Jadi Semut Pembela Kebenaran atau Cicak Yang Fasik?

Share:


SIAPA yang tidak pernah tau tentang kisah di bakarnya Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud.

Namrud murka terhadap Nabi Ibrahim yang tak mengakui bahwa dirinya ialah tuhan, lalu Namrud menghukum Ibrahim dengan pembakaran.

Di saat Nabi Ibrahim dibakar, seekor semut membawa setetes air untuk memadamkan api tersebut.

Konstribusi semut untuk memadamkan api Namrud yang membakar Nabi Ibrahim memang tidak membuahkan hasil.

Manalah mungkin butiran-butiran air yang dibawa dalam mulut seekor semut mampu memadamkan api yang membara?

Tapi justru karena itu kita menjadi tahu, bahwa semut sedang memihak yang mana.

Berbeda halnya dengan Cicak. Binatang melata itu juga berusaha keras untuk meniup api agar membesar.

Tapi apakah mungkin hanya karena tiupan seekor cicak api menjadi besar? Namun perbuatannya membuat kita tahu bahwa ia berpihak kepada siapa.

Kisah kedua binatang ini bukanlah dongeng semata. Kisah ini benar adanya. Akibat konstribusi cicak terhadap Namrud, binatang ini di juluki binatang yang 'fasik'.

Bahkan Rasulullah menganjurkan untuk membunuhnya.

"Dari Sa'ad Ibn Abi Waqqash bahwasanya Nabi Muhammad memerintahkan untuk membunuh cicak. Dan beliau menamakannya hewan kecil yang gasik." (HR. Muslim)

Besar atau kecil konstribusinya bukan menjadi ukuran.

Dalam hadis lain Rasulullah menjelaskan kenapa cicak dikatakan binatang kecil yang fasik.

Perkara cicak dan semutpun menjadi perkara serius. Karena menyangkut kefasikan dan kebenaran.

"Dahulu ia (cicak) meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS" (HR Bukhari dari Ummu Syarik)

Dari kisah tersebut kita hendaknya bisa mengambil pelajaran. Bahwa sekecil apapun keberpihakan kita kepada kebenaran atau kefasikan, Allah maha tahu kita berada di pihak yang mana.

Pilihan ada di tangan kita masing-masing, menjadi Semut atau menjadi Cicak.

Jangan karena ikut-ikutan atau sekedar iseng-iseng, pada akhirnya kita menjadi pembela kefasikan.
Nauzubillah. [Nurhalimah] / Tek