Kembali Ke Gampong

Share:
Krueng Panto, Kuala Batee, Abdya, Aceh, Indonesia | FOTO: wasatha.com


HIDUP di gampong itu menyenangkan dan ini mungkin sangat subjektif jika diuraikan.

Di Kota waktu serasa sebentar, bangun shubuh, usai shalat sudah berjibaku dengan waktu. Siapkan sarapan, antar anak sekolah, bekerja melaksanakan amanat yang dititipkan. Tidak terasa, sudah bertemu dhuhur untuk istirahat menjemput anak sekolah.

Ini pekerjaan rutin warga kota yang bertaruh nasib dengan heterogen nya penduduk Kutaraja. Pertemuan dengan sahabat satu tempat kerja atau teman ngopi, sering juga di masjid mana kala jemput anak sekolah saat dhuhur tiba. 

Sering saya berseloroh dengan teman yang bertemu di masjid. "Tugas negara, terminal kita sama di sini di masjid ini." Basa-basi untuk mengatakan bahwa tugas orangtua antar jemput anak sekolah adalah rahasia bersama.

Tak heran, jika ada seminar hebat di Kutaraja, menjelang pukul 12.00 wib peserta yang punya tugas mulia mulai tak enak duduk. Gelisah belum menjemput anak-anak di sekolah.

Teman saya, yang tempat tinggalnya agak jauh dari pusat Kota Pelajar Darussalam, punya dapur kedua. Sarapan pagi, makan siang dan ngopi sore dihabiskan di kedai kopi langganan. Bahkan, ganti baju pun sesekali di toilet masjid.

"Repot kalau harus kembali ke Peukan Bada, jadi kami benar-benar hidup di jalanan Banda Aceh hingga sore hari. nasi siang anak juga disiapkan di kedai kopi,"

Teman saya ini, memang pekerja aktif. istrinya juga pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah di Aceh. Anak-anaknya sekolah di SD dan SMP terhebat di Kutaraja.

Kembali ke Gampong, ada sesuatu yang beda. Waktu, seperti lambat berputar. Bangun shubuh, masih sempat hangatkan badan di perapian dapur kayu ala gampong. Cang panah beragam hal kehidupan, waktu masih sangat sempurna dinikmati.

Urusan perut, semua tidak harus diukur dengan rupiah. Ke kebun melimpah ruah sayuran, ke sungai aneka macam ikan bisa ditemukan. Kerabat saya, setiap sore membawa pulang ikan tangkapan dari alur sungai yang tidak jauh dari rumah. Rasanya, gurih enak tiada kira!

Uang, jangan tanya sama orang di Gampong. Tidak ada uang, tetapi masih merasakan kenikmatan alami yang diberiman Yang Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Nasi sambal dengan ikan sungai, plus lalapan dari kebun serasa sudah sama nikmat dengan warung nasi berkelas di Kutaraja.

Gampong adalah awal tempat berpijak, kota hanyalah kawasan beradu nasib. Sukses di kota, bisa bertabur manfaat ke warga Gampong.

Itu juga ukuran sukses, warga Gampong biasa melihat mobil tanda keberhasilan hidup di kota, maka tidak jarang saat lebaran tiba bertabur mobil mewah di gampong-gampong, meski kadang kemewahan itu hanya kamuflase dari beban utang yang harus dicicil ke bank setiap bulannya.

Gampong, tempat kita kembali terkadang memberi hikmah dan inspirasi tentang hidup dan awal kita bermula. Kadang terbersit, untuk menetap kembali di Gampong. Dengan uang sedikit keberkahan dan ketenangan hidup dapat dirasakan di Gampong kelahiran.

Melihat orang di Gampong seperti tiada beban. Hari berjalan normal tanpa keluhan, ke kebun adalah pekerjaan harian yang hasilnya tidak seperti kebiasaan orang di Kota dimana jasa dan pekerjaan diukur dengan rupiah  melimpah.

Memperhatikan orang tua dengan hasil panen tiga atau enam bulan sekali atau dengar harga sawit dan cokelat yang tidak menentu mereka masih bisa melaksanakan adat kenduri dengan ragam jenisnya.

Hidup mereka, orang-orang di gampong benar-benar dalam keberkahan. [Arif Ramdan, Catatan dari Kuala Batee, Abdya, 1 Januari 2019]

No comments