INH

Iklan

Iklan

Peran Keluarga dan Pendidikan Anak

11/22/20, 19:37 WIB Last Updated 2020-11-22T12:37:29Z

WASATHA.COM - Berbicara tentang keluarga, begitu banyak definisi atau pengertian yang di hasilkan oleh kata “keluarga”. Hampir setiap harinya kita selalu mendengar kata “keluarga”. Secara umum keluarga dapat kita artikan dalam berbagai macam makna. Banyak orang yang memiliki pemikiran sendiri untuk mendefinisakan mengenai arti keluarga. Bahkan, di dalam aspek ekonomi, budaya, dan sosial, keluarga tentu saja memiliki arti yang berbeda-beda. 


Namun, perlu kita ketahui bahwa pengertian keluarga secara umum adalah kelompok sosial yang mendasar dalam masyarakat yang umumnya terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka. Orang-orang yang tergabung dalam satu keluarga ini umumnya memiliki komitmen jangka panjang satu sama lain dan sebagian besar tinggal dalam satu atap bersama-sama untuk menjalankan roda kehidupan.


Jika kita lihat dari sudut pandang ilmu sosiologi, keluarga adalah sebuah kelompok domestik intim dari orang-orang yang terkait satu sama lain dengan ikatan darah, perkawinan seksual, dan ikatan hukum. Penjelasan ini akan sering dipaparkan dan sering kita dengar saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) apabila kita mengambil jurusan IPS bidang sosiologi.


Dalam sebuah keluarga terdiri dari seorang Ayah yang merupakan kepala keluarga yang menopang, tumpuan atau menjadi tulang punggung dari sebuah keluarga tersebut, Kemudian seorang Ibu, yang pada umumnya adalah seorang ibu rumah tangga namun, ada beberapa ibu yang memilih untuk berprofesi dan pada dasarnya ibu ini berperan sangat penting juga dalam kehidupan berkeluarga ini terutama dalam hal mengurus anak-anak dan mengurus kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Selanjutnya adalah anak, individu ini berasal dari rahim seorang ibu yang sebelumnya telah melalui proses yang lebih lanjut lalu berkembang selama 9 bulan dan setelah itu lahirlah sebuah individu yang biasa kita disebut sebagai seorang anak.


Menjadi seorang anak, keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dan utama dalam kehidupannya. Saat pertama kali anak dilahirkan, orang tua adalah orang yang pertama yang ia lihat dan dengar. Selain itu, orang tua juga merupakan pendidik pertama bagi anak-anaknya. Hal ini tersirat dimana saat orang tua memiliki seorang anak, mereka akan mengajarkan anaknya bagaimana cara berbicara, berjalan, makan dengan benar, serta kemana anak harus pergi ketika ingin buang air sekalipun.


Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Harris Iskandar mengatakan, keluarga adalah pendidikan pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku individu. Oleh karena itu lingkungan keluarga yakni orang tua dinilai sangat penting, karena kehidupan serta karakter seorang anak sebelum masuk ke dunia pendidikan sekolah terbentuk disini. Sehingga keluarga sangat berperan penting untuk anak ketika akan memasuki dunia pendidikan di sekolah.


Pendidikan adalah faktor yang paling mendasar dalam kehidupan manusia, seperti kata-kata yang sangat populer dalam dunia pendidikan. “Pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia”  ini berarti proses yang membuat makhluk yang bernama manusia memiliki sifat manusiawi atau sesuai kodrat manusia melalui sebuah pendidikan.


Ada tiga aspek penyelenggara perkembangan pendidikan pada anak yaitu, keluarga, masyarakat, dan sekolah, masing-masing mempunyai hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, dan dalam hal ini keluarga merupakan aspek yang paling penting dan utama dalam perkembangan pendidikan seorang anak dimulai dari usia anak sejak dini.


Faktanya yang kita lihat hari ini, setiap orang tua menginginkan anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang berkualitas dan ternama, tak jarang juga orang tua rela mengeluarkan biaya yang mahal demi anaknya agar dapat menempuh pendidikan di sekolah yang bertaraf internasional sekalipun. Bagi orang tua yang mampu, uang bukan menjadi sebuah persoalan jika anaknya mau. Namun bagi orang tua yang berpenghasilan tidak tetap dan pas-pasan (keluarga sederhana), dapat menyekolahkan anaknya saja sudah cukup membuat mereka puas dengan bermodal tekad yang kuat serta doa agar anaknya kelak menjadi kebanggaan mereka.


Dalam hal ini, tidak dipungkiri anak yang belajar di sekolah bertaraf internasional sekalipun, belum tentu memiliki akhlak yang baik sesuai dengan pendidikan yang diterima di lembaga pendidikan tersebut apabila tidak ada faktor keluarga yang mendukungnya. Sehingga dengan adanya faktor pendukung dari keluarga, walaupun anak belajar di sekolah standar biasa sekalipun ia akan menjadi semangat dalam belajar dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolahnya. Dengan demikian, disinilah sangat diperlukannya peran aktif awal dari orang tua (keluarga) kepada anak saat sebelum menempuh pendidikan dan saat sedang menempuh pendidikan.


Kita saat ini masuk kepada era revolusi industry 4.0, era serba digital dalam segala hal, mulai dari urusan dapur sampai urusan pendidikan dan pelayanan dalam segala hal, baik di bidang transformasi yang serba online, tidak ada lagi yang dinamakan susah dan sulit semua teknologi menawarkan fasilitas yang serba mudah dan memungkinkan. Oleh karena itu era serba digital saat ini, kebanyakan sekolah telah memakai media internet dalam proses pembelajaran. Selain orang tua (keluarga), pihak sekolah adalah salah satu tim pengawas tua ketika anak menjelajahi dunia maya. Namun sebaliknya, fenomena yang membuat hati miris dalam era digital saat ini, maraknya anak dibawah umur yang bermain media sosial internet (medsos) tanpa pengawasan orang tua ketika proses belajar mengajar di sekolah telah usai. Mereka mulai membuka situs-situs yang tidak layak untuk dilihat, mencoba merokok, narkoba, seks bebas serta menjadi seorang pem-bully. Ini merupakan contoh-contoh dari anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tua atau keluarga yang sibuk dengan pekerjaannya, tanpa memiliki waktu untuk anak atau karena orang tua tersebut terlalu menuntut anaknya untuk menjadi seperti yang mereka inginkan tanpa peduli keinginan dari anaknya sendiri, baik di bidang cita-cita maupun hobinya. Sehingga anak merasa tertekan dan mulai menjadi seorang yang menutup diri dari keluarga dan mencoba-coba hal negatif diluar pengawasan orang tua (keluarga).


Sebagai orang tua (kelurga) yang mendambakan kesuksesan anaknya dalam kelurga, harusnya dapat memberikan peran aktif pada anaknya. Seperti menjalin komunikasi dan interaksi yang yang baik, menciptakan kondisi belajar di rumah yang kondusif, mendukung bakat anak, memberikan apresiasi terhadap prestasi yang telah dicapai anak, mendampingi serta menjadi pendengar yang baik untuk anak, dengan demikian orang tua akan menjadi alasan dan faktor pendorong anak dalam proses pendidikannya, baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua (kelurga) juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah agar bisa mengetahui perkembangan belajar anaknya di sekolah.  Dengan adanya dukungan dari orang tua dan keluarga membuat anak merasa dicintai, disayangi dan diharapkan, dengan demikian anak menjadi lebih semangat  dalam menempuh dunia pendidikan. 


Dengan demikian, dalam mempelajari hal-hal yang baru, anak-anak juga akan memiliki interaksi yang baik dengan orang tuanya. Anak akan meminta pendapat pada orang tuanya apakah yang akan dipelajari tersebut memiliki dampak baik atau buruk, ini dikarenakan anak telah mempercayai orang tuanya sebagai mitranya dalam interaksi dan belajar.


Oleh sebab itu, sebagai orang tua (keluarga) harus lebih memperhatikan dan memberikan interaksi yang lebih terutama di bidang pendidikan kepada anaknya dimulai sejak usia dini sehingga proses kehidupan pendidikan anak terkontrol dan sesuai seperti yang diharapkan para orang tua (keluarga) pada umumnya.


Penulis : Alpin Daya Aboni (Mahasiswa Sosiologi Agama, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Peran Keluarga dan Pendidikan Anak

Terkini

Topik Populer

Iklan