Iklan

Iklan

Gugurnya Monopoli Kemuliaan: Saat Tuhan Memilih "Pemain Cadangan"

3/23/26, 09:55 WIB Last Updated 2026-03-23T02:55:40Z

 

Teuku Alfin Aulia, Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Oleh: Teuku Alfin Aulia, Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Mahasiswa Al Azhar, Kairo, Mesir.


Dalam panggung sejarah yang maha luas, ada sebuah hukum besi yang sering kali dilupakan oleh mereka yang sedang berada di puncak: Kemuliaan bukanlah hak milik abadi, melainkan amanah yang bisa disita kapan saja.


Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang menggetarkan dalam surah Muhammad ayat 38: “...dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu.” Ayat ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah maklumat tentang dialektika Istibdal—proses pergantian besar-besaran ketika pemegang mandat utama mulai kehilangan arah.


Ironi Bangsa Terpilih


Dahulu, bangsa Arab berdiri di garda depan. Bukan karena mereka memiliki "darah biru" spiritual, melainkan karena mereka menebus kemuliaan itu dengan keringat dan darah di jalan jihad. Namun, sejarah adalah guru yang jujur. Ketika zona nyaman mulai menyihir, ketika dunia menjadi lebih berharga daripada prinsip, Tuhan tidak membiarkan cahaya agama ini redup. Dia justru memanggil mereka yang selama ini dianggap "orang asing" (Ajam).


Kita melihat bagaimana estafet kepemimpinan itu berpindah secara dramatis. Ketika gairah itu memudar di gurun pasir, ia bersemi di dataran Persia, tangguh di tangan kaum Seljuk, kokoh di bawah panji Kurdi, hingga mencapai puncaknya di kekaisaran Turki. Mereka datang dari luar, membawa energi baru, memeluk agama ini dengan gairah yang sering kali melampaui mereka yang merasa sebagai "pemilik asli."


Paradoks Penolong: Tak Harus "Suci" untuk Berkontribusi


Salah satu realitas yang paling sulit diterima oleh kacamata sempit kita adalah cara Tuhan memilih pembela-Nya. Kita sering terjebak dalam sekat-sekat: Apakah dia Sunni? Syiah? Salafi? Asy'ari? Seolah-olah Tuhan hanya bekerja melalui mereka yang labelnya sudah kita setujui.


Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban ini sering kali diselamatkan oleh tangan-tangan yang mungkin tidak kita anggap ideal. Rasulullah SAW pernah bersabda dengan nada yang sangat reflektif:

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguatkan agama ini dengan perantaraan orang yang fajir (gemar berbuat dosa/jahat).” (HR. Bukhari dan Muslim).


Ini adalah sebuah tamparan bagi kesombongan rohani kita. Islam adalah milik Allah, dan Dia memiliki hak prerogatif untuk membangkitkan siapa pun—bahkan mereka yang dianggap cacat secara moral atau berbeda secara ideologis—untuk menjadi benteng bagi agama-Nya jika kita yang merasa "saleh" ini memilih untuk diam dan berpangku tangan.


Ketakutan: Gejala dari Amanah yang Terlepas


Hari ini, fenomena ketakutan yang menjalar di dada ummat bukan sekadar masalah geopolitik. Itu adalah gejala spiritual. Saat kita mulai tunduk pada narasi lawan dan mengabaikan semangat perjuangan (jihad dalam makna luasnya), saat itulah kita sebenarnya sedang "mengundurkan diri" dari posisi terhormat di mata Tuhan.


Sejarah tidak pernah menunggu siapa pun. Jika kita memilih untuk "duduk" sementara dunia membutuhkan mereka yang "berdiri", maka jangan terkejut jika besok kita melihat wajah-wajah baru yang muncul dari arah yang tidak pernah kita duga. Mereka mungkin bukan dari bangsa kita, bukan dari organisasi kita, atau bukan dari cara pandang kita.


Islam tidak pernah dalam bahaya; kitalah yang sedang dalam bahaya kehilangan relevansi di hadapan Allah. Pertanyaan besarnya bukanlah "kapan Islam akan kembali jaya?", melainkan: "Masihkah kita menjadi bagian dari sejarah itu, atau kita hanya akan menjadi catatan kaki tentang sebuah kaum yang pernah ada lalu digantikan?"


Tulisan opini menjadi tanggung jawab penulis.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Gugurnya Monopoli Kemuliaan: Saat Tuhan Memilih "Pemain Cadangan"

Terkini

Topik Populer

Iklan