Di awal bulan, semuanya terasa aman. Uang bulanan baru masuk, rencana pengeluaran sudah disusun—mulai dari makan, transportasi, hingga kebutuhan kuliah. Namun, belum juga memasuki pertengahan bulan, saldo tiba-tiba menipis. Bahkan tak sedikit mahasiswa yang harus “bertahan” hingga kiriman berikutnya dengan sisa uang yang nyaris nol.
Fenomena ini bukan hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, persoalan keuangan mahasiswa menjadi lebih kompleks. Jika dulu kekurangan uang sering dikaitkan dengan minimnya pemasukan, kini ada faktor lain yang tak kalah berpengaruh: gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial dari media digital.
Ketika Uang Bukan Lagi Soal Nominal
Banyak yang mengira masalah keuangan mahasiswa semata-mata soal jumlah uang bulanan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada mahasiswa dengan dana terbatas yang mampu bertahan hingga akhir bulan, sementara yang memiliki uang lebih justru kehabisan lebih cepat.
Artinya, persoalan utama bukan hanya “berapa banyak uang yang dimiliki”, tetapi “bagaimana uang itu digunakan”.
Di sinilah letak persoalan sebenarnya. Mahasiswa berada dalam fase transisi menuju kemandirian finansial, namun tidak semua memiliki literasi keuangan yang memadai. Akibatnya, pengeluaran sering kali tidak terkontrol dan lebih didorong oleh keinginan daripada kebutuhan.
Gaya Hidup Konsumtif yang Terasa Normal
Salah satu penyebab utama adalah gaya hidup konsumtif yang kini semakin dianggap wajar. Membeli kopi di kafe setiap hari, mengikuti tren fashion terbaru, hingga belanja online tanpa perencanaan menjadi bagian dari rutinitas.
Masalahnya, kebiasaan ini perlahan membentuk standar hidup baru yang lebih tinggi dari kebutuhan sebenarnya.
Lingkungan sosial turut memperkuat kondisi ini. Ketika seseorang berada dalam lingkaran pertemanan yang terbiasa hidup konsumtif, perilaku tersebut akan terlihat normal dan layak diikuti. Ditambah dengan paparan media sosial yang menampilkan gaya hidup menarik dan serba instan, dorongan untuk menyesuaikan diri menjadi semakin kuat.
Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur.
Flexing: Tekanan Sosial yang Tak Terlihat
Di sisi lain, media sosial menghadirkan fenomena baru: flexing. Istilah ini merujuk pada perilaku memamerkan kekayaan, gaya hidup, atau pencapaian material di ruang digital.
Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi panggung utama di mana standar sosial baru terbentuk—sering kali tidak realistis.
Psikolog Jean M. Twenge dalam bukunya iGen menjelaskan bahwa generasi yang tumbuh bersama smartphone mengalami tekanan sosial yang lebih intens. Perbandingan sosial tidak lagi terbatas ruang dan waktu, melainkan berlangsung hampir tanpa henti.
Mahasiswa yang melihat teman sebayanya tampil dengan gaya hidup “lebih”—makan di restoran mahal, liburan, atau memakai barang bermerek—cenderung terdorong untuk melakukan hal serupa demi menjaga citra sosial.
Siklus Konsumtif yang Berulang
Kombinasi antara gaya hidup konsumtif dan budaya flexing menciptakan siklus yang berbahaya:
Melihat → Membandingkan → Ingin mengikuti → Membeli → Uang habis → Stres → Mengulang lagi
Siklus ini sering terjadi tanpa disadari. Semakin sering terulang, semakin sulit dihentikan. Dalam beberapa kasus, mahasiswa bahkan mulai mencari jalan pintas seperti meminjam uang atau menggunakan layanan pinjaman online.
Dampak Lebih dari Sekadar Finansial
Dampaknya tidak berhenti pada masalah keuangan. Secara psikologis, tekanan untuk selalu terlihat “cukup” atau “lebih” dapat memicu kecemasan, stres, hingga krisis percaya diri.
Ada dorongan untuk menampilkan kehidupan yang ideal, meskipun tidak sesuai dengan kondisi nyata. Ketika realitas dan citra yang ditampilkan tidak sejalan, muncul konflik batin. Konsumsi pun kerap dijadikan pelarian.
Inilah yang membuat fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Ini bukan sekadar soal boros, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Gaya Hidup atau Flexing?
Lalu, mana yang lebih berpengaruh: gaya hidup atau flexing?
Jawabannya: keduanya tidak bisa dipisahkan.
Flexing menciptakan standar sosial baru, sementara gaya hidup konsumtif menjadi cara untuk mengejar standar tersebut. Keduanya saling memperkuat dan membentuk pola yang sulit diputus.
Cara Keluar dari Lingkaran Ini
Meski kompleks, kondisi ini bukan tanpa solusi. Beberapa langkah sederhana bisa mulai diterapkan:
- Membedakan kebutuhan dan keinginan secara sadar
- Menetapkan batas pengeluaran bulanan
- Mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan sosial
- Fokus pada nilai diri, bukan validasi sosial
- Memahami bahwa mengelola uang adalah keterampilan hidup
Menikmati Hidup Tanpa Tekanan
Menikmati hidup tidak selalu harus mahal atau mengikuti tren. Justru, ketenangan finansial datang ketika seseorang mampu hidup sesuai kemampuannya tanpa tekanan sosial.
Mahasiswa tetap bisa menikmati masa muda tanpa harus terjebak dalam gaya hidup boros. Kuncinya adalah memahami prioritas, mengelola keuangan dengan bijak, dan tidak menjadikan standar orang lain sebagai ukuran hidup.
Pada akhirnya, hidup yang seimbang adalah tentang satu hal sederhana: tetap bahagia hari ini tanpa mengorbankan masa depan. [Maylysa Mustika]
