254 meninggal Akibat DBD, Ditengah Pandemi Corona

Share:
Corona dan DBD mengajarkan kita arti penting kebersihan



WASATHA COM.|BANDA ACEH INDONESIA saat ini sedang berjuang melawan pandemi corona yang semaking mengkhawatirkan, di kutip dari Detik News (8/4/2020), hingga saat ini, tercatat ada 2.956 kasus corona,  jumlah meninggal 221 orang dan pasien sembuh 204 orang.

Belum usai kepanikan akibat kasus Corona, Indonesia saat ini juga dibuat Khawatir dengan kasus DBD yang sudah banyak menelan korban jiwa, dikutip dari laman resmi kompas com (6/4/2020), jumlah kematian akibat kasus DBD sudah mencapai 254 jiwa. bedasarkan laporan kementrian kesehatan, di Indonesia sejak Januari sampai 4 april 2020 tercatat 39.876 kasus DBD, angka terbanyak di Jawa Barat 5.894 kasus,  NTT 4.493 kasus Lampung 3.682 kasus, Jawa Timur 3,045 kasus dan Bali 2.173 kasus.

Seperti yang kita ketahui,  DBD adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang telah menyebar dengan cepat di dunia. Virus ini ditularkan oleh nyamuk betina terutama dari spesies Aedes aegypti dan pada tingkat lebih rendah, Ae Albopictus.

Sama halnya dengan virus Corona,  DBD juga memiliki gejala flu dan demam. yang apabila didiamkan, maka akan lebih mengakibatkan komplikasi, seperti pendarahan hebat, kerusakan organ atau bahkan kebocoran Plasma. Apabila DBD sudah sangat parah, penyakit ini memiliki resiko kematian yang sangat tinggi, bahkan pada tahun 2020 jumlah kasus DBD di Indonesia telah menembus angka 39.876 kasus pada periode Januari sampai awal April 2020. untuk saat ini pasien DBD yang meninggal Dunia telah mencapai 254 jiwa.

Dari berita laman resmi CDN, bahwa beberapa bulan terakhir ini  demam berdarah massal terjadi di Papua, dengan penderita mencapai 331 orang dan 3 di antaranya meninggal dunia. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr. Aoron Rumaimum,  di Jayapura, mengatakan 331 orang yang terkena DBD tersebut terbesar di 10 Kabupaten/Kota. Dan terjadinya peningkatan DBD di Papua karena musim hujan belum berakhir sehingga masyarakat di minta waspada dan melakukan pembersihan lingkungan sekitar. " masyarakat harus selalu menutup atau membuang dan membersihkan tempat-tempat penampungan air guna untuk menghindari berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," kata Dr. Aoron.

Adapun dilansir dari lama resmi Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementrian Kesehatan, untuk mencegah penyebaran DBD masyarakat di himbau untuk melakukan aktivitas 3M Plus. Apakah itu 3M Plus?

Yang pertama, adalah menguras, kegiatan ini dilakukan dengan cara menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, tong air, drum, dan tempat penampungan air lainnya. selain itu, tempat-tempat tersebut juga harus dibersihkan secara rutin untuk menghilangkan jentik-jentik nyamuk yang menempel di dinding penampungan air tersebut.

Kedua, adalah menutup kembali rapat-rapat tempat penampungan air untuk menghindari nyamuk bertelur kembali ditempat yang sama. Menutup juga berati mengubur Barang-barang bekas yang sudah tidak dipakai agar tidak berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Kemudian, mendaur ulang barang-barang yang bernilai ekonomis bisa menjadi cara berikutnya untuk menghindari nyamuk berkembang biak.

Adapun cara lainya untuk mencegah DBD adalah menjaga diri dari gigitan nyamuk dengan mengunakan krim anti nyamuk. Hal ini merupakan cara aman berikutnya untuk menghindari gigitan nyamuk yang membawa penyakit demam berdarah.

Di himbau juga untuk masyarakat Indonesia saat ini agar terus memperhatikan kebersihan agar dapat bebas dari virus apapun, terutama Corona dan DBD. ingatlah bahwa sanya yang dapat mencegah penyakit tersebut adalah kebersihan yang dapat kita terapkab dalam kehidupan sehari-hari.

(Fernandi, Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam UIN AR-RANIRY)


No comments