Hijrah Medsos

Share:
Foto : Hipwee

Oleh: Ria Mardiah
WASATHA.COM - Kini kita telah berada pada zaman ‘muslimah ngaji’ menjadi jutaan, hijab menjadi pujian, dan kata ‘Hijrah’ menjadi banggaan. Maasya Allah, nampaknya Syariat Allah tidak lagi asing bahkan diminati, sunnah Nabi tidak lagi didebati bahkan diindahi.
Jika dahulu shahabiyah berhijab karena Allah Ta’ala, aku berhijab karena mengikut trend modern hari ini. Bukan hanya itu, aku juga berhijab dan berhijrah karena menyukai seorang Ikhwan dan aku termotivasi untuk hadir di majelis ilmu karena ingin baik di matanya, aku juga tertarik berhijab karena melihat temanku yang berhijab lebar. Niatku sesungguhnya bukan karena Perintah Allah dalam QS.An-Nuur:24,31 dan QS.Al-Ahzab:59. Buktinya, aku tak menghafalkan ayat itu atau sekedar menghafal terjemahannya, aku belum cukup membaca tafsirnya apalagi mentadabburinya.
Jika muslimah di zaman Nabi dan shahabat menutup kain ke seluruh tubuhnya dan seutuhnya, aku berhijab karena ingin dilihat. Aku ingin seisi dunia dan jagad dunia maya tahu bahwa aku sedang belajar menjadi baik, yah akulah wanita shalihah yang tertutup tapi agak terbuka sih… Aku suka jika banyak yang memuji keshalihanku, hingga aku menjadi pusat perhatian para lelaki dan sumber insprasi muslimah lain, hingga aku jadi terkenal.
Dulu, muslimah zaman Nabi menutup diri dari celah fitnah dan senantiasa menyembunyikan kecantikan dirinya. Aku di jaman now mengumbar fitnah kemana-mana dengan hijab gelapku yang anggun, hijabku yang lebar berkibar-kibar di akun sosial mediaku, mataku yang indah berhias cadar menggugah misteri buat para ikhwan, gambarku yang siluet dan dari belakang memberi kesan yang dalam dan eksotis kemudian kuberi caption ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi, dan kata-kata mutiara. Sungguh sebenarnya yang ingin kusampaikan memang kebaikan tapi kupadukan dengan mempromosikan atau bahasa kasarnya ‘memamerkan’ diriku pada khalayak bahwa aku telah berhijrah.
Aku mengaku mengikuti Ummahatul Mu’minin namun aku lupa ternyata Ummahatul Mu’minin bermahkota rasa malu, sampai-sampai mereka -radhiallahu’anhuma jami’an- jika berbicara dengan lelaki lain, mereka dibalik tirai hijab, tidak saling melihat apalagi tatap-tatapan, apatahlagi ngobrol basa basi. Sedangkan aku membuka semua celah percakapan dengan lawan jenis tanpa rasa malu, di dunia nyata apalagi di dunia maya, sendirian apalagi di tengah keramaian. Aku berdalih “tidak ngapa-ngapain kok!…’ aku lupa bahwa syaithan itu licik bahkan syaithan mengalir hingga ke darah manusia.
Apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku ini? Inikah yang kusebut-sebut sebagai hijrah?
Inilah aku. Dan aku menyadarinya bahwa selama ini aku salah, padahal aku pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda “Sesungguhnya amalan itu bergantung dari niatnya”. Maka apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku ini jika ternyata usahaku menutup diri, koceh yang kukeluarkan untuk membeli hijab, kaos kaki, gamis, manset, buku-buku, transportasi majelis ilmu.. ternyata sia-sia di sisi Allah hanya karena sesuatu yang tersembunyi di dalam hatiku, ialah niatku!. (Sumber : Ruangmuslimah.co)

No comments