Berbagi Takjil Cerdas, Solusi Pelestarian Alam Sekitar

Share:
Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, pernah merilis bahwa Indonesia merupakan negara kedua setelah Tiongkok yang menghasilkan sampah terbanyak di dunia, jenis sampah terbesar berasal dari sampah plastik sekali pakai 

WASATHA.COM, Banda Aceh  Berkah bulan Ramadhan dapat dirasakan seluruh umat muslim di dunia, semua orang berlomba-lomba melakukan kebaikan seraya memohon rahmat dari Allah SWT. Salah satu hal yang identik dari bulan Ramadhan itu sendiri, khususnya di Indonesia adalah berbagi takjil.

Berbagi takjil adalah proses berbagi makanan kepada mereka yang berpuasa dan biasanya dibagikan pada sore hari ketika menjelang berbuka puasa. Namun kegiatan ini sangat disayangkan, penggunaan wadah plastik sekali pakai semakin menambah koleksi sampah di Indonesia. 

Banda Aceh misalnya, salah satu kota dimana sangat mudah ditemukan lokasi pembagian takjil gratis seperti, di Masjid, Taman Kota, Rumah Sakit, hingga sudut lampu merah menjadi tempat yang paling sering digunakan oleh donatur pembagian takjil. 

Tetapi tanpa disadari, tradisi khas Ramadhan ini meninggalkan persoalan besar, yaitu meningkatnya jumlah sampah plastik sekali pakai dan menjadi problematika terhadap pelestarian lingkungan hidup di kota Banda Aceh.

Salah satu peneliti Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, pernah merilis bahwa Indonesia merupakan negara kedua setelah Tiongkok yang menghasilkan sampah terbanyak di dunia, jenis sampah terbesar berasal dari sampah plastik sekali pakai. 

Penggunaan plastik sekali pakai memang dapat dikatakan sebagai andalan masyarakat Indonesia ketika membeli barang baik di toko kelontong maupun pusat perbelanjaan. Bahkan penggunaan plastik sendiri sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Banda Aceh yang semakin hari semakin meningkat, tanpa ada solusi yang berarti untuk menangulanginya.

Mengingat penggunaan plastik yang semakin meningkat, kondisi ini tentunya diperparah saat bulan Ramadhan yang umumnya masyarakat memanfaatkan wadah takjil dari bahan plastik.
Walau ini sesuatu kegiatan yang mulia yakni berbagi kepada sesama apalagi di bulan suci Ramadhan yang Allah SWT tingkatkan pahala, namun perlu diperhatikan bahwa menjaga kelestarian alam sekitar adalah suatu bentuk tindakan jangka panjang yang sangat mulia pula.

Untuk melestarikan lingkungan hidup serta dapat berbagi terhadap sesama khusunya di bulan Ramdhan penuh berkah ini, tentunya banyak cara yang dapat ditempuh. Salah satunya seperti pembagian takjil menggunakan wadah sendiri, jadi setiap orang yang ingin mendapatkan takjil wajib membawa botol minum dan tempat makan sendiri. 

Sebenarnya hal ini sudah dilakukan sejak dulu, pada pembagian bubur kanji khas Aceh, masyarakat membawa tempatnya sendiri. Selanjutnya, masyarakat yang ingin berbagi juga bisa menggunakan wadah yang lebih ramah lingkungan yakni terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, seperti membungkus makanan dengan daun pisang yang dikreasikan menjadi wadah yang lebih modern dan tentunya juga praktis digunakan. 

Untuk itu sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia khususnya di kota Banda Aceh, sudah seharusnya kita menjaga kebersihan dan merawat kelestarian alam sekitar tentunya untuk masa depan anak cucu kita nanti. Karena suatu budaya belumlah tentu baik, tetapi yang baik perlulah dibudayakan. [Bayu Satria].


No comments