Pernahkah kamu melihat seseorang di media sosial menjelaskan soal kesehatan, keuangan, atau isu sosial dengan penuh percaya diri—lalu ribuan orang langsung percaya, membagikan, bahkan menjadikannya pegangan?
Padahal, belum tentu orang itu punya kompetensi di bidang tersebut.
Di sisi lain, penjelasan dari ahli yang lebih hati-hati justru sering dilewati. Terlalu panjang. Terlalu rumit. Atau dianggap tidak menarik.
Di titik ini, ada yang berubah dalam cara kita mempercayai informasi.
Media sosial tidak pernah menjanjikan kebenaran. Ia hanya menjanjikan keterlibatan. Apa yang cepat dipahami, mudah dicerna, dan terasa dekat secara emosional akan lebih mudah naik ke permukaan. Dalam situasi seperti ini, influencer berada di posisi strategis—bukan karena mereka selalu paling benar, tetapi karena mereka tahu cara berbicara agar didengar.
Masalahnya, didengar tidak selalu berarti dipahami.
Kita hidup dalam ritme yang serba cepat. Topik yang seharusnya kompleks dipadatkan menjadi video satu menit. Penjelasan yang seharusnya berlapis dipaksa menjadi sederhana. Dalam tuntutan instan seperti ini, penjelasan dari ahli sering terlihat “kalah”—bukan karena keliru, tetapi karena tidak mengikuti tempo yang kita inginkan.
Namun, persoalannya tidak berhenti di situ.
Sebagian ahli juga belum berhasil menjangkau publik. Bahasa yang terlalu teknis dan cara penyampaian yang kaku membuat pengetahuan terasa jauh, seolah hanya milik kalangan tertentu. Di ruang kosong itulah influencer masuk—menyederhanakan, mendekatkan, dan membuat isu terasa relevan.
Sayangnya, penyederhanaan selalu punya batas.
Ketika batas itu dilampaui, yang terjadi bukan lagi pemahaman, melainkan distorsi.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar siapa yang berbicara, tetapi bagaimana kita mendengarkan. Kita mulai terbiasa menerima informasi yang terasa benar, bukan yang benar-benar diuji. Selama seseorang terdengar yakin, memiliki banyak pengikut, dan kontennya menarik, kita cenderung berhenti di sana.
Kita jarang bertanya.
Jarang membandingkan.
Apalagi memverifikasi.
Ini bukan soal kurangnya akses informasi. Justru sebaliknya, kita hidup di tengah kelimpahan informasi. Namun, kelimpahan itu tidak otomatis membuat kita lebih kritis. Kadang, ia justru mendorong kita memilih jalan paling mudah: percaya pada yang paling cepat sampai.
Dampaknya tidak selalu terlihat langsung, tetapi nyata. Kesalahan memahami informasi kesehatan bisa berujung pada keputusan yang keliru. Pemahaman yang salah tentang keuangan dapat memengaruhi kondisi ekonomi pribadi. Bahkan dalam isu sosial, misinformasi mampu membentuk opini publik yang bias dan tidak adil.
Menyalahkan influencer sepenuhnya tentu terlalu sederhana. Mereka bekerja dalam sistem yang memang memberi penghargaan pada perhatian. Selama konten yang cepat dan menarik lebih diapresiasi, maka itulah yang akan terus diproduksi.
Namun, sebagai audiens, kita juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab.
Ada pergeseran kecil yang berdampak besar: dari keinginan untuk memahami menjadi keinginan untuk segera tahu. Dari proses berpikir menjadi sekadar menerima.
Dan jika ini terus berlangsung, yang kita hadapi bukan hanya krisis kepercayaan terhadap ahli, tetapi juga penurunan kualitas cara kita menilai sesuatu.
Di tengah banjir informasi, mungkin masalahnya bukan kita kekurangan pengetahuan—melainkan kita terlalu cepat merasa sudah tahu. [Miftahul Jannah]
