senter.

Kami menuju air terjun dengan kesepakatan membayar jasa pemandu Rp 200.000, kami menyetujuinya. Perjalanan dimulai dengan mendaki bukit dan tanjakan yang tidak mudah untuk dilalui, kedua pemandu kami bernama Jamal dan Saiful, Ketua Gampong di Desa Boeng.

Mereka berdua membantu kami menaiki sepeda motor melalui  tanjakan bukit satu persatu, tekstur tanah liat terpecah pecah serta kerikil-kerikil tajam itu membuat oleng sepeda motor yang kami kendarai.

Setelah melewati beberapa bukit kami sampai di pos jaga, pemandu mengarahkan kami meletakkan sepeda motor di sana, dikarenakan perjalanan berikutnya hanya bisa dilalui dengan jalan kaki menelusuri hutan dan 12 alur sungai selama 2 jam.

"Sepertinya hari ini cuaca yang bagus untuk ke air terjun karena airnya tidak tinggi dan tidak membahayakan, tapi baiknya lagi perjalanan dimulai lebih awal karena perjalanannya termasuk lama dan memakan banyak waktu, ” kata Jamal.

Menapakti setapak jalan sejauh 300 meter dari lokasi pos jaga, tibalah di pagar tanda batas antara hutan dengan perkampungan, satu persatu kami melewati pagar setinggi pinggang dewasa dengan pijakan kayu yang telah disediakan oleh pemandu.

Sekitar 100 meter ke depan kami menuruni ratusan anak tangga. Kami disarankan untuk menggunakan tongkat kayu untuk mendaki hutan. 

Akhirnya kami mulai menelusuri hutan dan mendaki berbagai tanjakan, setiap jarak 200 meter kami menjumpai sungai kecil, dan kembali mendaki hutan, dengan jarak yang sama kembali menemukan sungai sungai berulang ulang kali hingga sampai ke sungai 6.

Di sungai itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 dan kami beristirahat sejenak untuk menunaikan shalat Zuhur bersama sembari melepas lelah selama 1 jam berjalan kaki. Usai shalat dan istirahat kami kembali melanjutkan perjalanan ke sungai 7.

Seperti kata Pemuda Gampong Boeng itu perjalanan ini memakan waktu hingga 2 jam, hingga 12 sungai telah berhasil dilalui. Dari kejauhan terdengar suara deru air yang deras, diikut riak riak yang berkejaran kedatangan kami disambut dengan derai air yang menghujam dari atas batu dengan ketinggian 10 meter, tibalah kami di air terjun Peucari.

Volume air yang berpantulan dengan sinar matahari menghadirkan pelangi yang sangat indah di permukaan air. Lanjut Mendaki dengan jarak 50 meter ke atas melewati air terjun peucari kalian akan di sambut oleh paparan air terjun yang disebut dengan air terjun tingkat 7, air mengalir di antara 7 batu hingga ke bawah tepat ke air terjun Peucari,

Air terjun yang memiliki 7 tingkat dengan berbagai keindahan yang mengalir di  bebatuan, dengan riak riak yang tiada hentinya saling berkejaran, seolah membayar hasil dari keringat dan lelah selama perjalanan menuju air terjun dengan total waktu 5 jam dari Kota Banda Aceh, sehingga tidak membuat pengunjung sia sia untuk datang kesini dengan tantangan dan keindahan yang Asri.

Tiba di puncak tingkat 2 kami memutuskan untuk  beristirahat dan makan siang guna mengisi perut kosong dengan bekal yang sudah kami bawa masing masing, tidak lupa kami juga berbagi dengan kedua pemandu pak Saiful dan pak Jamal. Mereka sangat baik dan ramah, selalu sabar dengan segala keluhan kami selama diperjalanan.

Keindahan panorama nan asri membuat takjub siapapun yang melihatnya, sekaligus membuat kami sadar atas segala dengan kuasa  ciptaan Sang Khaliq di atas bumi ini.

Selama menyantap bekal kami dikunjungi oleh hewan berbulu berwarna kuning pekat yang bergantungan di pepohonan tepat di atas lokasi kami beristirahat, iya seekor orang utan menemani kami selama makan siang.

Orang utan tersebut termasuk satwa yang dilindungi dan tidak menggangu para pengunjung yang datang ke wisata ini. Justru menjadi keunikan tersendiri bagi pengunjung bisa melihat langsung hewan tersebut.

Tingkatan air terjun ini laksana lukisan yang dipajang di pelosok hutan nan Asri, penorama yang cocok untuk mengambil gambar ataupun mengambil video, Sebagian pengunjung juga bisa mandi dan menikmati kesegaran air terjun yang jernih dan bersih, sehingga tak terasa waktu berjalan lebih cepat dari perkiraan.

Waktu yang sangat singkat menikmati seluruh keindahan air terjun di setiap tingkatan nya, baik yang menyengarkan badan, adapun mengabadikan moment-moment di lokasi tersebut.

Usai sudah waktu untuk kami menikmati air terjun peucari dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB, sebelum meninggalkan lokasi terlebih dahulu kami menunaikan shalat ashar bersama tidak jauh dari terpaan air terjun yang menyegarkan.

Usai shalat kami merapikan barang barang bawaan dan memastikan tidak satupun yang tertinggal, dan mengutip sampah sampah demi kenyamanan pengunjung lainnya serta menjaga kebersihan wisata agar terus terawat,  sebelum meninggalkan lokasi air terjun peucari kami sempat mengambil foto bersama tanpa kecuali para pemandu sebagai kenang kenangan.

Rintik hujan menemani sepanjang perjalanan pulang hingga matahari terbenam di ufuk barat, menandakan masuknya waktu maghrib, kami menghentikan perjalanan tepat di sebuah sungai dan menunaikan shalat magrib bersama.

Hujan semakin mempersulit perjalanan yang menjadi basah dan licin saat didaki, kami harus lebih berhati-hati dan saling membantu satu sama lain, tongkat dipegangan kami terasa lebih berguna dalam kondisi saat ini, untuk menahan beban saat terpeleset atau jatuh.

Hari sudah gelap dan para pemandu mengeluarkan senter yang sudah disediakan guna menuntun arah untuk keluar dari hutan tersebut. Dengan jarak beberapa meter ke depan kami melihat pagar batasan hutan dan membuat lega akhirnya kami berhasil keluar dari hutan tepat pukul 21 malam.

Setelah melewati pagar dilanjutkan perjalanan menuju pos jaga lokasi sepeda motor. Menuruni bukit dan tanjakan tanah liat yang licin akibat hujan, akhirnya kami tiba kembali Desa Boeng dan berpamitan dengan sebagian masyarakat yang telah menunggu kedatangan kami bersama para pemandu. [Anita Sari]

No comments