Iklan

Iklan

Negara Ini Tidak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Kekurangan Orang yang Mau Mengaku Salah

5/12/26, 19:18 WIB Last Updated 2026-05-12T12:18:05Z


Sebuah video lomba cerdas cermat mendadak viral di media sosial. Dalam video tersebut, seorang siswi berdiri di depan dewan juri dan mempertanyakan keputusan yang dianggap tidak adil. Potongan video itu kemudian menyebar luas, memancing perdebatan panjang tentang jawaban, penilaian, hingga siapa yang sebenarnya benar.


Namun, yang menarik perhatian publik sebenarnya bukan sekadar soal lomba.


Di balik perdebatan itu, masyarakat melihat sesuatu yang jauh lebih dekat dengan realitas sehari-hari: sulitnya orang dewasa mengakui kemungkinan dirinya salah.


Kasus tersebut menjadi sensitif bukan hanya karena adanya dugaan kekeliruan dalam penilaian. Bukan pula sekadar soal poin atau kemenangan. Publik merasa terganggu karena melihat bagaimana sebuah kesalahan tampak dipertahankan mati-matian demi menjaga wibawa.


Ironisnya, semua itu terjadi di ruang pendidikan—tempat di mana nilai kejujuran dan sportivitas seharusnya dijunjung tinggi.


Sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk jujur, berani mengakui kesalahan, dan menerima kritik dengan lapang dada. Namun dalam praktiknya, ketika orang dewasa berada di posisi yang salah, situasi sering berubah menjadi pembelaan demi pembelaan. Mulai dari alasan teknis, kesalahan komunikasi, hingga dalih “salah dengar” kerap muncul untuk menghindari pengakuan sederhana bahwa keputusan yang diambil memang keliru.


Fenomena ini bukan sekadar persoalan lomba sekolah. Ia mencerminkan budaya yang lebih besar dalam kehidupan sosial.


Di banyak tempat, orang yang memiliki jabatan atau posisi sering merasa harus selalu benar. Kritik dianggap ancaman, sementara mengoreksi pihak yang lebih tua masih dipandang sebagai tindakan tidak sopan, meskipun koreksi tersebut disampaikan dengan alasan yang jelas.


Akibatnya, banyak orang lebih memilih mempertahankan ego daripada memperbaiki keadaan.


Respons publik terhadap siswi yang berani menyampaikan protes justru menunjukkan perubahan sikap generasi muda. Banyak orang memuji keberaniannya, bukan hanya karena isi protesnya, tetapi karena ia berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil di hadapan orang-orang yang memiliki otoritas.


Hal itu menjadi sinyal bahwa generasi muda mulai lelah dengan budaya “yang tua selalu benar”.


Dalam kehidupan sehari-hari, budaya semacam ini sebenarnya sering muncul dalam berbagai bentuk. Di ruang kelas, kantor, birokrasi, bahkan lingkungan keluarga, masih banyak orang mempertahankan posisi bukan karena benar, tetapi karena tidak siap menerima rasa malu ketika harus mengakui kesalahan.


Padahal, mengakui kesalahan tidak pernah membuat seseorang tampak kecil. Sebaliknya, sikap tersebut justru menunjukkan kedewasaan dan integritas.


Sayangnya, keberanian untuk berkata “saya keliru” terasa semakin langka.


Negeri ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Gelar akademik bertambah, sertifikat berjejer, dan jabatan terus meningkat. Namun di saat yang sama, kerendahan hati untuk menerima kritik dan mengakui kekeliruan justru semakin sulit ditemukan.


Mungkin itulah sebabnya video lomba cerdas cermat itu begitu menyentuh perhatian publik. Karena yang sedang disaksikan masyarakat bukan hanya soal jawaban kuis, melainkan gambaran kecil tentang bagaimana ego sering bekerja di negeri ini.


Sebuah negeri yang kaya akan orang pintar, tetapi masih terlalu miskin dalam keberanian mengakui kesalahan.


[Miftahul Jannah]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Negara Ini Tidak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Kekurangan Orang yang Mau Mengaku Salah

Terkini

Topik Populer

Iklan