SETIAP manusia pada dasarnya hidup dalam organisasi. Ketika berada di rumah, seseorang menjadi bagian dari organisasi keluarga. Ketika memasuki kampus, ia menjadi bagian dari organisasi pendidikan. Ketika mengikuti organisasi mahasiswa, komunitas, lembaga dakwah, perusahaan, media, atau instansi pemerintahan, ia kembali berhadapan dengan struktur organisasi yang memiliki tujuan, aturan, pembagian tugas, kepemimpinan, dan hubungan antaranggota.
Namun, ada satu hal yang selalu hadir dalam seluruh aktivitas tersebut: komunikasi.
Ketika seorang ketua
memberikan arahan kepada anggota, terjadi komunikasi. Ketika dosen memberikan
tugas kepada mahasiswa, terjadi komunikasi. Ketika mahasiswa berdiskusi dalam
kelompok, terjadi komunikasi. Ketika pimpinan menerima laporan dari bawahannya,
terjadi komunikasi. Bahkan ketika seorang anggota memilih diam dalam rapat,
diam tersebut dapat menjadi bagian dari proses komunikasi karena memiliki makna
dalam konteks tertentu.
Karena itu, organisasi dan
komunikasi tidak dapat dipisahkan. Organisasi membutuhkan komunikasi untuk
mengoordinasikan pekerjaan, menyampaikan informasi, membangun hubungan,
mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, mempertahankan budaya, dan mencapai
tujuan bersama.
Katherine Miller menjelaskan
bahwa organisasi dapat dipahami sebagai kolektivitas sosial yang aktivitasnya
dikoordinasikan untuk mencapai tujuan individual maupun kolektif. Karena itu,
komunikasi organisasi berkaitan dengan bagaimana konteks organisasi memengaruhi
proses komunikasi sekaligus bagaimana komunikasi membentuk perilaku dan
kehidupan organisasi.
Dengan kata lain, memahami
organisasi berarti memahami bagaimana manusia berkomunikasi di dalamnya.
Pengertian Komunikasi
Sebelum memahami komunikasi organisasi, mahasiswa perlu memahami
terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi.
Secara sederhana, komunikasi
dapat dipahami sebagai proses pertukaran pesan dan pembentukan makna antara
manusia. Dalam komunikasi terdapat pihak yang menyampaikan pesan, pesan
yang disampaikan, saluran atau media yang digunakan, pihak yang menerima pesan,
serta respons atau umpan balik terhadap pesan tersebut.
Namun, komunikasi tidak sesederhana memindahkan informasi dari satu
orang kepada orang lain. Misalnya,
seorang dosen mengatakan kepada mahasiswa:
“Besok tugas dikumpulkan.”
Secara sederhana pesan
tersebut terlihat jelas. Tetapi mahasiswa mungkin memiliki interpretasi
berbeda. Apakah dikumpulkan pukul 08.00? Apakah melalui WhatsApp? Apakah
melalui LMS? Apakah tugas individu atau kelompok?
Artinya, pesan belum tentu menghasilkan pemahaman yang sama.
Komunikasi selalu melibatkan proses pemberian dan penafsiran makna.
Karena itu, komunikasi bukan
sekadar berbicara. Komunikasi juga mencakup bagaimana seseorang mendengarkan,
membaca, menafsirkan, memberikan respons, menggunakan bahasa tubuh, memilih
media, dan menyesuaikan pesan dengan situasi.
Dalam organisasi, persoalan
ini menjadi semakin penting karena komunikasi tidak berlangsung antara dua
orang saja. Komunikasi berlangsung di antara banyak individu, kelompok, unit
kerja, dan tingkatan struktural.
Pengertian
Organisasi
Sebelum membahas komunikasi organisasi, kita perlu menjawab pertanyaan
sederhana:
Apa itu organisasi? Organisasi bukan sekadar kumpulan orang. Sekumpulan orang yang sedang antre di kantin belum tentu dapat disebut organisasi. Demikian pula sekumpulan orang yang berada di dalam satu ruangan belum tentu merupakan organisasi.
Organisasi memiliki
karakteristik tertentu. Secara konseptual, organisasi dapat dipahami sebagai sekumpulan
orang yang bekerja secara terkoordinasi, memiliki tujuan tertentu, memiliki
struktur atau pola hubungan, serta berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Miller mengidentifikasi
sejumlah karakteristik penting organisasi, antara lain adanya kolektivitas
sosial, tujuan individual dan organisasi, aktivitas yang terkoordinasi,
struktur organisasi, serta keterhubungan organisasi dengan lingkungan.
Contohnya adalah universitas.
Universitas memiliki:
- pimpinan;
- dosen;
- tenaga kependidikan;
- mahasiswa;
- fakultas;
- program studi;
- aturan;
- pembagian kerja;
- tujuan pendidikan;
- sistem administrasi;
- serta hubungan dengan masyarakat dan lingkungan eksternal.
Semua unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka saling berhubungan.
Dekan tidak dapat bekerja
sendiri. Ketua program studi membutuhkan dosen dan tenaga kependidikan. Dosen
membutuhkan mahasiswa. Mahasiswa membutuhkan layanan akademik. Bagian
administrasi membutuhkan informasi dari unit lain.
Di sinilah komunikasi menjadi penting. Koordinasi tidak mungkin berlangsung tanpa komunikasi. []
