Iklan

Iklan

Transformasi Manajemen Dakwah di Era Digital: Strategi Menjangkau Generasi Z

10/21/26, 14:21 WIB Last Updated 2026-10-21T07:21:25Z


PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat, termasuk dalam penyampaian pesan-pesan keislaman. Kehadiran media sosial dan berbagai platform digital kini menjadi peluang bagi lembaga dakwah untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas, khususnya Generasi Z yang memiliki kedekatan kuat dengan teknologi.


Perubahan tersebut mendorong perlunya transformasi dalam manajemen dakwah. Lembaga dakwah tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional, tetapi perlu mengembangkan strategi komunikasi yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan karakter generasi muda.


Hal tersebut turut menjadi sorotan Arif Kurniawan, mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan ruang yang sangat luas bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami nilai-nilai Islam melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.


«“Menurut saya, media digital sekarang menjadi salah satu ruang yang sangat potensial untuk berdakwah kepada Generasi Z. Mereka menghabiskan banyak waktu di media sosial, sehingga pesan dakwah juga perlu hadir di ruang yang mereka gunakan sehari-hari,” ujar Arif Kurniawan.»


Dakwah di Tengah Perubahan Pola Komunikasi

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui media sosial, mesin pencari, maupun berbagai platform berbagi video.


Kondisi tersebut membuat lembaga dakwah perlu memahami perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Pesan dakwah yang sebelumnya disampaikan melalui ceramah atau pengajian secara langsung kini dapat dikembangkan dalam berbagai format digital, seperti video pendek, podcast, infografis, artikel, hingga siaran langsung.


Arif menilai perubahan media dakwah tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap metode dakwah konvensional.


“Dakwah secara langsung tetap penting. Tetapi media digital bisa menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan. Satu materi dakwah yang disampaikan secara langsung mungkin hanya menjangkau orang-orang yang hadir, sedangkan ketika dikemas menjadi konten digital, jangkauannya bisa jauh lebih luas,” katanya.


Kreativitas Menjadi Kunci

Menurut Arif, salah satu tantangan dakwah digital adalah bagaimana menyampaikan pesan keislaman dengan cara yang menarik tanpa menghilangkan substansinya.


Generasi Z cenderung menyukai konten yang singkat, visual, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, lembaga dakwah perlu mengembangkan kreativitas dalam mengemas materi.


“Bukan berarti pesan dakwah harus dibuat hanya untuk mengikuti tren. Substansi tetap menjadi yang utama. Tetapi cara menyampaikannya perlu menyesuaikan dengan karakter audiens,” ujar Arif.


Ia mencontohkan sejumlah tema yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti pendidikan, pergaulan, kesehatan mental, keluarga, karier, etika bermedia sosial, serta persoalan kehidupan mahasiswa. Tema-tema tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan nilai-nilai Islam secara kontekstual.


Strategi Manajemen Dakwah di Era Digital

Transformasi dakwah digital membutuhkan manajemen yang baik. Menurut Arif, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperhatikan lembaga dakwah dalam mengembangkan strategi digital.


Pertama, lembaga dakwah perlu mengetahui siapa sasaran dakwahnya. Pemahaman terhadap karakteristik audiens akan membantu menentukan jenis materi, bahasa, serta media yang digunakan.


Kedua, diperlukan perencanaan konten yang terstruktur. Konten dakwah sebaiknya tidak dibuat secara spontan tanpa arah, tetapi memiliki tujuan, tema, jadwal, dan target audiens yang jelas.


Ketiga, lembaga dakwah perlu memanfaatkan beragam platform digital sesuai dengan karakter masing-masing. Video pendek, podcast, artikel, dan konten visual dapat digunakan secara bersamaan dengan strategi yang berbeda.


Keempat, diperlukan kolaborasi dengan generasi muda. Mahasiswa dan anak muda dapat dilibatkan sebagai kreator konten, pengelola media sosial, maupun tim komunikasi lembaga dakwah.


“Generasi muda jangan hanya dijadikan sasaran dakwah, tetapi juga dilibatkan dalam prosesnya. Mereka memahami bahasa dan kebiasaan generasinya sendiri,” kata Arif.


Peran Mahasiswa Manajemen Dakwah

Sebagai mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Arif melihat perkembangan teknologi sebagai tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi.


Menurutnya, mahasiswa Manajemen Dakwah perlu memiliki kemampuan yang lebih luas. Selain memahami ilmu dakwah dan manajemen organisasi, mahasiswa juga perlu memiliki literasi digital serta kemampuan komunikasi.


“Mahasiswa Manajemen Dakwah harus mampu beradaptasi. Kita tidak hanya belajar bagaimana mengelola kegiatan dakwah secara konvensional, tetapi juga perlu memahami bagaimana dakwah dikelola di ruang digital,” tuturnya.


Kemampuan tersebut dapat mencakup pengelolaan media sosial, produksi konten, komunikasi publik, perencanaan program, hingga evaluasi efektivitas dakwah melalui data dan respons audiens.


Tantangan Etika Dakwah Digital

Di tengah kemudahan penyebaran informasi, dakwah digital juga menghadapi tantangan berupa penyebaran informasi keagamaan yang belum tentu benar atau dapat dipertanggungjawabkan.


Arif menilai lembaga dan pelaku dakwah harus memiliki tanggung jawab dalam memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat berasal dari sumber yang dapat dipercaya.


“Di media sosial, informasi bisa menyebar sangat cepat. Karena itu, seorang yang menyampaikan pesan dakwah harus berhati-hati. Jangan sampai karena ingin cepat viral, justru menyampaikan informasi yang tidak jelas sumbernya,” maka dari itu kita harus benar- benar memastikan apa yang kita sampaikan jelas dan sesuai dengan dalil.


Selain akurasi informasi, etika komunikasi juga menjadi bagian penting. Dakwah di ruang digital perlu mengedepankan bahasa yang santun, tidak provokatif, serta mampu menciptakan ruang dialog yang sehat.


Menuju Dakwah yang Adaptif dan Inovatif

Transformasi digital pada dasarnya bukan sekadar memindahkan kegiatan dakwah dari ruang fisik ke media sosial. Lebih dari itu, transformasi membutuhkan perubahan dalam cara lembaga dakwah melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi program.


Bagi Arif, dakwah yang mampu mengikuti perkembangan zaman adalah dakwah yang tetap berpegang pada nilai-nilai Islam sekaligus terbuka terhadap perkembangan teknologi.


“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana alat tersebut digunakan untuk menyampaikan kebaikan. Kalau dikelola dengan baik, media digital bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyebarkan pesan Islam kepada generasi muda,” ungkapnya.


Perkembangan teknologi digital dengan demikian menjadi momentum bagi lembaga dakwah untuk melakukan inovasi. Generasi Z tidak hanya menjadi sasaran komunikasi, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam ekosistem dakwah digital. 


Bagi mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu menjadi generasi pengelola dakwah yang profesional, kreatif, adaptif, dan memahami perkembangan masyarakat digital.



[Arif Kurniawan ]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Transformasi Manajemen Dakwah di Era Digital: Strategi Menjangkau Generasi Z

Terkini

Topik Populer

Iklan