Buah Ketulusan

Share:
T Lembong Misbah

KESUNGGUHAN dan kebersihan jiwa, terpancar dari hati yang suci akan menjadikan diri seseorang sebagai insan yang senantiasa dicintai manusia dan Rab-Nya. Niscaya, kesuksesan itu didapati oleh mereka yang punya ketulusan dan kesungguhan dalam melakukan sesuatu hal.

Ali dan Amir adalah dua pemuda sekampung yang rumahnya bersebelahan, keduanya sedang mondok di  Pesantren Bestari yang tidak jauh dari kampung mereka. Ali dan Amir dikenal punya kepribadian yang berbeda. Ali dikenal punya pikiran lues, santun dan suka menolong siapa saja. Sementara Amir sosok yang penuh kepura-puraan dan suka pamrih.

Di akhir bulan, biasanya pimpinan pesantren membolehkan santrinya untuk pulang ke rumah masing-masing untuk melepas rindu dan yang terpenting menambah  logistik harian seperti beras, sayur-mayur, ikan asin dan lain-lain.

Maklum, pesantren ini belum mampu mengatur dapur umum, maka masing-masing santri harus memasak kebutuhannya sendiri.

Ali dan Amir tentunya sangat girang, sebab mereka adalah santri baru yang belum pernah pulang ke rumah setelah mereka di antarkan ke Pesantren Bestari. Menjelang sore Ali kembali ke pesantrennya dengan membawa sejumlah kebutuhan dan tak lupa untuk menyisihkan sebagian sayur mayur sebagai oleh-oleh untuk pimpinan pesantrennya yang biasa mereka panggil dengan Abu.

Tidak lama kemudian Ali kembali ke rumahnya sambil manarik seekor kambing jantan yang sehat dan kekar.

Karena suaranya yang unik, Amir keluar dari rumahnya: “Itu kambing dari mana?” tanya Amir.

“Dari Abu,” jawab Ali.
“Kok bisa dikasih sama kamu?” tanya Amir lagi.

"Ya, begini ceritanya," kata Ali

"Tadi sepulang dari sini saya bawakan daun ubi yang kupetik sendiri dari kebun kami, lalu saya berikan kepada Abu, setelah itu Abu memberikan kambing ini kepada saya,” jawab Ali dengan polos.

“Oo begitu ya,” jawab amir dengan penuh keheranan.

Dalam benak amir terus mengawang-awang, "Wah si Ali bawa daun ubi, kemudian dikasih kambing oleh Abu. Jadi kalau saya bawa seekor kambing ini pasti Abu akan kasih ke saya kerbau,"

Tanpa pikir panjang, Amir mengeluarkan seekor kambing jantan yang besar kesayangan keluarganya, sekalipun orangtuanya berberat hati, tapi Amir dengan nada meyakinkan terus membawa kambing itu.

Sesampainya di pesantren dengan penuh basa-basi, Amir memberikan kambing kesayangan keluarganya itu, Abu tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Sejenak kemudian, suasana hening tanpa suara, hati Amir berdegup kencang. Tiba-tiba, Abu berseru, “wahai Ummi (panggilan untuk istri), coba kamu lihat apa yang ada di belakang?"

"Daun ubi Abu," jawab Ummi.

"Baik kalau begitu bawakan daun ubi itu kemari," pinta Abu.

“Amir, kami hanya punya daun ubi ini, maka bawalah sayur ini untukmu," kata Abu

 “Terimakasih Abu,” jawab Amir dengan wajah tertunduk lesu.

Kelakuan seperti Amir di atas kerap kita jumpai di dunia nyata, betapa banyak orang memasang topeng kebaikan manakala ia punya hasrat tentang sesuatu.

Calon anggota dewan misalnya, acapkali berubah menjadi pribadi yang shaleh, dermawan, suka membantu, perhatian dan lain sebagainya, ketika masa pemilihan semakin dekat.

Begitu pula dengan sebuah even “lelang jabatan” kadangkala orang yang sebelumnya tidak dikenal, berubah menjadi sok akrab, tutur katanya manis, tiap hari nelepon minta ngopi, ngirim pesan di medsos yang indah-indah, berkunjung ke rumah dengan membawa “buah tangan” sembari diikuti kata-kata penuh basa-basi.

Bagi yang mengerti tentu dalam hatinya geli melihat dagelan semacam ini.

Acapkali di antara kita salah dalam memahami kesuksesan untuk mendapatkan suatu posisi, sebahagian orang merasa bahwa kesuksesan itu karena loby-loby, padahal sebenarnya loby terkuat dalam mencapai suatu posisi adalah ketulusan, kesungguhan dan potensi diri kita sendiri yang dianggap layak untuk memangku posisi tersebut.

Bahasa perbuatan jauh lebih efektif daripada bahasa lisan, kata Ibnu Rusydy. Hal itu terbukti dari ketulusan dan kebeningan jiwa seorang  santri yang bernama Ali.

[T Lembong Misbah adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry]

No comments