Headlines
Loading...
Cut Nyak Dien, Ibu Perbu Orang Sumedang

Cut Nyak Dien, Ibu Perbu Orang Sumedang


WASATHA.COM - CUT Nyak Dien adalah pahlawan wanita Aceh yang mendapat julukan Srikandi Indonesia. Ia merupakan Anak dari Teuku Nanta Setia, lahir pada tahun 1848 M.

Suami Cut Nyak Dien yang pertama Teuku Ibrahim dari Lamnga, anak dari Teuku Abas Ujung Aron. Dari pernikahan dengan Ibrahim, dikaruniai anak perempuan bernama Cut Gambang. Suami Cut Gambang bernama Teuku Mayet Ditiro, keduanya sahid saat berperang melawan Belanda.

Cut Nyak menikah lagi dengan Teuku Umar Johan Pahlawan. Pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar Syahid ditembak saat berperang melawan Belanda.

Cut Nyak Dien meneruskan jihad melawan Belanda. Ia bersama pasukan bergerilia dalam masa peperangan, perlawanan Cut Nyak Dien sangat merepotkan tentara kompeni saat itu. [LIHAT VIDEO Cut Nyak]

Perlawanan panjang Cut Nyak terhadap Belanda diakhiri dengan pengkhianatan Panglaot, panglima perang. Ia merasa tidak tega melihat kondisi fisik Cut Nyak yang sakit di hutan. Panglaot  melaporkan keberadaannya ke pihak musuh. Pada tanggal 6 November 1905 Cut Nyak ditangkap, Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang pada tangg 11 Desember 1906.

Selama di Sumedang, Cut Nyak dirawat oleh Ulama, Penghulu, pengurus Masjid Agung Sumedang Kiyai Haji Sanusia. Atas perintah dari Pangeran Aria Suria Atmaja atau dikenal dengan sebutan Pangeran Mekkah anak dari Pangeran Aria Kusumah Adinata

Ketika Kiyai Sanusi meninggal tahun 1907, Cut Nyak kemudian dirawat oleh Haji Husna anak kiyai Sanusi. Cut Nyak juga ditemani oleh Siti Khadijah yang juga anak kiyai Sanusi.

Selama di Sumedang, Cut Nyak Dien hanya berkomunikasi memakai bahasa Arab. Keluarga Sanusi, Husna dan Khadijah pandai berbahasa arab karena mereka merupakan tokoh-tokoh Islam di sumedang.

Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 November 1908. Dikuburkan di Kompleks Makam keluarga haji Husna di Gunung Puyuh, Sukajaya Sumedang Selatan. Lokasi makam bersebelahan dengan dengan kuburan Raja-raja Sumedang.

Masa sebelum tahun 1950, masyarakat Sumedang tidak mengetahui Cut Nyak adalah pejuang dari Aceh. Mereka hanya tahu Ibu Perbu yang mengajar ngaji dan ajaran Islam untuk warga Sumedang.

Tahun 1948 setelah Haji Husna meninggal baru diketahui bahwa makam Ibu Perbu ternyata pejuang dari Aceh, Cut Nyak Dien.

Untuk pertama kali, pada tahun 1962 Raden Oemar Sumantri, anak dari Siti Khadijah, yang setia mendampingi cut nyak dien, mengadakan upacara resmi penghormatan atas jasa pahlawan Cut Nyak Dien. 

Tahun 1972 makam Cut Nyak Dien Direnovasi oleh Pemda Sumedang. Lalu pada tahun 1987 Bustanil Arifin bersama Gubernur Aceh Ibrahim Hasan merenovasi kembali dan mendirikan meunasah [mushala] di kompleks Makam Cut Nyak Dien. []

0 Comments: