Didik Anak dengan Kasih Sayang, Bukan dengan Kecurigaan

Share:
Foto : Google
ANAK nakal, itu biasa. Anak bandel, itu juga bisa terjadi. Tapi menjadikan anak nakal dan bandel menjadi baik dan shalih, itu baru pekerjaan luar biasa.

Anak mencuri, mungkin saja terjadi. Anak berbuat kriminal, jika ada kesempatan dan lingkungan yang mendukungnya. Namun, menjadikan anak mencuri dan kriminal menjadi anak yang tawadhu kepada Allah serta santun terhadap orang tua, adalah amal istimewa.

Begitulah, mendidik anak memang harus dengan kasih sayang, perhatian dan kesabaran. Ia tidak bisa dengan rasa kecurigaan dan kebencian.

Sebab, bisa jadi kita dulu lebih nakal dan bandel dari anak yang sedang kita urus. Boleh jadi kita juga suka mencuri hak orang lain dan berbuat kriminal, melebihi anak yang kita anggap telah mati masa depannya.

Apalagi jika anak yang kita curigai ‘maling’ itu, ternyata sedang menuju jalan taubatnya. Ia mulai shalat berjamaah di masjid, walau seribu mata seolah hendak menghardiknya.

Mereka anak-anak itu adalah makhluk Allah jua, yang punya kesempatan untuk menjadi hamba Ados, yang shalih. Didiklah anak itu seperti anak kita sendiri. Pernahkah kita menatap dengan seribu kecurigaan terhadap anak kita? Mereka anak-anak muda, berharap santunan dan uluran tangan kita dari orang dewasa, dengan kasih kita, dengan kedewasaan kita, dengan akhlaq mulia kita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegur dalam sebuah haditsnya, yang artinya: “Demi Allah yang tiadaTuhan selain-Nya, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. Namun kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada juga di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu).

Betapa sabda mulia Nabi ini mengingatkan, apalagi dalam proses pendidikan anak. Bahwa proses pendidikan anak manusia itu berlangsung seumur hidup. Sampai menghadap Allah telah bertaubat. Itulah titik akhirnya.

Jadi, selama masih hidup dan nyawa belum sampai di kerongkongan, didiklah anak itu dengan kasih sayang tanpa kecurigaan. Mereka masih dalam proses pendidikan di lingkungan masyarakat, bukan lembaga pemasyarakatan atau penjara.

Ajaklah dialog, tanya jawab, diskusi, bukan kecaman, apalagi kekerasan dan siksaan. Nabi yang tangannya sangat mulia itu saja, tidak pernah melukai fisik orang lain, selain dalam peperangan di medan jihad. Apalagi kita misalnya, orang tuanya saja bukan, kok tega ‘menyiksa’ anak untuk mengungkap ‘kejahatannya’. Orang tua mana yang kemudian tidak ikut sakit manakala anaknya ‘disakiti’ dalam proses pendidikannya.

Maka, Masa Orientasi Siswa (MOS) pada penerimaan siswa baru nanti, janganlah ada tindakan yang mengarah pada kekerasan fisik. Tapi hendaknya lebih pada eksplorasi minat, bakat dan potensi anak didik.

Sebab, mendidik itu mengajak bukan mengejek, mengasihi bukan mencurigai, mengusap bukan melukai, membelai bukan mencederai, berdiskusi bukan membenci.

Polisi saja jika akan menggeledah rumah, tas atau pakaian seseorang yang ‘dicurigai’, ia mesti membawa surat perintah dari atasannya.

Orang dewasa yang berakhlakul karimah tentu dia akan meminta izin kepada si empunya rumah. Bahkan Nabi menyuruh mengucapkan salam sampai tiga kali, sampai ada jawaban dari yang ada di dalam rumah.

Penulis pernah mendapatkan chatting dari alumni siswa dulu. Ketika ia berbicara bahwa mendidik anak ternyata tidak mudah. Ia merasakan setelah ia punya anak.

Ini artinya, pendidikan penydaran telah berhasil bukan saat anak di sekolah. Tapi setelah berumahtangga.

Lalu, apakah kita kemudian vonis bahwa si anak tidak mungkin menjadi baik, lalu kita curigai terus setiap jam, dan kita tutup pintu taubatnya.

Allah saja masih memberikan kesempatan hamba-Nya, sebesar apapun dosanya, untuk diterima sebagai hamba-Nya.

Begitulah, mendidik anak layak dilakukan dengan santun, kasih sayang dan kesabaran. Jika itu tidak dimiliki, kita tidak layak menyebut diri sebagai guru atau bagian dari proses pendidikan. Padahal jagonya preman, gembongnya kriminal, itu saja masih punya harapan agar anaknya menjadi shalih.

Coba sesekali, tataplah anak didik itu saat tidurnya. Pernahkah kita usap kepalanya, sambil kita doakan, “Nak semoga Allah membimbimgmu ke jalan yang lurus”.

Atau pernahkah kita selipkan di antara doa-doa tahajud kita, “Ya Allah arahkankan anak-anak didik saya, si fulan si fulan, yang sedang kami tangani, dengan kasih sayang-Mu, bimbing dia ke jalan ridha-Mu”.

Aamiin. Astaghfirullaahal ‘adzim.[Oleh : Ali Farkhan Tsani | mirajnews.com]