BANDA ACEH - Gaya hidup bermewah-mewahan dan konsumtif tidak hanya tercela dalam agama, tetapi juga berdampak langsung pada kerusakan lingkungan hidup.
Umat Islam diajak untuk melakukan penataan ulang akhlak (#ResetAkhlak) dengan mengedepankan pola hidup bersahaja demi menjaga kelestarian alam ciptaan Allah SWT.
Pesan bernas tersebut mengemuka dalam Kajian Ba'da Maghrib bertajuk "Bersahaja dan Kelestarian Alam" yang disampaikan oleh dai kondang Aceh, Ustaz Dr. Amri Fatmi, Lc., MA., di Masjid Oman Al-Makmur, Lamprit, Banda Aceh, Jum'at (25/9/2026) malam.
Dalam pemaparannya di hadapan ratusan jamaah, Ustaz Amri Fatmi menerangkan makna prinsipil dari konsep Isti'mar (memakmurkan bumi) sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an.
Menurutnya, tugas memakmurkan bumi mencakup dua aspek utama: menjaga kelestarian ekosistem yang ada serta memperbaiki pelbagai kerusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia.
"Menjaga alam sekitar ini bukan sekadar urusan kelompok pelestari lingkungan atau isu ekologi modern semata. Ini adalah bagian integral dari ajaran syariat dan tanggung jawab keimanan kita sebagai hamba Allah," tegas Ustaz Amri Fatmi.
Bahaya Sikap Mutana'im dan Peringatan Al-Qur'an
Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo tersebut mengutip pesan Rasulullah SAW saat mengutus sahabat Mu'az bin Jabal RA ke Yaman.
Baginda Rasulullah mewanti-wanti agar menjauhi sikap hidup serba di atas kenikmatan (tan'am), sebab hamba-hamba Allah yang sejati bukanlah orang-orang yang hidupnya mutana'im—iaitu mereka yang sentiasa mau hidup enak terus-menerus, serba mewah, dan serba 'wah'.
"Hamba Allah itu bukan orang yang mutana'im. Kehidupan yang berbelanja besar hanya demi mengejar gengsi dan kenyamanan tingkat tinggi sangat dicela dalam agama. Menuntut semua kenikmatan dunia agar terasa enak bukanlah tren gaya hidup orang mukmin," jelasnya.
Ia juga mengulas firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahqaf ayat 20 mengenai dialog Allah kepada orang kafir sebelum dimasukkan ke dalam neraka.
Allah menegaskan bahwa mereka telah menghabiskan seluruh kenikmatan yang enak dalam kehidupan dunia, bersenang-senang dengannya, bersikap sombong di bumi, menyampingkan kebenaran, serta berbuat menyimpang.
Hikmah Syariat, Kerakusan Emas, dan Infak Pembangunan
Lebih jauh, Ustaz Amri menyinggung bagaimana Rasulullah SAW menentukan standar gaya hidup bagi umat Islam, di antaranya melalui larangan menggunakan perabot emas dan perak serta larangan pakaian sutera bagi lelaki.
Pembatasan ini bertujuan membendung kerakusan manusia terhadap emas yang berpotensi merusak alam demi mengejar kekayaan semata.
"Emas itu bukan barang untuk bertahan hidup, melainkan sekadar barang kemewahan. Sunnatullah menetapkan bahwa semakin penting suatu sumber kehidupan bagi manusia, harganya semakin murah dan melimpah—seperti air dan udara. Namun kerakusan manusialah yang merusak alam demi mengejar hal-hal yang tidak esensial," terangnya.
Beliau juga mengutip hadis mengenai infak, di mana seorang muslim akan dibalas pahala atas setiap harta yang diinfakkan, kecuali harta yang diinfakkan untuk tanah atau bangunan (yang berlebihan).
Pembangunan fisik seperti rumah mewah bertingkat yang dibiarkan kosong tidak memberikan nilai pahala, justru akan menjadi beban di akhirat. Begitu pula dengan penggunaan kendaraan yang boros bahan bakar dan merusak ekosistem.
Mengakhiri kajiannya, Ustaz Amri Fatmi mengingatkan jamaah bahwa seluruh nikmat yang diperoleh di dunia kelak pasti akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, reset akhlak menuju kehidupan yang bersahaja menjadi kunci keselamatan diri dan kelestarian alam. (*)
