Iklan

Iklan

Dosen UIN Ar-Raniry Lolos Riset di Australia dan Jerman

8/19/26, 19:44 WIB Last Updated 2026-08-19T12:44:37Z

Dr. Muhammad Thalal (kiri), Prof. Mujiburrahman (tengah), dan Prof. Saiful Akmal (kanan). (Foto: Humas Ar-Raniry).

Banda Aceh - Dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh terpilih mengikuti Program Visiting Professor/Visiting Lecturer 2026 yang diselenggarakan Kementerian Agama.


Keduanya yakni Prof. Saiful Akmal akan menjadi Visiting Professor di Albert Ludwig University of Freiburg, Jerman. Kemudian Dr. Muhammad Thalal akan menjalani program akademik sebagai Visiting Lecturer di The University of Melbourne, Australia


Penetapan keduanya tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6392 Tahun 2026 tentang Penetapan Penerima Program Visiting Professor/Visiting Lecturer Tahun 2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 3 Agustus 2026.


Thalal merupakan dosen Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.


Selama di University of Melbourne, Thalal akan berada di bawah supervisi Prof. Kate McGregor dari School of Historical and Philosophical Studies. Ia juga akan bergabung dengan History, Memory and Decolonial Futures Research Collective.


Dalam program tersebut, Thalal akan mengembangkan riset berjudul "Split Postmemory: Transmisi Memori Antargenerasi dalam Masyarakat Aceh Pascakonflik".


Penelitian itu mengkaji bagaimana generasi muda Aceh mewarisi ingatan mengenai konflik bersenjata 1976-2005 melalui keluarga, sekaligus melihat interaksi memori konflik dengan narasi resmi yang berkembang di masyarakat Aceh setelah konflik berakhir.


Selain fokus pada penelitian, Thalal telah menyiapkan sejumlah kegiatan akademik yang ditargetkan menghasilkan lima jenis luaran, yakni "teaching, research and publication, cooperation, networking," dan "dissemination".


Pada aspek teaching, Thalal akan berkontribusi dalam kelas Prof. Kate McGregor yang membahas kekerasan 1965. Ia juga dijadwalkan menjadi guest contributor dalam dua sesi kelas Dr. Beech Jones yang mengangkat sejarah gender, Darul Islam, serta perlawanan terhadap patriarki.


Untuk research and publication, Thalal akan memfinalisasi manuskrip Split Postmemory untuk diajukan ke jurnal Memory Studies yang diterbitkan SAGE dan terindeks Scopus Q1. Ia juga akan menjajaki peluang publikasi bersama Prof. McGregor.


Pada aspek cooperation, salah satu target utama program ialah penyusunan draf awal Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry dan University of Melbourne.


Sementara dalam aspek networking, Thalal akan menjadi bagian dari History, Memory and Decolonial Futures Collective serta memperluas jejaring dengan peneliti Indonesia dan akademisi yang mengembangkan kajian memori di Melbourne.


Adapun aspek dissemination akan dilakukan melalui presentasi mengenai konsep split postmemory dalam reading group dan seminar yang diselenggarakan oleh collective. Hasil kegiatan juga akan didiseminasikan kepada sivitas akademika UIN Ar-Raniry setelah program kunjungan berakhir.


Thalal mengatakan program tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring akademik sekaligus membawa kajian mengenai Aceh ke lingkungan akademik internasional.


"Program ini bukan sekadar kesempatan akademik, tetapi juga tanggung jawab untuk membawa nama UIN Ar-Raniry dan Aceh ke jejaring akademik internasional," kata Thalal.


Ia berharap pengalaman Aceh dalam mengelola memori pascakonflik dapat berkontribusi terhadap kajian global mengenai perdamaian dan memori.


Selain riset, Thalal juga akan menjajaki peluang kerja sama kelembagaan antara UIN Ar-Raniry dan University of Melbourne.


"Saya berharap program ini tidak berhenti pada kunjungan individu, tetapi membuka jalan bagi kerja sama kelembagaan yang berkelanjutan antara UIN Ar-Raniry dan University of Melbourne, termasuk penjajakan nota kesepahaman yang memberi manfaat jangka panjang bagi dosen dan mahasiswa," ujarnya.


Sementara itu, Saiful Akmal merupakan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry.


Di University of Freiburg, Saiful dijadwalkan melakukan riset bersama Prof. Dr. Michaela Haug mengenai future-making di Aceh pascabencana.


Riset tersebut memadukan kajian wacana dan media dengan perspektif antropologi untuk melihat antisipasi, ketidakpastian, serta perubahan sosial dan lingkungan dalam masyarakat pascabencana.


Saiful juga dijadwalkan memberikan seminar di Institute of Social and Cultural Anthropology, University of Freiburg, dengan tema "The Future Making in Post Disaster Religious Society: Where do we go from now?"


Ia juga akan mengikuti workshop bersama mahasiswa magister dan doktoral mengenai metode analisis wacana dan media dalam konteks konflik dan bencana.


Selain kegiatan akademik, Saiful akan menjajaki kerja sama kelembagaan antara UIN Ar-Raniry dan University of Freiburg. Pertemuan dengan International Office dan pimpinan institut akan membahas peluang pertukaran mahasiswa dan staf, riset bersama, serta pengajaran bersama.


Penjajakan itu akan dilanjutkan dengan penyusunan terms of reference atau letter of intent sebagai dasar menuju kerja sama formal kedua universitas.


Program Saiful juga ditargetkan menghasilkan naskah artikel untuk jurnal internasional serta, proposal kolaborasi riset Capacity Building for Higher Education Erasmus Plus 2027 serta rancangan awal kerja sama antara UIN Ar-Raniry dan University of Freiburg


Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg mengapresiasi terpilihnya dua dosen tersebut. Menurutnya, capaian itu menunjukkan kemampuan dosen UIN Ar-Raniry untuk bersaing di tingkat internasional.


"Kami mengucapkan selamat kepada Muhammad Thalal dan Saiful Akmal atas keberhasilannya lolos Program Visiting Professor 2026. Capaian ini membuktikan bahwa dosen UIN Ar-Raniry memiliki kompetensi dan daya saing di tingkat internasional," kata Mujiburrahman.


Ia berharap keberhasilan tersebut mendorong dosen UIN Ar-Raniry lainnya memperluas jejaring akademik, meningkatkan kualitas riset, dan membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri.


"Kami berharap keberhasilan ini menjadi motivasi bagi dosen-dosen lain untuk memperluas jejaring global, memperkuat kualitas riset, dan mengharumkan nama UIN Ar-Raniry di kancah dunia," ujarnya.


Penguatan jejaring internasional melalui pemeringkatan dan kolaborasi global menjadi salah satu prioritas dalam program 100 hari pimpinan UIN Ar-Raniry. Arah tersebut juga sejalan dengan Renstra UIN Ar-Raniry 2025-2029 untuk menjadi World Class Islamic University, dengan target masuk 500 besar perguruan tinggi di Asia pada 2030.


Program Visiting Professor/Visiting Lecturer merupakan program Kementerian Agama yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas akademik dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, serta memperluas jejaring akademik internasional.


Pada tahun 2026 ini, proses seleksi berlangsung sangat kompetitif. Dari 193 pendaftar dosen PTKI negeri dan swasta se-Indonesia, sebanyak 29 peserta lolos ke tahap wawancara. Pada tahap akhir, hanya 10 dosen yang ditetapkan sebagai penerima program. [ ]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dosen UIN Ar-Raniry Lolos Riset di Australia dan Jerman

Terkini

Topik Populer

Iklan