Muasal Kupiah Tungkop

Share:

Perajin Kupiah Tungkop Di Gampong Rawa Tungkop


SABTU
, 3 November saya bersama teman saya menapaki sejarah kebudayaan Kabupaten Pidie di sebuah Gampong, tepatnya di Gampong Rawa Tungkop, kemukiman Tungkop. Matahari siang itu sangat enggan menampakkan dirinya, dengan suasana alam yang redup membuat kami sangat menikmati perjalanan tersebut.

Perjalanan yang kami tempuh lebih kurang 9 kilometer dari Kota Sigli menuju Gampong Rawa Tungkop. Kami sampai di sebuah Rumoh Aceh yang masih berdiri kokoh walaupun di sampingnya terdapat banyak rumah-rumah beton yang sedang dibangun. 

Tujuan kami kesana untuk melihat dan mencari tahu asal muasal KupiahTungkop, kupiah khas Aceh yang sering dipakai saat acara pesta perkawinan masyarakat Aceh dari dulu hingga sekarang. Bahkan telah terkenal hingga keluar Negeri dan menjadi kupiah khas dari provinsi Aceh.

Kupiah Tungkop atau yang lebih dikenal dengan dengan nama kupiah Meukeutop sejak dulu telah menjadi ciri khas dari Aceh, karena telah dipakai oleh Teuku Umar saat melawan penjajah Belanda. Saat ini sudah banyak masyarakat Aceh yang memakai Kupiah Tungkop, hanya saja dipakai pada acara pesta pernikahan.

Banyak orang mengira Kupiah Tungkop ini berasal dari Meulaboh, dikarenakan dipakai oleh pejuang Aceh yaitu Teuku Umar. Sebenarnya Kupiah Tungkop ini berasal dari Tungkop, Bahkan pengrajin Kupiah Tungkop di Meulaboh mendatangkan seorang pengrajin asli dari Tungkop untuk belajar membuat Kupiah Tradisional Khas Aceh ini.

Ibu Radhiah (65) adalah perajin Kupiah Tungkop yang hingga kini masih menekuni pembuatan kupiah tersebut. Ia menjelaska, dulu saat perang Aceh melawan Belanda, Teuku Umar sering berpindah-pindah tempat untuk mengelabui pihak Belanda dan ia pernah singgah Pidie tepatnya di Gampong Tungkop. 

Masyarakat Tungkop menghadiahkan kepada beliau sebuah Kupiah Tungkop yang langsung dipakaikan oleh Tengku Chik di Tiro dan kupiah ini selalu dipakai oleh Teuku Umar kemanapun ia pergi untuk menghargai pemberian dari masyarakat Tungkop.

Hampir semua ibu-ibu dan remaja putri di Gampong itu membuat Kupiah Tungkop. Kerajinan tangan ini sudah dilakukan secara turun temurun. Menurut cerita, pada masa penjajahan Belanda ada seorang nenek yang membuat Kupiah Tungkop. Ia bernama nek Sapiah, setelah Sapiah meninggal kerajinan tangan ini dilanjutkan oleh generasi selanjutnya hingga sekarang.

Awalnya sangat sedikit yang membuat kupiah ini. Faktornya adalah Proses yang sangat rumit dan membutuhkan waktu yang lama serta kesabaran yang tinggi. Untuk pembuatan satu Kupiah saja menghabiskan waktu hingga 15 hari.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat Rawa Tungkop yang membuat kerajianan tangan ini, bahkan telah dimodifikasi dengan bermacam gaya dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya. Kupiah Tungkop memiliki corak tersendiri dengan berbagai perpaduan warna.

Kupiah ini terbuat dari kain teteron yang terdiri dari beberapa varian warna, yaitu merah, kuning, hijau dan hitam. Setiap warna mempunyai arti tersendiri, seperti warna merah yang bearti keberanian (kepahlawanan), kuning artinya kerajaan atau Negara, hijau menandakan agama serta warna kesukaan Rasulullah dan warna hitam bermakna ketegasan dan keseabaran hati.

Di awal pembuatannya semua kain dipotong segi empat dengan ukuran kecil, lalu dirajut satu persatu menjadi satu bagian, dan diberi kapas yang telah dibentuk bulat panjang sebagai penahan dari kain tersebut. Setelah itu dirajut pada pinggiran bawah kupiah.

Di lingkaran bagian bawah kupiah terdapat motif “Lam” dalam huruf hijayyah. Motif yang sama juga terdapat dilingkaran kupiah bagian atas, hanya saja ukurannya lebih kecil. Di bagian puncaknya, Kupiah Tungkop terdapat rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas yang bertingkat tiga.

Secara keseluruhan Kupiah Tungkop terbagi dalam empat bagian. Setiap bagian mempunyai arti tersendiri. Bagian pertama bermakna Hukum, bagian kedua bermakna Adat, bagian ketiga bermakna qanun, dan bagian ke empat bermakna Reusam.

Dengan pembuatan yang begitu detil dan membutuhkan waktu yang lama tak heran jika Kupiah ini memiliki harga jual cukup bergengsi. Di pasaran kupiah ini diijual mulai dari harga 250 ribu hingga 600 ribu rupiah. [Aminah]

No comments