Iklan

Iklan

Pembentukan Forum Anak Desa Tahap II Berjalan Lancar Di Gayo Lues

10/20/19, 15:43 WIB Last Updated 2019-10-20T10:25:19Z


WASATHA.COM, Blangkejeren - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh serta dua fasilitator Forum Anak Tanah Rencong (FATAR), berkesempatan bertatap muka langsung dengan anak yang terpilih menjadi ketua Forum Anak Desa di Kabupaten Gayo Lues, Sabtu (19/10/2019).

Sebelumnya jumlah keseluruhan peserta sebanyak 170 orang anak yang didampingi oleh DPPPA Gayo Lues beserta juga dengan Forum Anak Seribu Bukit, namun dari sekian banyaknya jumlah tersebut sebanyak Sembilan orang terpilih menjadi ketua yang mewakili desanya masing-masing pada acara ini.

Kegiatan pembentukan Forum Anak Daerah tingkat desa tahap II Gayo Lues, sebagai upaya mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) di daerah tersebut.

Amrina Habibi, Kabid Pemenuhan Hak Anak (PHA) DPPPA Aceh sekaligus pemateri acara mengatakan seluruh proses rangkaian kegiatan dikelola dengan sangat terbuka dan menyenangkan dengan adanya partisipasi Forum Anak Seribu Bukit Gayo Lues.

“Kegiatan ini melibatkan berbagai macam rangkaian aktivitas, mulai dari seputar pemahaman terkait Forum Anak, Undang-Undang tindak pidana anak, seputar isu hangat yang terjadi di Gayo Lues, seperti isu pernikahan usia anak, kekerasan anak dan pemahaman Kota Layak Anak (KLA) serta membincangkan tentang kondisi fasilitas yang ramah anak,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan, selain fokus pada pembentukan forum anak tingkat desa DPPPA Gayo Lues dan DPPPA Aceh juga memberikan kesempatan sesi sharing terbuka bagi seluruh anak.

“Adapun yang menjadi titik utama pembahasan dari sesi sharing lebih mendominasi pada perihal lingkungan yang kurang kondusif bagi anak. Hal ini dikarenakan rata-rata desa memilki permasalahan sama seperti, kurangnya kesadaran peduli lingkungan terkait sampah, sarana prasana yang kurang memadai, tidak tersedianya ruang bermain untuk anak serta kurangnya fasilitas penunjang bakat minat anak baik dari segi olahraga maupun kesenian,” jelasnya.

Disamping itu, Amrina juga mengapresiasi bentuk partisipasi bakti sosial yang dilakukan oleh anak-anak desa Gele selepas acara pembentukan Forum Anak Tingkat Desa ini usai.



“Semoga setelah adanya penyampaian pendapat anak tentang isu peduli lingkungan sekiranya pihak pemerintah, masyarakat, dan keluarga dapat bekerja sama dengan segera mangatasi permasalahan ini,” harapnya.

Selain itu Amrina Habibi juga menyampaikan beberapa pesan penting terutama kepada Dinas P3A KB Gayo Lues agar dapat menindaklanjuti hasil pertemuan dengan pembinaan lanjutan dan membangun hubungan baik sejumlah penghulu agar potensi yang di miliki anak tidak tersia-siakan.

“Anak-anak telah menujukkan potensi sangat luar biasa hanya saja bagaimana orang dewasa dapat melihat ini sebagai potensi besar untuk membangun kabupaten Gayo Lues menuju Kota Layak Anak (KLA),” pungkasnya.

Hal senada juga di utarakan oleh Suhardiansyah, Penghulu Desa Ulun Tanoh yang juga turut hadir dalam acara tersebut.

Ia mengatakan sangat mengapresiasi pembentukan Forum Anak Tingkat Desa ini.
  
“Saya sangat apresiasi terhadap pembentukan Forum Anak Tingkat Desa ini, karna akan membantu pemerintah desa dalam menyelesaikan permasalahan anak-anak sebagaimana kebutuhan dan permasalahan anak-anak yang lebih mengetahui serta dana desa sangat siap di alokasikan untuk menunjang Forum Anak Desa," sebutnya.

Sementara itu proses pembentukan forum anak desa, Gayo Lues ini di fasilitasi oleh dua asilitator FATAR Aceh, Septia Karlina dan Syarifah Zahra Salsabila.

Adapun, berikut nama-nama sembilan orang ketua Forum Anak Desa yang telah terpilih dan mewakili masing-masing desanya: Ayyasi Al-Azis (Desa Raklunung), Dody Mobb (Desa Lempuh), Mutia Yara (Desa Leme), Fitri Sulaiha (Desa Uluntanoh), Nurummi Salsabila (Desa Penggalangan), Marleni (Desa Gele), Rani Susila (Bacang), Sandi (Desa Sere), dan Fatih Nuchalis W (Desa Porang).

Kearifan lokal menjadi nilai yang tak luput di kelola oleh anak-anak Gayo Lues, sehingga kegiatan pembentukan Forum Anak Desa selama dua hari penuh dengan makna dan kesan. Lagu Gayo dan juga Didong menjadi tampilan saat proses diskusi dengan padanan kata dalam bahasa Gayo seperti kata, Murum-Murum (Sama-Sama) yang melambangkan semangat kebersamaan. []


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pembentukan Forum Anak Desa Tahap II Berjalan Lancar Di Gayo Lues

Terkini

Topik Populer

Iklan