Budaya konsumtif di kalangan Generasi Z semakin meningkat. Banyak anak muda membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena pengaruh tren, konten viral, dan gaya hidup aesthetic yang populer di Media Sosial. Produk seperti skincare, fashion, aksesoris, hingga dekorasi kamar sering menjadi barang yang dibeli secara impulsif demi mengikuti tren yang sedang ramai.
Konten “haul”, “unboxing”, dan rekomendasi influencer turut memengaruhi keputusan membeli.
Tidak sedikit Generasi Z merasa takut tertinggal tren atau mengalami fear of missing out (FOMO) sehingga terdorong membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kemudahan belanja online, promo besar, dan fitur paylater juga membuat perilaku konsumtif semakin sulit dikendalikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membentuk pola konsumsi generasi muda. Gaya hidup konsumtif akhirnya menjadi bagian dari identitas sosial dan cara untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Padahal, kebiasaan membeli barang berlebihan dapat berdampak pada kondisi finansial dan memicu perilaku boros sejak usia muda.
Karena itu, Generasi Z perlu lebih bijak dalam membedakan kebutuhan dan keinginan saat berbelanja. Kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan konsumsi yang lebih terkontrol penting dilakukan agar tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang hanya memberikan kepuasan sementara. [Alya Israj Fatin]
