Mati Karena Tugas Bukan Karena Corona, Benarkah?

Share:

Maraknya penyebaran virus COVID-19  atau virus corona saat ini yang membuat orang-orang tidak bisa leluasa dalam beraktivitas. Hal ini bukan hanya mempengaruhi Indonesia bahkan Negara yang terkenal dengan kecanggihannya sampai saat ini tampaknya belum mampu di meredam penyebaran covid19.

Semua orang terpaksa harus berdiam diri di rumah demi memutuskan rantai penularan COVID-19. Penyebaran yang masih aktif membuat banyak orang merasa panik dan sulit melakukan berbagai beraktivitas. Lalu muncul gagasan dari pemerintah untuk mengurangi aktivitas bersifat keramaian. Sehingga muncul pula istilah work from home (WFH) atau bekerja di rumah, dan juga bagi para pelajar yang mulai menggunakan istilah study at home/home learning atau belajar dirumah tanpa harus berkumpul di sekolah.

Pemberlakuan belajar di rumah bagi siswa atau pelajar baik tingkatan SD, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi merupakan intruksi dari pemerintah. Hal ini sesuai dengan surat edaran Mendikbud Nomor 2 Tahun 2020 tentang pencegahan dan penanganan Covid-19 di lingkungan kemedikbud dan surat edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 Pada satuan Pendidikan.

Berbagai sekolah, madrasah, maupun pesantren sudah menindak lanjut kebijakan tersebut dengan meliburkan segala aktivitas belajar mengajar. Namun, bukan berarti para siswa diliburkan total seperti liburan semester atau sebagainya.akan tetapi siswa diharuskan untuk belajar mandiri di rumah atau home learning berbasis online. Ternyata aturan tersebut mempengaruhi para orang tua siswa dan munculnya dan munculnya persoalan baru. Para orangtua khawatir terhadap anaknya dikarenakan penggunaan smartphone yang  berlebihan akibat factor belajar berbasis online sehingga Sebagian orang tua tidak mungkin mengontrol sepenuhnya kelangsungan belajar.

Sebagaimana pemberitaan tentang banyaknya pengaduan orangtua kepada komisi perlindungan anak Indonesia yang mengeluhkan bahwa anak-anak mereka justru strees karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari guru yang harus dikerjakan dengan deadline yang sempit, selama diliburkan akibat virus corona atau COVID-19. sehingga muncul kalimat baru yang beredar di media sosial, istilah dari anak-anak ”mati bukan karena corona,tapi karena tugas sekolah”.

Di samping itu, para guru atau pengajar juga memiliki beban tersendiri dalam masa karantina ini bahkan tidak kalah dari siswa. Sebagaimana intruksi dan kebijakan pemerintah, para guru pun diwajibkan membuat tugas ataupun soal-soal untuk siswa dan berkomunikasi melalui media online. Guru juga di sibukkan dengan administrasi guru, perangkat pembelajaran, RPP, dan lain sebagainya, bahkan guru dituntut untuk lebih administrative. Padahal para guru tersebut tidak berlatar belakang jurusan ilmu administrasi atau manejemen. Sehingga mengiring kondisi guru pada istilah guru sebagai pendidik sudah pudar dan para pelajar tidak dapat belajar secara efektif akibat belajar berbasis online tidak berjalan dengan semestinya.

Hal ini juga disebabkan dari upaya mengarahkan guru pada penyelesaian administrasi keguruan sebagai laporan kerja bagi atasan. Lantas apa yang harus dilakukan pada saat kondisi seperti ini. Keseluruhan problem tersebut, dapat disikapi dan diatasi oleh pemerintah dengan mengambil kebijakan segera dan menyusun formula baru untuk sistem pembelajaran dirumah agar lebih efektif dan berkualitas seperti belajar tatap muka dalam ruangan. Pemerintah harus tegas dalam hal memekanisme formula baru dan memperhatikan perkembangan kelanjutan Pendidikan dimasa polemic Covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia saat ini.agar kualitas siswa tetap akurat seperti belajar pada umumnya di sekolah.

Seharusnya kebijakan yang diambil pemerintah sudah sangat tepat untuk mengkarantina siswa belajar di rumah. Sehingga kegiatan ini tidak hanya sekedar mengisi kekosongan saja akibat Covid-19 atau virus corona yang melanda.akan tetapi ada Indikator paling utama  yang harus dihasilkan bagi pelajar sebagai outputnya, yaitu adanya perubahan karakter dan kepribadian yang  lebih baik pada diri siswa. Dengan cara mengarahkan siswa agar lebih banyak mendengarkan motivasi, ceramah atau tausiyah, muhasabah diri, membaca sirah nabawiyah, kisah-kisah yang mengunggah jiwa, mengajarkan jiwa social, sikap peduli, semua itu agar siswa terinspirasi dan meningkatkan kualitas mental spiritual, kecerdasan emosional disamping kecerdasan intelektual.
(Izzarul Rafiq, Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam) 

No comments