Kerajaan Islam Melayu Terbesar Di Aceh

Share:

WASATHA.COM - Matahari merangkak naik di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (6/4/2020). Jam tangan pun sudah enunjukkan pukul 10.30 WIB.  Dan istana itu berlokasi disisi kanan jalan lintas Kualasimpang Rantau, Aceh Tamiang.

Memasuki komplek kerajaan Islam Melayu terbesar di Aceh Tamiang tersebut suasananya tampak hening, hanya kicauan burung gereja yang terdengar di telinga. Sebuah mobil sedan berwarna hijau terparkir didepan istana. Komplek kerajan terdiri dari dua bangunan, yaitu bangunan utama istana dan juga pendopo kerajaan.


Bangunan utama ini bergaya Belanda, dibangun dari beton dengan atap genting, khas tempo dulu. Persis disamping istana terdapat sebuah bangunan semi permanen, disitulah pendopo. “Disana sang raja dulunya kerap kali memimpin pertemuan kenegaraan, misalnya bertemu panglima perang dan petinggi kerajaan, para datuk dan raja-rajan kecillainnya juga ketenu di pendopo dengan raja,” kata Tengku. 

Muhammad David yang akrab dipanggil Iboy atau bang Boy, beliau ini adalah cucu keturunan Raja Sulong, raja terakhir di Kerajaan Benua Raja. Iboy merupakan putra dari Tengku Mustafa Kamal atau akrab dipanggil Tengku Ipang. Sedangkan Tengku Ipang sendiri adalah putra keenam Raja Sulong, pewaris takhta terakhir kerajaan tersebut.

"Bangunan utama kerajaan terdiri atas enam kamar. Disini, tempo dulu, merupakan letak singgahsana dan lain sebagainya. Disinilah tamu kerajaan ditemui. “Dan istana sekarang ini ditempati oleh sepupu saya sendiri dan kebetulan orang nya sedang pergi,” sambungnya lagi. Begitu juga dengan pendopo juga ditempati oleh keluarga saya lainnya. Dibelakang istana juga terdapat dapur dan sejumlah kamar yang dulunya dihuni oleh pembantu kerajaan." Sambung bang boy. 

Pada sisi kanan kerajaan terdapat komplek kandang kuda kerajaan dan disebelah kandang kuda tersebut ada kolam kecil yang konon katanya adalah kolam buaya putih peliharaan Raja.

Bang Boy juga menjelaskan bawah dokumen kerajaan atau yang biasa kita sebut harta peninggalan raja banyak tersebar di sejumlah keluarga kerajaan dan yang ada saat ini adalah hanya, baju kebesaran raja, stempel kerajaan yang biasa disebut cap sikureung, pisau tumbuk lada (senjata kebanggaan kerajaan) dan tongkat raja.

Namun sayangnya objek wisata sejarah ini kurang diminati dan nyaris tidak mendapat perhatian dari  Pemerintah Aceh Tamiang. Pemerintah hanya membuat papan nama sebagai objek wisata tapi tidak memfasilitasi tempat bersejarah tersebut. [Mu'arif Akbar, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam]







No comments