Iklan

Iklan

Ketika Hujatan Menjadi Hiburan di Media Sosial

5/06/26, 19:54 WIB Last Updated 2026-05-06T12:54:26Z


Tidak semua orang membuat konten untuk disukai. Sebagian justru viral karena dihujat.


Yang lebih aneh, hujatan itu dinikmati.


Kolom komentar berubah jadi arena: siapa paling pedas, paling sarkastik, paling “kena”, akan paling banyak disukai. Di sana, seseorang tidak lagi dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai bahan tontonan.


Kita sering menganggap ini sekadar dinamika media sosial. Padahal, ada yang lebih dalam sedang berubah: cara kita merespons orang lain.


Bukan lagi soal setuju atau tidak setuju, tetapi soal bagaimana reaksi bisa menjadi hiburan.


Kesalahan kecil dibesar-besarkan. Klarifikasi kalah cepat dari tuduhan. Dan di tengah arus itu, empati pelan-pelan tersingkir.


Yang mengkhawatirkan, kekerasan verbal ini jarang terasa sebagai kekerasan. Ia dibungkus candaan, sarkasme, atau dalih “cuma opini”. Padahal dampaknya nyata. Satu komentar mungkin terlihat sepele, tapi ribuan komentar serupa menciptakan tekanan yang tidak ringan.


Masalahnya, karena terjadi di ruang digital, kita merasa tidak benar-benar terlibat.


Di sinilah pergeserannya terjadi.


Dulu, menghakimi orang lain membutuhkan keberanian. Sekarang, cukup mengetik. Tidak perlu mengenal, tidak perlu memahami konteks, bahkan tidak perlu memikirkan dampaknya. Anonimitas dan jarak membuat batas itu hilang.


Kita bisa terlihat biasa saja di dunia nyata, tapi berubah sangat tajam di layar.


Lebih jauh lagi, ada semacam legitimasi sosial. Ketika banyak orang melakukan hal yang sama, tindakan itu terasa wajar. Jika satu orang menghujat, mungkin masih terasa berlebihan. Tapi jika ribuan orang melakukan hal yang sama, ia berubah menjadi “normal”.


Dari sini, empati tidak hilang sekaligus—ia terkikis perlahan.


Pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: kenapa kita menikmati ini?


Mungkin jawabannya tidak nyaman. Drama memberi sensasi. Ada rasa keterlibatan. Ada posisi sebagai “penonton yang tahu”. Bahkan, kadang ada kepuasan melihat orang lain berada di posisi yang lebih buruk.


Di titik itu, kita tidak lagi sekadar menonton—kita ikut ambil bagian.


Masalahnya, ketika ini terus dibiarkan, standar interaksi ikut berubah. Kita jadi terbiasa dengan nada kasar, cepat menghakimi, dan sulit menahan diri untuk tidak ikut berkomentar. Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi perlahan berubah menjadi ruang yang melelahkan—bahkan tidak aman.


Bukan berarti kritik harus dihilangkan. Kritik tetap penting.


Tapi ada batas yang jelas.


Kritik membuka ruang diskusi.

Hujatan menutupnya.


Kritik berangkat dari argumen.

Hujatan sering kali hanya dorongan emosi.


Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah empati benar-benar hilang, tetapi seberapa sering kita memilih untuk tidak menggunakannya.


Karena dalam banyak kasus, kita sebenarnya tahu mana yang berlebihan—kita hanya memilih untuk tetap ikut.


Mungkin yang perlu diingat sederhana: di balik setiap konten, ada manusia.


Bukan karakter.

Bukan objek hiburan.

Bukan sekadar nama di layar.


Dan cara kita merespons mereka, pada akhirnya, lebih mencerminkan siapa kita—daripada siapa yang sedang kita komentari. [Miftahul Jannah]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ketika Hujatan Menjadi Hiburan di Media Sosial

Terkini

Topik Populer

Iklan