Akhi, Beratkah Langkahmu Menuju ke Masjid?

Foto: Imgrum.net

SEMAKIN berkembangnya teknologi semakin sering pula kita melupakan sekitar, semakin modernnya kehidupan saat ini semakin kurang pula waktu kita untuk membuat kebaikan ,kerap  kali kita lalai  dan meninggalkan shalat hanya untuk menghabiskan waktu di warung kopi, meskipun hanya untuk menghilangkan penat.

Warung kopi sudah menjadi tempat ternyaman bagi kita saat ini. Mulai dari pagi hingga pagi kembali kita menghabiskan waktu di tempat yang pengap dengan berbagai aroma,warung kopi menjadi tempat yang kita anggap dapat mengusir jenuh, tempat untuk berkumpul berbagi penat saat seharian lelah kuliah, bekerja, dan sebagainya.

Bahkan warung kopi saat ini sudah seperti rumah kita sendiri, suasana yang begitu ramai sekarang berubah menjadi suasana alam yang begitu damai, sehingga membuat kita lupa berapa lama kita menghabiskan waktu di tempat yang aslinya adalah tempat yang dapat menjadikan kita seorang yang lupa akan kewajiban kita. lantas dimana langkah kita untuk ke Masjid? sehingga kita melupakan tempat yang seharusnya menjadi tempat paling utama yang harus dikunjungi setiap harinya.

Berapa banyak nikmat yang Allah beri? Lalu berapa kali kita mensyukuri ? Tempat yang harusnya kita datangi saat hati sedang bahagia adalah rumah-Nya, untuk apa? Untuk mensyukuri apa yang telah Allah beri pada kita. Tempat yang kita datangi saat hati sedang gundah juga rumah-Nya,untuk apa? agar Allah tahu kita membutuhkannya. Tetapi saat ini kenapa kita lebih senang menghabiskan waktu di tempat yang semakin menambah beban dalam diri kita. Kenapa kita tidak pernah berpikir bahwa semakin senang kita di dunia maka semakin susah kita di akhirat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahihnya :

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Hadits ini menjadi tolak ukur kita untuk menilai bagaimana daerah kita sekarang. Apakah negeri kita sudah menjadi negeri yang di cintai Allah ? Saat ini mesjid sudah menjadi tempat yang paling jauh dari hidup kita, layaknya seseorang yang dulunya kita anggap sebagai sahabat tempat kita menceritakan segalanya,kini menjadi teman biasa yang ketika bertemu kita hanya menyuguhkan sedikit senyuman.

Mesjid yang dulunya tampak ramai, sekarang secara berangsur-angsur mulai sepi, dimana tanggung jawab kita untuk memakmurkan mesjid? bukannya Allah telah menjanjikan pahalanya bagi mereka yang memakmurkan mesjid.

Kebiasaan masyarakat kita yang dulunya berbondong-bondong ke masjid kini telah terkikis secara perlahan-lahan tergantikan dengan kebiasaan buruk di kalangan masyarakat dengan mengutamakan duduk di warung kopi. [Lara Musmita Sari]/Rzk
Akhi, Beratkah Langkahmu Menuju ke Masjid? Akhi, Beratkah Langkahmu Menuju  ke Masjid? Reviewed by WASATHA on Mei 16, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.