Banda Aceh - Rupiah sebagai mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang mengalami penurunan yang sangat pesat dan menjadi perbincangan masyarakat indonesia raya, pada kamis 4 juni 2026 nilai tukar mencapai 18,000 per dolar AS.
Pada pembukaan pasar dan perdagangan pagi itu, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp18.015 hingga Rp18.024 per dolar AS. Tren pelemahan tersebut berlanjut pada hari-hari berikutnya hingga menyentuh level Rp18.057 per dolar AS pada Kamis (5/6/2026).
Pelemahan nilai tukar Rupiah (IDR) turut dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Kairo. Sejak April hingga Juni, Rupiah terhadap Pound Mesir (EGP) melemah sekitar 19,4 persen, dari kisaran 0,0036 EGP menjadi 0,0029 EGP per Rupiah. Akibatnya, uang Rp1 juta yang sebelumnya dapat ditukar menjadi sekitar 3.600 EGP kini hanya bernilai sekitar 2.800 EGP, sehingga daya beli mahasiswa ikut menurun.
Dampak tersebut juga dirasakan oleh mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di sana, perubahan yang sangat signifikan pada kehidupan sehari-hari dan juga mengalami penurunan daya beli terhadap para perantau asal Indonesia yang ada di Kairo, banyak dari mereka memilih untuk berhemat dan terdapat pula banyak dari masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) ini mulai bekerja agar bisa bertahan hidup di mesir.
Hal ini juga di sampai oleh M. Dzaki Raif sebagai salah satu mahasiswa Universitas Al- Azhar Kairo asal Aceh, ia menyampaikan mengalami kesulitan selama Rupiah semakin anjlok, mulai sewa tempat tinggal yang harganya semakin naik hingga biaya transportasi umum juga terkena imbasnya.
" Bagi mahasiswa Indonesia di Kairo, kondisi ini cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dari kami yang harus menghadapi tantangan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan hidup akibat melemahnya nilai tukar Rupiah. Sedangkan mahasiswa dari beberapa negara tetangga tampaknya tidak merasakan dampak yang sama karena mata uang negara mereka cukup aman" ujarnya.
Selain itu, harga bahan pokok seperti beras dan telur juga mengalami kenaikan. Padahal, kebutuhan pangan menjadi hal penting bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan dan stamina selama menjalani perkuliahan. Kondisi ini membuat mahasiswa harus lebih cermat mengatur pengeluaran di tengah tekanan ekonomi yang ada.
Harapan besar juga disampaikan oleh Nafal Afnan, mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, terkait kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Ia berharap pemerintah dapat lebih fokus dalam menjalankan program-program unggulan sesuai dengan tingkat urgensi dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan yang tepat sasaran akan mampu meningkatkan kembali kepercayaan investor terhadap Indonesia serta memperkuat nilai tukar rupiah agar kembali berada pada posisi yang stabil dan semestinya.
'' Besar harapan saya sebagai mahasiswa Indonesia yang di luar negeri, pastinya berharap kepada pemerintah agar memfokuskan program unggulan dengan tepat dan sesuai urgensi nya sehingga kepercayaan investor dan rupiah kembali berada di tempat yang semestinya'' pungkas nya. [Aura Sura Aini]
