Iklan

Iklan

Cara Membuat Latar Belakang Masalah dalam Pendahuluan Penelitian Kuantitatif

9/26/26, 18:27 WIB Last Updated 2026-09-26T11:27:07Z


KERIKA mulai menyusun proposal atau skripsi, salah satu bagian yang sering membuat mahasiswa bingung adalah menulis latar belakang masalah. Banyak mahasiswa bertanya, “Harus mulai dari mana?” atau “Apa yang harus saya tulis di BAB I?” 


Kebingungan ini sebenarnya muncul karena latar belakang sering dianggap sebagai tempat untuk menjelaskan sebanyak mungkin teori yang berkaitan dengan judul penelitian. Akibatnya, halaman demi halaman dipenuhi definisi dari berbagai ahli, sementara persoalan yang sebenarnya ingin diteliti justru tidak terlihat dengan jelas.


Padahal, latar belakang masalah bukanlah kumpulan definisi dan bukan pula tempat untuk memindahkan seluruh teori ke dalam BAB I. Latar belakang adalah sebuah narasi akademik yang menjelaskan mengapa suatu masalah layak dan penting untuk diteliti. Karena itu, menulis latar belakang sebenarnya sama dengan membangun sebuah cerita ilmiah. 


Peneliti membawa pembaca dari sebuah fenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata, kemudian menunjukkan mengapa fenomena tersebut penting, apa persoalan yang muncul, bagaimana persoalan tersebut dapat dilihat dari perspektif keilmuan tertentu, hingga akhirnya menjelaskan mengapa penelitian perlu dilakukan.


Cara paling mudah untuk memulai adalah dengan melihat realitas atau fenomena yang ada. Peneliti perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang sedang terjadi?” Pertanyaan sederhana ini menjadi pintu masuk untuk membangun latar belakang. 


Misalnya, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi ingin meneliti konsentrasi belajar anak di taman kanak-kanak. Ia dapat memulai dengan menggambarkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan tahap penting dalam perkembangan anak. Pada tahap tersebut, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar berinteraksi, mengikuti aturan, menerima arahan, membangun kebiasaan, dan mengembangkan kemampuan untuk memusatkan perhatian dalam kegiatan pembelajaran.


Dari fenomena tersebut, peneliti kemudian perlu menunjukkan mengapa persoalan itu penting. Konsentrasi belajar, misalnya, menjadi bagian penting karena proses pembelajaran membutuhkan perhatian anak terhadap pesan dan instruksi yang disampaikan guru. Anak yang mampu memusatkan perhatian akan lebih mudah mengikuti kegiatan pembelajaran, memahami arahan, dan memberikan respons terhadap aktivitas yang dilakukan. 


Sebaliknya, ketika perhatian anak mudah teralihkan, proses pembelajaran dapat mengalami hambatan. Pada bagian ini peneliti tidak sekadar mengatakan bahwa “konsentrasi itu penting”, tetapi menjelaskan alasan mengapa konsentrasi menjadi persoalan yang relevan dalam konteks penelitian.


Setelah fenomena dan urgensinya mulai terlihat, peneliti kemudian membawa persoalan tersebut ke dalam perspektif ilmu yang digunakan. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, misalnya, proses pembelajaran dapat dilihat sebagai sebuah proses komunikasi. Guru menyampaikan pesan, anak menerima pesan, kemudian memberikan respons. 


Dalam proses tersebut terdapat komunikator, pesan, komunikan, media, umpan balik, dan konteks komunikasi. Dengan cara berpikir seperti ini, persoalan konsentrasi belajar tidak hanya dilihat sebagai persoalan psikologis atau pendidikan, tetapi juga dapat dikaji dari bagaimana proses komunikasi antara guru dan anak berlangsung.


Di sinilah variabel penelitian mulai diperkenalkan. Jika penelitian diarahkan pada komunikasi interpersonal, peneliti dapat menjelaskan bahwa guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan anak melalui sapaan, arahan, pertanyaan, motivasi, perhatian, teguran, maupun apresiasi. Interaksi tersebut merupakan bagian dari komunikasi interpersonal yang berlangsung dalam lingkungan pembelajaran. Dari sini muncul sebuah persoalan ilmiah: apakah komunikasi interpersonal guru memiliki hubungan dengan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian selama proses belajar?


Pertanyaan tersebut penting karena penelitian kuantitatif tidak hanya membutuhkan fenomena, tetapi juga membutuhkan hubungan antarvariabel yang dapat diukur. Dalam contoh penelitian ini, komunikasi interpersonal guru dapat ditempatkan sebagai variabel pertama, sedangkan konsentrasi belajar anak ditempatkan sebagai variabel kedua. 


Peneliti kemudian tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal guru menyebabkan anak menjadi lebih konsentrasi. Jika desain penelitian yang digunakan adalah korelasional, pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut dan seberapa kuat hubungan yang terjadi.


Pada tahap berikutnya, latar belakang perlu memperlihatkan adanya persoalan atau kesenjangan. Di sinilah peneliti mulai bergerak dari kondisi ideal menuju kondisi yang ditemukan di lapangan. Secara ideal, komunikasi guru dengan anak berlangsung secara efektif sehingga anak dapat memahami arahan dan mengikuti kegiatan pembelajaran. 


Namun dalam kenyataan, setiap anak memiliki kemampuan perhatian yang berbeda. Ada anak yang dapat mengikuti kegiatan dengan baik, sementara anak lainnya mudah teralihkan oleh teman, lingkungan, atau aktivitas lain. Perbedaan tersebut menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.


Agar argumentasi tidak hanya berdasarkan asumsi, peneliti perlu memperkuat latar belakang dengan data dan fakta. Data tersebut dapat diperoleh melalui observasi awal, wawancara pendahuluan, dokumen lembaga, statistik resmi, maupun penelitian terdahulu. 


Misalnya, peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian dan menemukan bahwa dalam kegiatan tertentu terdapat anak yang mampu mengikuti instruksi guru secara konsisten, sementara sebagian lainnya membutuhkan pengulangan instruksi atau perhatian lebih dari guru. Temuan awal seperti ini dapat menjadi pintu masuk untuk merumuskan masalah penelitian. Namun, data harus benar-benar diperoleh dari lapangan. Peneliti tidak boleh menciptakan data hanya agar latar belakang terlihat lebih meyakinkan.


Penelitian terdahulu juga memiliki peran penting dalam membangun latar belakang. Kehadiran penelitian terdahulu bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa peneliti telah membaca banyak jurnal, tetapi untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang masih perlu diteliti. Misalnya, penelitian sebelumnya telah membahas komunikasi guru dalam proses pembelajaran, sementara penelitian lainnya membahas konsentrasi belajar anak. 


Peneliti kemudian dapat melihat apakah sudah ada penelitian yang secara khusus menghubungkan komunikasi interpersonal guru dengan konsentrasi belajar anak dalam konteks pendidikan anak usia dini. Ruang yang belum banyak dikaji itulah yang kemudian dapat menjadi bagian dari research gap.


Dengan demikian, penelitian terdahulu sebaiknya tidak ditulis seperti daftar yang berbunyi, “Penelitian A mengatakan ini, penelitian B mengatakan itu, dan penelitian C mengatakan hal lain.” Penelitian terdahulu harus dibaca, dibandingkan, dan disintesiskan. 


Peneliti perlu menunjukkan posisi penelitiannya di antara penelitian-penelitian yang sudah ada. Dari proses tersebut akan terlihat apakah penelitian yang akan dilakukan merupakan pengembangan, pengujian ulang, penerapan pada konteks yang berbeda, atau upaya mengisi ruang penelitian yang belum banyak dibahas.


Semakin mendekati akhir latar belakang, pembahasan harus semakin spesifik. Jika pada awal tulisan peneliti berbicara mengenai pendidikan anak usia dini secara umum, maka pada bagian berikutnya pembahasan diarahkan kepada komunikasi dalam pembelajaran, kemudian komunikasi interpersonal guru, konsentrasi belajar anak, hingga akhirnya masuk ke lokasi penelitian. Pada tahap ini, pembaca harus sudah memahami mengapa TK IT TAUD Al Husna dipilih sebagai lokasi penelitian dan mengapa fenomena tersebut menarik untuk dikaji di tempat tersebut.


Latar belakang kemudian ditutup dengan alasan yang jelas mengapa penelitian dilakukan. Peneliti dapat menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal guru merupakan bagian penting dalam proses interaksi pembelajaran, sementara konsentrasi merupakan salah satu aspek yang mendukung keterlibatan anak dalam kegiatan belajar. 


Karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal guru dengan konsentrasi belajar anak. Penelitian tersebut kemudian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif agar hubungan kedua variabel dapat diukur dan diuji secara empiris.


Dari uraian tersebut terlihat bahwa latar belakang yang baik sebenarnya memiliki alur yang menyerupai sebuah corong. Pembahasan dimulai dari sesuatu yang luas, kemudian perlahan-lahan dipersempit menuju persoalan yang sangat spesifik. 


Peneliti dapat memulai dari fenomena umum, menjelaskan pentingnya fenomena tersebut, membawa persoalan ke dalam perspektif ilmu yang digunakan, memperkenalkan variabel penelitian, menunjukkan persoalan atau kesenjangan, memperkuatnya dengan data dan penelitian terdahulu, kemudian mengerucutkannya pada lokasi penelitian. Pada bagian paling akhir, barulah penelitian dan judul penelitian terasa sebagai konsekuensi logis dari seluruh uraian sebelumnya.


Karena itu, mahasiswa tidak perlu memulai menulis latar belakang dengan pertanyaan, “Apa yang harus saya tulis tentang judul saya?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi, mengapa masalah itu penting, dan apa yang belum kita ketahui tentang masalah tersebut?” 

Dari pertanyaan itulah latar belakang akan berkembang secara alami.


Ada satu prinsip sederhana yang perlu selalu diingat ketika menulis latar belakang masalah: jangan membuat pembaca hanya mengetahui apa yang ingin diteliti; buat pembaca memahami mengapa penelitian itu perlu dilakukan. 


Ketika pembaca selesai membaca latar belakang dan merasa bahwa masalah tersebut memang nyata, penting, memiliki hubungan dengan bidang ilmu yang digunakan, belum sepenuhnya terjawab, dan membutuhkan pembuktian melalui penelitian, maka pada saat itulah latar belakang telah menjalankan fungsinya.


Dengan demikian, latar belakang masalah bukan sekadar pembuka sebuah skripsi. Ia adalah argumentasi pertama peneliti untuk meyakinkan pembaca bahwa sebuah penelitian memang layak dilakukan. Semakin logis alurnya, semakin kuat hubungan antara fenomena, masalah, variabel, teori, data, dan research gap, maka semakin kuat pula fondasi penelitian yang dibangun sejak BAB I. []


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cara Membuat Latar Belakang Masalah dalam Pendahuluan Penelitian Kuantitatif

Terkini

Topik Populer

Iklan