BANDA ACEH — Di tengah pesona pesisir Ulee Lheue, Banda Aceh, sebuah kapal tua tampak terdiam di antara bebatuan dan tepian laut. Catnya mulai pudar, bagian badan kapal terlihat berkarat, sementara beberapa bagian bangunannya tampak telah dimakan usia.[ 4 Oktober 2026]
Bagi sebagian orang, kapal tersebut mungkin hanya dianggap sebagai benda tua yang sudah tidak digunakan. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, keberadaannya menghadirkan sebuah pemandangan yang berbeda seolah membawa kita untuk membayangkan kembali masa ketika kapal itu masih bergerak di atas laut.
Kini, laut tetap beriak seperti biasa. Angin masih berembus dari arah pesisir dan aktivitas masyarakat terus berlangsung. Sementara itu, kapal tersebut tetap berada di tempatnya, menjadi bagian dari lanskap Ulee Lheue yang terus mengalami perubahan.
Yoga Arif Fauzi memberitahu :Dari alat transportasi menjadi saksi bisu. Perubahan kondisi kapal memperlihatkan bagaimana waktu perlahan meninggalkan jejak pada benda-benda yang pernah memiliki fungsi penting.
Kapal tua itu juga menghadirkan sisi lain Ulee Lheue. Di satu sisi, kawasan ini dikenal dengan panorama laut dan pegunungannya yang indah. Di sisi lain, terdapat benda-benda lama yang menyimpan nilai visual dan cerita tersendiri bagi masyarakat.
Keberadaannya tentu mengundang rasa penasaran: Sudah berapa lama kapal itu berada di sana? Ke mana pernah berlayar? Siapa yang pernah menggunakannya? Dan cerita apa yang tersimpan di balik tubuhnya yang kini mulai lapuk?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab dari sekadar melihatnya. Namun justru di situlah daya tarik kapal tua ini. Diamnya seakan mengundang siapa pun yang melihat untuk berhenti sejenak dan membayangkan kisah yang pernah dilaluinya.
Di tengah perubahan wajah Ulee Lheue, kapal tua itu akhirnya bukan sekadar benda yang terbengkalai. Ia menjadi pengingat bahwa setiap tempat memiliki cerita, dan setiap benda yang ditinggalkan mungkin pernah menjadi bagian penting dari perjalanan manusia.
Kini kapal itu memang tidak lagi berlayar. Tetapi di Ulee Lheue, ia masih memiliki satu perjalanan terakhir: menjadi saksi bisu dari waktu yang terus berjalan.
( YOGA ARIF FAUZI)
