INH

Iklan

Iklan

Desa Balohan, Pesona Budaya di Ujung Pulau Sumatera

11/12/20, 20:56 WIB Last Updated 2020-11-12T13:56:21Z


“Nanggroe Aceh nyoe tempat u lon lahe. Bak ujong pante pulau la Sumatra. Dile barokoen dalam jaroe kaphe. Jinoe hana le Aceh la ka jaya (Negeri Aceh ini adalah tempat ku dilahirkan, Di ujung pantai Pulau Sumatera, Dulunya ditangan penjajah Kafir, Sekarang tidak lagi, Aceh telah jaya),”.

 

Penggalan syair itu terdengar sayup-sayup dari kejauhan tepat barisan muda-mudi tampak serentak memamerkan suara khas mereka, seolah sedang berbicara kepada siapa saja tentang Aceh dan kebanggaannya akan tanah kelahiran. 


Aceh adalah salah satu provinsi yang diberi status sebagai daerah istimewa juga diakui sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia,  karena kala itu kesultanan Aceh merupakan negara terkaya, terkuat dan termakmur di selat malaka, maka tak heran bila daerah ini menjadi wilayah paling menjunjung nilai agama.

 

Selain sebagai daerah istimewa, Aceh juga kaya akan keberagaman budaya dan pariwisata. Seperti kota Sabang, kota terkecil  yang terletak di ujung Sumatera, tempat awal mula titik Indonesia dimulai, yaitu titik Nol tepatnya Kota Sabang. nama kota ini telah dikenal oleh semua orang baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara dengan keindahan alam bawah lautnya. 


Mengulang sejarah ratusan tahun yang lalu, nama Sabang bermula dari pedagang Arab yang berlayar sampai ke pulau Weh dan menamakannya sebagai Shabag yang berarti gunung meletus. Dari sumber lain dikatakan bahwa nama pulau Weh berasal dari bahasa Aceh yang berarti terpisah. Pulau ini pernah dipakai oleh Sultan Aceh untuk mengasingkan orang-orang buangan. Pulau Weh dan kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah pelabuhan terpenting di selat Malaka.



Selain keindahan bahari yang mempesona, Kota Sabang juga memiliki budaya yang sangat menarik untuk diketahui, salah satunya budaya di tanah kelahiran saya yang terdapat di Desa Balohan.


 Di Desa ini masyarakatnya dikenal dengan keramah tamahan, situs budaya yang masih terjaga, tradisi tahunan yang terus dibudayakan, pemuda-pemudi yang sudah mencetak segudang prestasi terutama dibidang seni. Balohan akan lebih maju bila di sokong dengan fasilitas pendukung yang lengkap untuk mengenalkan warisan budaya baik kepada generasi penerus dimasa mendatang maupun kepada wisatawan.

 

Ya, Desa Balohan merupakan desa yang menjadi gerbang awal dari Kota Sabang pasalnya Pada tahun 1963 pelabuhan di desa Balohan ditetapkan menjadi pelabuhan bebas atau dikenal dengan sebutan Free Port. Di sini terdapat pelabuhan sebagai jalur keluar masuknya pendatang ke Sabang. 


Konon katanya nama Balohan sudah ada sebelum Indonesia merdeka dengan awalnya bernama “Balongan” sebutan dalam bahasa Aceh yang berarti balok, dikenal dengan kota yang didominasi dengan pendatang, dimana pada saat itu jumlah penduduk masih terbilang sangat sedikit, berbeda dengan saat ini dimana jumlah penduduk desa Balohan sudah mencapai 3000 lebih dengan luas 8 Km². Pengakuan ini juga dibenarkan oleh Abdul Muthalib kepala Desa setempat.

 

“Balohan ini sudah ada sebelum merdeka, saat itu dengan jumlah rumah berkisaran antara empat puluh sampai lima puluh, sangat sedikit jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Sabang,” suaranya lantang menjelaskan.

 

Masyarakat di desa Balohan mayoritas menggunakan bahasa Aceh sebagai alat dalam berkomunikasi sehari-hari dan kegiatan berburu ikan-ikan segar persembahan alam menjadi salah satu mata pencarian masyarakat di sini, bisa saja seperti memancing ikan, menarik pukat untuk mendapatkan ikan lebih banyak dan menjadi nelayan yang membawa perahu .

 

Banyak tradisi lain yang ada di Desa Balohan, pulau ini dikenal sebagai tempat persinggahan sehingga ada tradisi yang sudah dibawa harus dilestarikan, seperti memasak bubur Asyura. Jika dikilas balik beberapa cerita beredar dari mulut ke mulut tentang asal muasal bubur Asyura. Konon, bubur ini berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berjuang dalam perang Badar. Saat itu, disebutkan bahwa seorang sahabat Nabi sedang mengolah hidangan untuk para prajurit Islam.

 

Hidangan itu berupa olahan bubur, Rasul tidak menyangka bahwa jumlah prajurit pada saat itu sangat banyak, sementara porsi yang sedang dimasak sedikit. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintah salah seorang sahabat untuk mengumpulkan semua bahan makanan yang mereka temukan, lalu dicampurkan ke dalam olahan bubur yang sedang dimasak dengan tujuan agar semua dapat menikmati hidangan. Itulah mengapa bubur Asyura dimasak dengan berbagai campuran dan dinikmati hingga saat ini terutama di bulan Muharam.

 

Disini bubur tersebut dibuat bersama dengan ibu-ibu desa setempat kemudian dibagikan kepada seluruh warga dengan tujuan untuk mempererat rasa solidaritas antar sesama penduduk desa pada saat menyambut bulan Muharam. Bubur dengan cita rasa gurih ini terbuat dari campuran beras kacang hijau, buah nangka manis, ubi dan bahan-bahan pemanis lainnya sehingga bubur ini disukai oleh semua kalangan dari muda hingga dewasa.

 

Selain itu, desa Balohan masih tertinggal jejak peninggalan penjajah jepang seperti benteng angkatan laut yang menjadi persembunyian tentara Jepang pada masa penjajahan karena sejak 1942-1945 Sabang menjadi pangkalan Angkatan Laut yang besar, oleh sebab itu Pulau Weh dijadikan sebagai titik utama penyimpanan minyak untuk kapal laut yang terletak di pangkalan angkutan laut Sabang oleh pemerintahan Hindia Belanda, ini dibuktikan dengan banyaknya benteng-benteng di desa Balohan yang sekarang sudah menjadi situs cagar budaya. 

 

Benteng-benteng tersebut terurus dengan baik, hanya ditumbuhi oleh beberapa rumput liar tetapi tidak menutup bentuk aslinya, terlihat satu benteng yang sudah diwarnai oleh penduduk sekitar dan benteng ini menjadi salah satu saksi bisu bahwa benar adanya meriam milik jepang namun keberadaannya kini menghilang begitu saja. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Desa.

 

“Zaman dulu di Balohan memang ada meriam asli jepang hanya saja sudah hilang tidak tau kemana, sudah lama di cari tap tidak ditemukan, benteng itu tepatnya berada di Lorong Cot Kuala Desa Balohan,” ingatnya.

 

Di desa Balohan juga terdapat situs cagar budaya religi yaitu dua makam Aulia dari 44 Aulia atau ulama yang ada di Sabang, yang pertama yaitu makam T. Muhammad Daud Syah, makam ini terletak tidak jauh dari jalan raya yaitu sekitar 200 meter, makam ini sangat terawat, bersih dan rapi serta aman karena dikelilingi oleh pagar agar terlindung dari binatang buas.

 

Saban hari banyak pengunjung yang datang berziarah ke makam ini. Diantaranya makam Tgk. Abu Dipasi, yang terletak tidak jauh dari pemukiman warga. Sama halnya dengan makam yang lain, makam ini terlihat bersih dan terawat, dan menariknya tidak jauh dari makam tersebut didirikan pondok pengajian atau dalam bahasa Aceh disebut “Dayah” dengan mengabadikan nama Tgk. Abu Dipasi Al-Aziziyah.

 



Beberapa situs cagar budaya desa Balohan terus dirawat dan dijaga oleh pemerintah desa dengan bantuan warga setempat, penting dilakukan mengingat hal ini sangat berguna untuk pengetahuan generasi penerus. Di sini juga terdapat Balai adat atau dalam bahasa Acehnya di Sebut “Balee adat” yang bernuansa khas Aceh digunakan sebagai tempat musyawarah, pengajian dan pengembangan potensi anak-anak desa dalam mengembangkan budayanya, seperti berlatih dalam kesenian tari dan musik Aceh.

 

Dalam berlatih dan mengembangkan budaya, anak-anak desa Balohan mendapatkan dukungan dan fasilitas berupa tempat berlatih dari pemerintah desa. Hanya saja untuk alat pendukung tergolong minim. Masyarakat di Desa Balohan terus merawat situs sejarah dan cagar budaya, disini para generasi muda juga terus melakukan kegiatan seperti berlatih tari khas Daerah dan bermain musik seperti Tari Tarek Pukat, Ranup Lam Puan dan Laweut, hal ini menjadi tanggung jawab agar budaya tidak punah.

 

Meskipun terhambat karena kondisi finansial, masyarakat disini tetap mendukung dan mengapresiasi anak-anak dalam mengembangkan potensi budaya. Seperti yang dilakukan oleh Usman Daud.

 

“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi anak-anak yang mau ikut dalam pengembangan budaya dan juga kami menyediakan fasilitas, dana atau tempat mereka berlatih seperti balee adat.” Kata Tokoh Masyarakat.

 


Semangat berlatih memang tak pernah pudar namun sayangnya, beberapa kegiatan terhambat karena permasalahan finansial misalnya seperti hilangnya semangat berlatih tarian seudati yang merupakan tarian khas Aceh paling favorit di desa ini dulu. Hambatan juga karena kurangnya fasilitas properti yang dibutuhkan seperti alat musik dan alat pendukung lainnya untuk menunjang tradisi di desa ini. Seperti yang diungkapkan Auni seorang penari yang sudah menekuni dunia seni sejak di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat mengisi waktu luang Auni memilih meluangkan waktu melatih Rapa’i, Tarian Likok dan Saman untuk anak laki-laki. 

 

“Terlahir di Desa yang dikelilingi oleh laut membuat adik-adik senang berlatih di pantai, hawa angin dan pemandangannya membuat mereka seolah menyatu dengan alam, disini mereka bisa berlatih sambil bermain.” Jelas perempuan berkulit sawo matang ini.

 

Auni dengan penuh semangat menjelaskan bagaimana kondisi teman-temannya saat berlatih walau dengan keterbatasan alat, ia berharap kedepannya ada beberapa fasilitas yang mendukung dalam berlatih seperti adanya alat musik, kostum, alat rias dan tenaga pengajar.

 

Auni juga mengharapkan agar setiap tradisi budaya yang ada di Desa Balohan dapat diabadikan sehingga menjadi kenangan untuk generasi penerus seperti adanya karya tulis maupun video dokumentasi yang dibuat oleh putra-puri desa Balohan.

 

“Semoga ada pelatih yang bisa melatih kita dalam mengembangkan budaya Desa ini, seperti guru yang mau mengajarkan karya tulis dan video dokumenter, jadi tradisi budaya di Desa bisa dikenalin ke semua orang.” ujar gadis usia 15 tahun ini.

 

Banyak rencana yang harus dibuat untuk mengenalkan budaya kepada siapa saja terlebih bila ada keinginan kuat seperti anak-anak di Desa Balohan ini. Seperti meresmikan komunitas, menciptakan tari kreasi khas Sabang, Rutin merawat tradisi melalui kegiatan sosial, mengembangkan karya tulis dan video dokumenter serta menghadirkan segala fasilitas lengkap mulai dari alat dan jasa pelatih maka selain tradisi terjaga dengan baik budaya akan dikenalkan hingga ke mancanegara oleh putra putri bangsa dari Balohan untuk Indonesia dari Indonesia untuk dunia. [ Lanscape Official ]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Desa Balohan, Pesona Budaya di Ujung Pulau Sumatera

Terkini

Topik Populer

Iklan