Internet Gratis Tak Seindah Yang Dibayangkan

Share:
Ilustrasi. Foto: unsplash

"Keterbatasan perekenomian di kalangan orangtua mahasiswa yang menyulitkan mahasiwa untuk membeli kuota, sehingga terkadang mahasiswa sulit untuk mengikuti kuliah daring karena tidak memiliki kuota,"

Oleh: Darman

WASATHA.COM, Banda Aceh -  Berbagai upaya mulai dilakukan untuk pencegahan wabah virus corona (Covid-19), termasuk di sektor pendidikan. Sistem pendidikan dengan menggunakan metode belajar secara daring pun sudah diterapkan.

Sejumlah kebijakan serta fasilitas mulai diberikan oleh masing-masing sektor pendidikan, salah satunya seperti fasilitas paket internet gratis untuk mengakses situs belajar online.

Fasilitas ini diberikan untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar online mahasiswa selama pencegahan Covid-19. Namun fasilitas internet yang disediakan, dibatasi hanya untuk beberapa ruang belajar seperti ruang guru.

Lain halnya dengan UIN Ar-Raniry, pihak kampus telah bekerjasama dengan penyedia layanan jasa telekomunikasi untuk menggratiskan akses internet bagi para mahasiswa.

Akan tetapi akses internet gratis yang diberikan tersebut hanya sebatas membuka website pembelajaran daring UIN Ar-Raniry seperti siakad.ar-raniry.ac.id, repository.ar-raniry.ac.id, vle.ar-raniry.ac.id dan pusatbahasa.ar-raniry.ac.id.

Sedangkan mahasiswa dan dosen lebih dominan menggunakan Aplikasi classroom, Zoom, dan WhatsApp Grup untuk proses belajar hingga Mei mendatang.

Hal ini tentunya tak seindah seperti ekpektasi yang dibayangkan sebelumnya, bahkan menimbulkan permasalahan tersendiri bagi para mahasiswa.

Salah satu mahasiswa Fakultas Adab, Putra mengatakan paket internet tersebut tidak memfasilitasi mahasiswa untuk mencari referensi di berbagai e-jurnal atau e-book untuk mendukung proses belajar mengajar.

Dikarenakan menurutnya, banyak diantara mereka yang sudah kembali ke kampung dan tidak semua wilayah memiliki perpustakaan untuk mencari buku referensi serta keterbatasan untuk keluar dalam kondisi sekarang ini juga tidak memungkinkan bagi para mahasiswa.

"Akses internet yang diberikan tidak dapat membuka web seperti e-jurnal internasional, e-book searching internet, sehingga menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan jurnal online dan buku-buku online yang tidak bisa diakses menggunakan fasilitas kuota tersebut," kata Putra.

Sementara itu, mahasiswa Fakultas Dakwah, Alfi juga mengatakan hal yang sama.

"Kouta yang digratiskan itu tidak dapat digunakan di semua website, sehingga menyulitkan mahasiswa saat membutuhkan e-jurnal atau e-book," katanya.

Permintaan tugas dari para dosen yang memerlukan kuota ekstra malah menghambat pembelajaran yang terbatas oleh keuangan dan kuota.

Sedangkan tugas yang diberikan oleh para dosen, semua itu membutuhkan daftar pustaka yang resmi dari website yang terakreditasi dan kredibel (terpercaya).

Ia mengharapkan rektor menyediakan fasilitas askes internet dengan melakukan kerja sama dengan pihak penyedia layanan jaringan, baik itu provider tri atau telkomsel dan lain sebagainya.

Hal tersebut berguna menunjang perkuliahan daring melalui berbagai aplikasi yang ditentukan oleh dosen pengajar baik itu melalui classroom ataupun melalui zoom, WhatsApp grup dan sebagainya.

Tentu sejumlah aplikasi tersebut membutuhkan kouta internet yang tidak sedikit.

"Keterbatasan perekenomian di kalangan orangtua mahasiswa yang menyulitkan mahasiwa untuk membeli kuota, sehingga terkadang mahasiswa sulit untuk mengikuti kuliah daring karena tidak memiliki kuota," ungkapnya.[]

No comments