![]() |
| Kru Ar-Raniry TV. (Foto: Ist). |
Banda Aceh - Ar-Raniry TV, media televisi di bawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, memperkuat manajemen keredaksian melalui rapat kerja perdana tahun 2026. Penguatan tersebut ditandai dengan penyusunan struktur kepengurusan baru, pemetaan alur kerja redaksi, serta penetapan sejumlah program kerja untuk meningkatkan produktivitas media.
Rapat kerja yang digelar Sabtu (5/9/2026) itu dipimpin Direktur Ar-Raniry TV, Arif Ramdan, dan dihadiri unsur redaksi serta kru Ar-Raniry TV.
Dalam arahannya, Arif Ramdan menekankan pentingnya membangun alur kerja redaksi yang lebih efektif, mulai dari perencanaan liputan, proses produksi hingga distribusi konten. Menurutnya, penguatan manajemen diperlukan agar Ar-Raniry TV mampu bergerak lebih cepat dalam merespons berbagai dinamika informasi, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
“Dalam waktu dekat, beberapa hal yang menjadi perhatian redaksi antara lain flash news, liputan lapangan, podcast, serta optimalisasi media sosial Ar-Raniry TV,” ujar Arif.
Ia mengatakan, perkembangan ekosistem media saat ini menuntut lembaga penyiaran kampus tidak hanya menghasilkan konten secara rutin, tetapi juga mampu menghadirkan informasi yang cepat, relevan dan menarik bagi audiens.
Menurutnya, posisi Ar-Raniry TV memiliki keunggulan tersendiri karena tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi laboratorium jurnalistik bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta mahasiswa program studi lainnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
“Karena Ar-Raniry TV juga menjadi laboratorium jurnalistik bagi mahasiswa Prodi KPI dan prodi lain di Fakultas Dakwah, maka keberadaannya harus lebih terdepan sebagai wadah praktikum dan kreativitas mahasiswa,” katanya.
Arif juga menekankan pentingnya membangun sistem kerja redaksi yang tidak bergantung pada individu tertentu. Menurutnya, keberlangsungan produksi media harus tetap berjalan meskipun terdapat anggota kru yang berhalangan atau tidak dapat menyelesaikan tugas peliputan.
“Kerja redaksi tidak boleh berhenti hanya karena seseorang tidak bisa atau tidak sempat menyelesaikan hasil liputan. Dalam organisasi tidak ada orang yang tidak tergantikan, termasuk di jajaran redaksi,” ujarnya.
Ia menilai, sistem kerja yang kuat harus mampu menciptakan regenerasi sekaligus membuka ruang bagi kru lain untuk mengambil peran dan mengembangkan kemampuan.
“Kita tidak boleh tergantung kepada orang lain yang tidak lagi maksimal dalam kinerja keredaksian. Akan selalu ada yang terbaik dan bisa bersinergi untuk menjadikan Ar-Raniry TV lebih responsif serta mampu memberikan informasi terkini,” katanya.
Sementara itu, Manajer Operasional Ar-Raniry TV, Rendy, menilai penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan media kampus. Karena itu, redaksi perlu secara berkelanjutan melakukan pelatihan dan pengkaderan bagi kru.
Pelatihan tersebut mencakup berbagai bidang produksi, mulai dari kameramen, operator, host, presenter hingga editor. Menurutnya, proses tersebut diperlukan agar Ar-Raniry TV memiliki regenerasi kru yang berkesinambungan dan mampu menjawab kebutuhan produksi media yang terus berkembang.
“Redaksi perlu terus berbenah melalui pelatihan dan pengkaderan, sehingga setiap posisi memiliki estafet yang berkesinambungan,” ujarnya.
Dalam rapat kerja tersebut, jajaran Ar-Raniry TV juga menetapkan sejumlah program kerja redaksi yang akan dilaksanakan ke depan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produksi berita, konten jurnalistik dan program kreatif yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan audiens.
Pada kesempatan yang sama, Ar-Raniry TV secara resmi meluncurkan tagline terbaru, yaitu "Responsif dan Informatif.” []
