Sangkaan Orang

Share:

SEORANG Pak Haji yang baru pulang dari tanah suci, hatinya luluh dan gemeretak menyadari akan kelemahan dirinya selama ini yang sangat egoistik dan acuh terhadap sesama.

Batinnya berontak dan merasa sebagai pendusta agama karena keabeannya terhadap anak yatim terlantar di kampungnya.

Pak Haji bertekad bulat agar disisa hidup dan harta yang ia punyai disumbangkan kepada anak yatim yang sangat membutuhkan.

Demi menjaga keikhlasan, Pak Haji memberikan santunan pada anak yatim dengan cara diam-diam, baginya pemberian sesuatu yang digembar-gemborkan adalah ria dan tidak baik dalam pandangan agama.

Setiap sebulan sekali, Pak Haji selalu mendatangi rumah para anak yatim itu di malam hari. Biasanya hanya sekadar menanyakan keadaan, memberikan sedikit nasehat dan kata-kata penyemangat kemudian ia pamit dan sembari menitipkan santunan.

Setelah beberapa bulan  berlalu pak Haji semakin bersemangat bergerilya dari rumah ke rumah anak yatim.

Tiba-tiba saja seorang warga menghembuskan berita tak sedap. Ia menyebarkan fitnah, bahwa pak Haji diisukan doyan menggoda ibu anak yatim yang ada di kampung mereka.

Berita busuk itu semakin anyir manakala digoreng-goreng oleh para penggibah yang sukanya hanya berburuk sangka dan mencari-cari kesalahan orang lain.

Keanyiran berita itu santer didengar oleh orang sekampung dan menjadi gunjingan publik. Pak Haji terkejut bukan kepalang dan syok saat mengetahui prasangka-prasangka buruk yang ditujukan pada dirinya.

Sekuat tenaga ia kerahkan untuk menampik prasangka miring itu akan tetapi kebanyakan orang kampung tetap tidak percaya dan menilai “ada udang di balik batu”.

Parahnya lagi, istri pak Haji terpengaruh dengan isu-isu busuk yang menyebar. Hingga akhirnya pak Haji keok dan menghentikan santunannya kepada anak yatim, sekalipun ia sangat yakin bahwa apa yang dilakukannya benar dan sesuai dengan perintah Allah.

Ibnu Atha ‘illah al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam menyebutkan bahwa: “Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang.”

Seseorang terkadang lebih mengutamakan sesuatu yang ada pada orang lain daripada yang ada pada dirinya. Kita acapkali begitu takut dihinakan oleh manusia bodoh dan kemudian menepikan kemuliaan hidup di mata Allah.

Ada banyak orang yang bangga dipuji-puji sebagai orang baik, sekalipun ia tahu bahwa dirinya tidaklah sebaik yang dipujikan. Apa gunanya mulia di mata manusia jika kita hina di sisi Allah.

Pujian dusta terhadap seseorang, sebenarnya sama saja dengan ucapan orang-orang yang mengolok-olok diri kita dengan berkata, “kotoran yang keluar dari duburmu baunya seperti minyak kasturi”.

Jika ada orang yang senang dengan kata-kata seperti itu, maka sebenarnya ia sama saja dengan orang gila yang tidak mengetahui makna kata yang sesungguhnya.

“Jika kau mendapatkan pujian, sedangkan kau tidak layak atasnya, pujilah Allah sebagai Dzat yang memang layak menyandangnya
” (Ibnu Atha ‘illah al-Iskandari).

Jangan sekali-kali takut dengan hinaan manusia jika kita betul-betul berada di jalan yang benar, hinaan dari seseorang yang bodoh tidak akan membuatmu jatuh jika Allah memuliakanmu.

Ukuran kemuliaan bukanlah karena banyaknya pujian dan sanjungan manusia, akan tetapi kemuliaan itu manakala kita senantiasa istikamah pada jalan kebenaran sekalipun banyak orang mencemoohinya.

Sejatinya pak Haji harus tetap kuat dan tidak menghentikan santunan pada anak yatim, sebab apa yang dilakukannya sangat sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. [T. Lembong Misbah,  e-mail:   lembong.info@gmail.com]

No comments