Iklan

Iklan

Meugang dan Nilai Kebersamaan dalam Masyarakat Aceh

5/27/26, 19:55 WIB Last Updated 2026-05-27T12:55:17Z


Banda Aceh - Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak tradisi budaya dan keagamaan yang masih dijaga hingga sekarang. Salah satu tradisi yang paling terkenal dan selalu dinantikan masyarakat adalah tradisi meugang. 


Tradisi tersebut dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Dalam pelaksanaannya, masyarakat Aceh membeli, memasak, dan menikmati daging bersama keluarga di rumah masing-masing.


Meugang bukan hanya sekadar tradisi makan daging bersama, tetapi juga memiliki makna sosial dan religius yang sangat kuat bagi masyarakat Aceh. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus menjadi momen silaturahmi. 


Menurut sejarah, tradisi meugang sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, pihak kerajaan menyembelih hewan dalam jumlah besar kemudian membagikan daging kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat. Tradisi tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.


Menjelang hari meugang, harga daging di pasar biasanya melambung tinggi karena banyaknya permintaan masyarakat. Meskipun demikian, banyak warga tetap berusaha membeli daging karena menganggap meugang sebagai tradisi yang tidak boleh ditinggalkan.


Berbagai masakan khas Aceh juga biasanya disajikan saat meugang, seperti kuah beulangong, sie reboh, rendang, gulai daging, dan sate matang. Aroma masakan dari rumah-rumah warga menciptakan suasana yang khas dan penuh kehangatan. Selain makan bersama keluarga, sebagian masyarakat juga membagikan daging kepada tetangga, anak yatim, dan warga kurang mampu sebagai bentuk kepedulian sosial.


Tradisi meugang tidak hanya memberikan dampak sosial dan budaya, tetapi juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Pedagang daging, rempah-rempah, dan kebutuhan pokok lainnya mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan hari biasa karena meningkatnya jumlah pembeli. Aktivitas ekonomi di pasar pun meningkat menjelang pelaksanaan meugang.


Di tengah perkembangan zaman modern, masyarakat Aceh masih tetap mempertahankan tradisi meugang sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Banyak generasi muda juga mulai dilibatkan dalam pelaksanaan tradisi. Oleh karena itu, meugang bukan hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan keagamaan yang sangat penting bagi masyarakat Aceh. [Muntazah]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Meugang dan Nilai Kebersamaan dalam Masyarakat Aceh

Terkini

Topik Populer

Iklan