Iklan

Iklan

Pesta Babi: Saat Ketakutan Muncul Sebelum Layar Menyala

5/12/26, 19:41 WIB Last Updated 2026-05-12T12:41:49Z


Film dokumenter Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita mendadak menjadi perhatian publik setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di beberapa daerah dibubarkan sebelum pemutaran dimulai. Kontroversi yang muncul bukan hanya memicu perdebatan tentang isi film, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat kerap bereaksi cepat terhadap simbol tanpa mencoba memahami konteks secara utuh.


Di Universitas Mataram, agenda pemutaran film dihentikan sebelum layar menyala. Sementara di Ternate, aparat mendatangi lokasi nobar dan meminta kegiatan dibubarkan setelah muncul penolakan dari sebagian masyarakat melalui media sosial. Situasi tersebut membuat film karya Dandhy Dwi Laksono itu semakin ramai diperbincangkan publik.


Film dokumenter tersebut membahas kehidupan masyarakat Papua, konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, hingga bagaimana masyarakat adat menghadapi pembangunan dan kekuasaan yang dinilai tidak selalu berpihak kepada mereka. Judul *Pesta Babi* sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua, di mana pesta babi menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan adat.


Namun di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, kata “babi” justru lebih cepat memancing reaksi emosional dibanding upaya memahami makna budaya di baliknya. Polemik akhirnya lebih banyak berputar pada judul film daripada substansi yang ingin disampaikan.


Banyak orang langsung menilai film tersebut bermasalah bahkan sebelum menontonnya. Penolakan bermunculan di media sosial, mulai dari kritik hingga tuntutan pembubaran nobar. Judul menjadi sumber keresahan, sementara isi dokumenter justru belum banyak dibahas secara menyeluruh.


Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat hari ini semakin mudah bereaksi terhadap simbol dibanding memahami substansi persoalan. Di era media sosial, informasi sering dikonsumsi secara cepat dan sepintas. Banyak orang merasa sudah mengetahui keseluruhan isi hanya dari potongan judul, cuplikan, atau opini yang beredar di internet.


Padahal, film dokumenter pada dasarnya dibuat untuk membuka ruang diskusi dan memperlihatkan realitas dari sudut pandang tertentu. Dokumenter tidak selalu hadir untuk menyenangkan semua pihak, tetapi untuk mengajak publik melihat persoalan yang mungkin jarang dibicarakan.


Ironisnya, pembubaran nobar justru membuat *Pesta Babi* semakin dikenal luas. Banyak orang yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaan film tersebut menjadi penasaran setelah mendengar kabar pelarangan dan kontroversinya. Semakin dibatasi, semakin besar rasa ingin tahu publik.


Peristiwa ini pada akhirnya bukan hanya tentang satu film dokumenter, melainkan tentang cara masyarakat merespons sesuatu yang dianggap sensitif. Ketakutan sering muncul lebih dulu sebelum proses memahami benar-benar dilakukan.


Padahal, ruang diskusi seharusnya menjadi tempat untuk bertukar pandangan, bukan langsung menutup percakapan sebelum dimulai. Sebab yang paling mengkhawatirkan mungkin bukan isi filmnya, melainkan kebiasaan publik yang terlalu cepat menghakimi sebelum layar benar-benar menyala.


[Anjanisa Munawara]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pesta Babi: Saat Ketakutan Muncul Sebelum Layar Menyala

Terkini

Topik Populer

Iklan