Jalan
rusak dan tergenang air di Lorong T. Diblang II, Banda Aceh.
BANDA ACEH, 21 Oktober
2026 — Kondisi jalan di Lorong T. Diblang II, tepatnya di depan Masjid Fadhun
Qorib, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dikeluhkan warga karena mengalami kerusakan
parah dan kerap tergenang air saat hujan. Kondisi tersebut paling dirasakan oleh
mahasiswa yang berjalan kaki, terutama mereka yang tinggal di rumah kos di
kawasan itu dan harus melewati jalan tersebut setiap hari untuk beraktivitas.
Lorong T. Diblang II
merupakan salah satu kawasan tempat tinggal mahasiswa karena lokasinya yang berdekatan
dengan kampus UIN Ar-Raniry. Banyaknya rumah kos di sepanjang lorong menjadikan
jalan tersebut sebagai akses penting bagi mahasiswa untuk berangkat kuliah
maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, kondisi jalan yang
rusak dan tidak memiliki saluran drainase yang memadai menjadi persoalan
serius, terutama ketika hujan deras turun. Air hujan menggenangi permukaan
jalan dan menyulitkan mahasiswa yang berjalan kaki untuk melintas. Kondisi ini
membuat perjalanan menuju kampus maupun aktivitas lainnya menjadi kurang
nyaman.
Salah seorang mahasiswa
yang tinggal di kawasan tersebut, Raihan, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan
telah menyulitkan aktivitas warga, khususnya mahasiswa yang tidak memiliki
kendaraan pribadi.
“Kondisi jalannya hancur
parah, dan yang paling merasakan itu warga, apalagi mahasiswa. Kita semua tahu
di sini banyak sekali mahasiswa, dan banyak juga mahasiswa yang tidak punya
kendaraan, jadi ke mana-mana ya jalan kaki, lewat jalan yang rusak begini,”
ujar Raihan.
Menurutnya, persoalan tersebut
semakin menyulitkan ketika musim hujan tiba. Tidak adanya saluran drainase
menyebabkan air hujan menggenang di jalan dan menghambat akses warga. Bahkan,
genangan air disebut dapat bertahan selama berhari-hari.
“Belum lagi kalau musim hujan. Drainase tidak ada, jadi air tidak ke mana-mana dan menggenang berhari-hari. Sudah jalan hancur, ditambah genangan, lengkap sudah penderitaan warga,” katanya.
Kondisi tersebut tidak
hanya berdampak pada pejalan kaki, tetapi juga menyulitkan pengendara sepeda
motor yang melintasi jalan itu. Permukaan jalan yang rusak dan tertutup
genangan air membuat pengendara harus lebih berhati-hati untuk menghindari
lubang maupun permukaan jalan yang tidak rata.
Selain itu, jalan yang
relatif sempit juga kerap dilalui kendaraan roda empat. Perpaduan antara
kondisi jalan yang rusak, genangan air, dan keterbatasan lebar jalan membuat
kendaraan harus melintas dengan hati-hati, terutama ketika berpapasan dengan
kendaraan lain maupun pejalan kaki.
Meski demikian, mahasiswa
yang berjalan kaki menjadi kelompok yang paling merasakan dampak langsung.
Mereka harus melewati kondisi jalan tersebut setiap hari tanpa banyak pilihan,
terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan tinggal di
rumah kos di sepanjang lorong.
Raihan turut
mempertanyakan perhatian pemerintah dan pihak terkait terhadap kondisi jalan
yang menurutnya telah lama mengalami kerusakan. Ia berharap adanya tindakan nyata
untuk memperbaiki jalan sekaligus membangun sistem drainase yang memadai.
“Pemerintah terkait ke
mana? Jalan ini bukan rusak sehari dua hari, tapi dibiarkan begitu saja. Jangan
terus menutup mata. Saya sebagai salah satu mahasiswa yang merasakan langsung
dampaknya meminta pemerintah segera turun tangan, perbaiki jalannya, buatkan
drainasenya. Jangan lagi ada pembiaran untuk jalan-jalan Gampong yang rusak
parah,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak berwenang segera meninjau kondisi jalan di Lorong T. Diblang II agar kerusakan dan persoalan genangan air tidak terus menghambat aktivitas masyarakat. Perbaikan jalan dan pembangunan drainase dinilai penting untuk memberikan akses yang lebih aman dan nyaman bagi mahasiswa maupun warga setempat.
Permukaan jalan berlubang dan tergenang air membuat pengendara harus berhati-hati.
[Habib Al Rasyd]


